Jejak Karier Juda Agung yang Dilantik Jadi Wakil Menteri Keuangan: Lama di BI, Pernah Jadi Petinggi IMF
Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Juda Agung sebagai Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) melanjutkan sisa masa jabatan Kabinet Merah Putih periode 2024–2029.
Pelantikan Juda berlangsung di Istana Negara, Jakarta, Kamis (5/2/2026) sore bersamaan dengan pengambilan sumpah Adies Kadir sebagai Hakim Mahkamah Konstitusi (MK).
"Demi Allah saya bersumpah, bahwa saya, akan setia kepada Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta akan menjalankan segala peraturan perundang-undangan dengan selurus-lurusnya demi dharma bakti saya kepada bangsa dan negara," kata Juda saat mengucapkan sumpah, dikutip dari Antara, Kamis.
Juda menggantikan Thomas Djiwandono yang ditunjuk menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI).
Sebelumnya, Thomas menjabat sebagai Wamenkeu sejak Kamis (18/7/2024) di masa pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) masih menjabat.
Ini artinya, Thomas dan Juda saling bertukar posisi sebagai Wamenkeu dan Deputi Gubernur BI.
Lalu, seperti apa jejak karier Juda Agung yang dilantik menjadi Wamenkeu?
Jejak Karier Juda Agung
Juda Agung lahir di Pontianak, Kalimantan Barat. Meski dikenal sebagai ekonom, latar belakang pendidikan awalnya berasal dari bidang teknologi.
Dilansir dari Antara, Kamis (5/2/2026), ia menyelesaikan pendidikan sarjana di Institut Pertanian Bogor (IPB) pada 1987 dengan jurusan Teknologi Pertanian.
Ketertarikannya pada ekonomi dan keuangan kemudian mengantarkannya melanjutkan studi ke Inggris.
Delapan tahun setelah lulus S1, Juda meraih gelar magister di bidang keuangan, perbankan, dan finansial dari University of Birmingham.
Ia melanjutkan studi doktoral di universitas yang sama dengan gelar PhD di bidang ekonomi pada 1999.
Karier profesional Juda banyak dihabiskan di Bank Indonesia (BI). Ia mengawali langkah sebagai Staf Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter, termasuk menjalani penugasan di Kantor Perwakilan BI London periode 1992–1999.
Sepulang dari Inggris, Juda menempuh jalur riset sebagai peneliti ekonomi junior pada 1999–2002, lalu menjadi peneliti ekonomi di Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter pada 2002–2003.
Kariernya berlanjut sebagai analis senior di direktorat yang sama.
Pada periode 2006–2008, Juda dipercaya menjabat Kepala Bagian Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter sekaligus mendapat penugasan di Dana Moneter Internasional (IMF).
Ia kemudian menjabat Advisor Ekonomi dan Kebijakan Moneter pada 2012–2013, sebelum ditunjuk sebagai Kepala Grup Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter pada 2013.
Pada 2014, Juda dilantik menjadi Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter oleh Gubernur BI saat itu, Agus D. W. Martowardojo.
Karier internasional Juda kembali berlanjut ketika ia menjabat sebagai Direktur Eksekutif IMF pada periode 2017–2019.
Setelah itu, ia pulang ke Indonesia dan dipercaya sebagai Asisten Gubernur BI yang membidangi Stabilitas Sistem Keuangan dan Kebijakan Makroprudensial pada 2020–2022.
Puncak kariernya di Bank Indonesia ditandai dengan pelantikan sebagai Deputi Gubernur BI berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 147/P Tahun 2021 tertanggal 24 Desember 2021.
Ia resmi mengucapkan sumpah jabatan pada 6 Januari 2022 untuk masa jabatan hingga 2027.
Namun, pada 13 Januari 2026, Juda telah mengajukan surat pengunduran diri dari jabatan Deputi Gubernur BI.
Seiring dengan itu, muncul kabar rencana pergeseran jabatan di pemerintahan.
Kabar tersebut akhirnya terkonfirmasi setelah Presiden Prabowo melantik Juda sebagai Wamenkeu.
Harta Kekayaan Juda Agung
Merujuk Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) per 10 Maret 2025, kekayaan Juda Agung mencapai Rp 56.084.744.920.
Kekayaan Juda terdiri dari:
Tanah dan Bangunan
- Tanah dan bangunan seluas 300 m2/250 m2 di Kab/Kota Kota Jakarta Pusat, hasil sendiri Rp 3.000.000.000
- Tanah dan bangunan seluas 128 m2/80 m2 di Kab/Kota Bogor, hasil sendiri Rp 640.000.000
- Bangunan seluas 27 m2 di Kab/Kota Kota Jakarta Pusat, hasil sendiri Rp 240.900.000
- Bangunan seluas 27 m2 di Kab/Kota Kota Jakarta Pusat, hasil sendiri Rp 240.900.000
- Tanah seluas 237 m2 di Kab/Kota Kota Jakarta Selatan, hasil sendiri Rp 7.700.000.000
- Tanah dan bangunan seluas 141 m2/100 m2 di Kab/Kota Kota Jakarta Selatan, hasil sendiri Rp 3.900.000.000
- Tanah dan bangunan seluas 175 m2/166 m2 di Kab/Kota Kota Jakarta Selatan, hasil sendiri Rp 5.800.000.000.
Alat Transportasi dan Mesin
- Mobil, Toyota Fortuner Diesel 2.4 VRZ A/T Tahun 2020, hasil sendiri Rp 375.591.625
- Mobil, Toyota Calya Astra M/T Tahun 2019, hasil sendiri Rp 102.378.250
- Mobil, BMW BMW 730Li M Sport CKD Tahun 2022, hasil sendiri Rp 1.546.150.000.
Harta lainnya
- Surat berharga Rp 22.306.724.050
- Kas dan setara kas Rp. 11.884.316.995
Utang
- Utang Rp. 1.652.216.000