Jejak 4G dan Smartphone Disebut Bikin Angka Kelahiran Dunia Anjlok

Anjloknya angka kelahiran atau krisis populasi global kini melaju dengan kecepatan dan jangkauan yang melampaui prediksi.
Di lebih dari dua pertiga dari 195 negara di dunia, rata-rata jumlah anak yang dilahirkan oleh wanita telah jatuh di bawah "tingkat penggantian" (replacement rate) yaitu 2,1.
Angka ini adalah batas mutlak yang dibutuhkan untuk menjaga populasi sebuah negara tetap stabil tanpa mengandalkan imigrasi.
Bahkan di 66 negara, rata-rata jumlah anak per wanita kini lebih mendekati angka satu dibandingkan dua. Di beberapa negara lainnya, angka kelahiran anak yang paling umum saat ini adalah nol.
Lantas, apa biang kerok dari krisis demografi ini? Lewat analisis data dari catatan kependudukan hingga pencarian Google, para peneliti menunjuk smartphone dan teknologi digital sebagai "tersangka" utamanya.
Penurunan angka kelahiran kini tak lagi menjadi kekhawatiran eksklusif bagi negara-negara kaya. Banyak negara berkembang saat ini justru mencatatkan tingkat kesuburan yang lebih rendah dibandingkan negara yang jauh lebih makmur.
Pada tahun 2023, angka kelahiran di Meksiko tercatat merosot hingga berada di bawah level Amerika Serikat untuk pertama kalinya. Kondisi serupa kemudian menyusul di negara lain seperti Brasil, Tunisia, Iran, dan Sri Lanka.
Fenomena ini memicu ancaman baru di tingkat global. Pasalnya, tren penurunan populasi ini memaksa negara-negara berpendapatan rendah dan menengah menjadi tua sebelum mereka sempat menjadi kaya.
Jejak 4G dan runtuhnya kesuburan
Selama beberapa dekade, faktor ekonomi dan mahalnya harga hunian sering dituding sebagai penghalang utama bagi anak muda untuk berkeluarga. Namun, alasan ekonomi tersebut tidak cukup untuk menjelaskan penurunan populasi yang terjadi serempak akhir-akhir ini.
Riset dari Nathan Hudson dan Hernan Moscoso-Boedo di Universitas Cincinnati menyoroti dampak peluncuran jaringan seluler 4G terhadap angka kelahiran di Amerika Serikat dan Inggris.
Hasilnya, jumlah kelahiran ternyata turun paling awal dan paling cepat secara spesifik di wilayah-wilayah yang mendapatkan akses koneksi internet cepat lebih dulu.
Titik balik penurunan angka kelahiran di berbagai negara terbukti selalu bertepatan dengan momen adopsi massal smartphone di pasar lokal mereka. Di Amerika Serikat, Inggris, dan Australia, tren penurunan tajam dimulai sejak tahun 2007.
Kejatuhan populasi yang serupa juga mulai melanda Perancis dan Polandia pada sekitar tahun 2009. Sementara itu, angka kelahiran di Meksiko, Maroko, hingga Indonesia mulai anjlok secara drastis pada kisaran tahun 2012.
Matinya hubungan asmara di era media sosial
Akar masalah dari penyusutan populasi saat ini rupanya bukan sekadar karena pasangan memutuskan untuk memiliki lebih sedikit anak. Masalah utamanya justru terletak pada semakin berkurangnya jumlah pasangan yang berhasil menjalin hubungan asmara.
Kehadiran gadget canggih diyakini telah merombak total cara anak muda menghabiskan waktu. Hal ini memangkas durasi sosialisasi tatap muka secara ekstrem dan pada akhirnya meruntuhkan tingkat kesuburan mereka.
Di Korea Selatan, durasi interaksi sosial secara tatap muka di kalangan dewasa muda bahkan telah terpangkas hingga separuhnya dalam kurun waktu 20 tahun terakhir.
Menurut pakar demografi Lyman Stone, semakin jarang seseorang bersosialisasi di dunia nyata, maka semakin lama pula waktu yang dibutuhkan untuk menemukan pasangan hidup.
Selain itu, platform media sosial, seperti Instagram dan TikTok turut menciptakan standar yang artifisial soal hubungan. Aplikasi tersebut secara drastis meningkatkan ekspektasi perempuan muda yang pada akhirnya membuat kaum pria merasa tidak siap.
Bukan sekadar faktor ekonomi
Yang menarik, mayoritas laki-laki dan perempuan sejatinya masih melaporkan keinginan untuk memiliki sekitar dua anak dalam hidup mereka. Sayangnya, impian tersebut terhalang oleh rasa frustrasi dari gaya hidup modern akibat kehadiran gadget di saku mereka.
Oleh karena itu, insentif finansial dari pemerintah seperti program "bonus bayi" mungkin tak lagi relevan jika semakin banyak kelompok masyarakat yang sekadar kesulitan mendapat pasangan.
Tantangan terbesarnya kini bukanlah sekadar masalah ekonomi, melainkan upaya untuk menyatukan kembali generasi muda yang terisolasi serta mengubah kebiasaan digital mereka, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari The Financial Times, Jumat (29/5/2026).
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang