Kelakar Mantan Hakim MK Arief Hidayat: Ingin Anak Saya Bisa Jadi Wakil Presiden
Arief Hidayat resmi mengakhiri masa jabatannya sebagai hakim konstitusi Mahkamah Konstitusi, Rabu 4 Februari 2026. Dalam acara wisuda purnabakti yang digelar di Gedung Mahkamah Konstitusi Rabu kemarin, Arief Hidayat sempat menyampaikan pidato perpisahannya.
Menariknya Arief sempat melontarkan ’guyonan’ tentang keinginannya agar anak-anaknya bisa menjadi Wakil Presiden. Namun sayangnya anak-anak Arief Hidayat justru memilih untuk menjadi dosen.
Mengutip saluran YouTube Mahkamah Konstitusi, Jumat 6 Februari 2026 awalnya, Arief Hidayat mengucapkan rasa terima kasihnya kepada sang istri yang setia mendampinginya.
“Karena istri saya selalu ngikutin saya terus ya saya terpaksa menjadi baik karena selalu didampingi dan kebetulan Tuhan mengatur anak saya sudah besar-besar dan sudah menikah. Sehingga istri saya selamanya bisa berada di Jakarta mendampingi saya. Sehingga saya terborgol dengan cinta yang luar biasa,” kata Arief Hidayat dalam pidatonya.
Setelah itu, Arief mengucapkan rasa terima kasihnya kepada anak-anaknya yang telah memberikan dukungan kepadanya selama 13 tahun berkarir sebagai hakim MK. Dia juga sempat menceritakan tentang kedua anaknya yang memilih karir sebagai dosen di Universitas Diponegoro (Undip) dan Universias Sebelas Maret (UNS).
”Terima kasih pada anak-anak saya yang telah mendukung karir bapaknya dan tidak merepotkan. Tidak pernah aneh-aneh, tidak minta ini itu tapi anak-anak memilih berkarir sebagai dosen. Sekarang yang sulung di UNDIP dan yang bungsu di UNS dan dua-duanya pengen. Cuma pengen jadi dosen,” kata dia.
Padahal kata Arief dirinya ingin anak-anaknya bisa menjadi wakil presiden. Guyonan itu kemudian disambut tawa oleh istri dan peserta yang hadir di ruangan tersebut.
”Tapi saya sebetulnya pengen anak saya bisa jadi wakil presiden,” kata Arief sambil tertawa dan disambut tawa peserta lain.
Tak sampai di situ, Arief Hidayat juga kembali melontarkan guyonan lainnya. Kali ini terkait dengan momen proses kelahiran anak bungsunya. Saat itu, putra bungsunya mengakui memilih untuk istrinya bisa melahirkan di Solo. Alasannya agar anak yang ada di kandungan istrinya bisa menjadi presiden atau wakil presiden di kemudian hari.
”Tapi tidak jadi kenyataan itu. Tapi yang lucu anak saya yang bungsu setelah jadi dosen di UNS, waktu melahirkan itu ada pilihan bisa melahirkan di Semarang dan bisa melahirkan di Solo. Anak saya Angga mengatakan ’pak ini katanya sudah di-USG anak saya laki-laki berarti cucu papa nanti laki-laki biar lahir di Solo ya, karena kalau lahir di Solo bisa jadi presiden atau wakil presiden’, katanya begitu,” cerita Arief Hidayat.
Dijelaskan Arief, Solo merupakan berkah bagi negara Indonesia. Melalui cucu laki-lakinya ini dia berharap agar keinginannya yang terdahulu dapat terwujud.
”Solo itu berkahnya Indonesia katanya begitu. Tapi menjadi presiden atau wakil presiden yang baik itu doa saya pada cucu saya yang terakhir yang laki-laki ini,” kata dia.