Mantan Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad Tewas dalam Serangan Gabungan AS-Israel
Mantan presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad dilaporkan tewas dalam serangan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran, menurut media pemerintah Iran.
Laporan menyebutkan bahwa pria berusia 69 tahun itu meninggal dunia di kawasan Narmak, Teheran timur, setelah wilayah tersebut beberapa kali digempur pada hari pertama serangan. Serangan itu juga dikabarkan menewaskan Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran, demikian seperti melansir laman The Telegraph, Senin 2 Maret 2026.
Namun, sejumlah kanal Telegram di Iran mengunggah pernyataan yang disebut berasal dari Ahmadinejad setelah kabar kematiannya beredar. Dalam pernyataan tersebut, ia mengecam “agresi” Amerika Serikat dan Israel menimbulkan dugaan bahwa ia sebenarnya masih hidup.
Berita yang saling bertentangan ini tidak dapat diverifikasi secara independen karena hampir seluruh akses internet di Iran mengalami pemadaman. Meski demikian, media pemerintah tidak mengubah laporan awal mengenai kematian Ahmadinejad.
Ahmadinejad, yang dikenal sebagai pemimpin populis, menjalani dua periode pemerintahan penuh gejolak dari 2005 hingga 2013. Pada masa itu, Iran terpuruk akibat sanksi Barat.
Ia juga memimpin penindasan keras terhadap demonstrasi Gerakan Hijau pada 2009 dan membawa Iran ke dalam ketegangan berkepanjangan dengan Barat terkait program nuklirnya. Ia pernah menyebut sanksi Amerika Serikat sebagai “kertas tak berharga”, meskipun dampaknya sangat membebani rakyat Iran.
Setelah tidak lagi menjabat, Ahmadinejad mulai mengambil jarak dari sistem yang sebelumnya ia dukung. Ia kerap mengkritik praktik korupsi, menyerukan pembebasan tahanan politik, serta mempertanyakan legitimasi struktur kekuasaan di Iran.
Sebagai informasi, serangan udara ke Iran terus berlanjut pada hari Minggu. Sebagai balasan, Teheran meluncurkan rudal dan drone ke Israel serta sejumlah negara Teluk.
Beberapa hotel dan sebuah pangkalan angkatan laut Prancis menjadi sasaran di Abu Dhabi. Sebuah stasiun radar berteknologi tinggi di Bahrain juga dilaporkan terkena serangan.
Sedikitnya 66 rudal ditembakkan ke Qatar, lokasi pangkalan militer terbesar Amerika Serikat di kawasan tersebut. Sebanyak 16 orang dilaporkan mengalami luka akibat serpihan ledakan yang berjatuhan.
Menurut otoritas Iran, hingga Sabtu tercatat 201 orang tewas dan 747 lainnya luka-luka di 24 provinsi akibat rangkaian serangan tersebut.