Angka Kelahiran Turun, Pasangan Modern Kejar Aktualisasi Diri

Angka Kelahiran Turun, Pasangan Modern Kejar Aktualisasi Diri

Pandangan masyarakat mengenai pencapaian hidup telah mengalami transformasi besar dalam beberapa dekade terakhir.

Memiliki anak, yang dahulu dianggap sebagai tujuan utama setelah pernikahan, kini mulai bergeser posisinya oleh keinginan individu untuk mengejar aktualisasi diri, baik melalui jenjang pendidikan yang lebih tinggi maupun kemapanan finansial.

“Orang-orang sudah mulai memiliki kesadaran yang tinggi akan kesiapan mental maupun finansial untuk memiliki anak itu sangat penting, sehingga prioritas mereka menjadi bergeser,” tutur pendiri layanan kesehatan mental Cup of Stories, Fitri Jayanthi, M.Psi., Psikolog saat dihubungi pada Senin (2/3/2026).

Menunda punya anak demi aktualisasi diri

Fokus pada hal yang bisa dikontrol

Fitri mengatakan, salah satu alasan utama individu lebih memilih aktualisasi diri adalah aspek kontrol.

“Prioritas untuk lebih fokus pada pengembangan diri terjadi karena ini masih bisa kita kontrol,” ujar dia.

Mengembangkan kemampuan diri atau mengejar karier dianggap sebagai sesuatu yang lebih bisa dikendalikan hasilnya, dibandingkan dengan dinamika membangun keluarga atau membesarkan anak yang penuh ketidakpastian.

Pengembangan diri menjadi prioritas karena dianggap sebagai investasi yang dampaknya bisa dirasakan secara langsung oleh individu tersebut.

Persaingan global dan biaya hidup

Tuntutan ekonomi dan persaingan dunia kerja yang semakin ketat juga memaksa individu untuk terus meningkatkan nilai tawar mereka.

"Biaya hidup yang semakin tinggi, cenderung membuat orang menjadi lebih memfokuskan diri untuk meraih peluang yang lebih besar di pekerjaan," terang Fitri.

Pendidikan tinggi dan keterampilan khusus bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan untuk bertahan di tengah biaya hidup yang terus melonjak setiap tahunnya.

Angka Kelahiran Turun, Pasangan Modern Kejar Aktualisasi Diri

Ilustrasi ibu dan bayinya

Fitri menambahkan bahwa kondisi ekonomi saat ini mendorong orang untuk lebih mengejar peluang karier yang lebih besar.

Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan diri dipandang sebagai jalan satu-satunya untuk meraih kesempatan hidup yang lebih baik di masa depan agar bisa memberikan kesejahteraan yang layak.

“Persaingan yang semakin ketat membuat orang juga menjadi berlomba-lomba untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan diri, agar bisa meraih kesempatan yang lebih baik lagi,” lanjut dia.

Perluasan pola pikir di era digital

Kemudahan akses informasi secara mandiri turut membuka ruang bagi generasi saat ini untuk memahami konsep aktualisasi diri secara lebih luas.

Menurut psikolog klinis dewasa, Adelia Octavia Siswoyo, M.Psi., Psikolog, menjadi orangtua kini bukan lagi satu-satunya cara untuk merasa "lengkap" sebagai pasangan.

“Pola berpikir individu di era saat ini sudah mulai lebih luas karena sudah bisa mengakses hal-hal secara mandiri. Mereka juga punya lebih banyak ruang untuk belajar dan memahami aktualisasi diri,” tutur dia, Senin

Alhasil, banyak individu yang menemukan kepuasan hidup melalui pencapaian pribadi dan kemandirian intelektual.

Adelia mengatakan, pilihan untuk fokus pada diri sendiri sering kali didasari oleh pertimbangan logis mengenai kemampuan mengelola hidup.

Fokus pada pengembangan diri dianggap sebagai langkah yang lebih realistis ketimbang terburu-buru membina rumah tangga dengan anak tanpa persiapan yang mumpuni.

Angka kelahiran di Indonesia menurun

Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan tren penurunan angka kelahiran total atau total fertility rate (TFR) di Indonesia secara tajam.

Berdasarkan data Pusat Statistik (BPS) yang diperbarui pada Maret 2023, dalam rentang waktu hampir lima dekade, terjadi pergeseran besar dalam jumlah rata-rata anak yang dilahirkan oleh perempuan pada usia reproduksinya.

Jika menilik ke belakang pada Sensus Penduduk (SP) 1971, angka TFR Indonesia masih berada di level 5,61. Angka ini terus menyusut secara bertahap hingga mencapai 2,34 pada tahun 2000.

Meskipun sempat mengalami kenaikan tipis menjadi 2,41 pada periode 2010, tren penurunan kembali berlanjut. Melalui data Sensus Penduduk dan Long Form (LF) 2020, angka TFR Indonesia menyentuh titik terendah di level 2,18.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang