Ressa Rizky Banting Tulang Kerja Jadi Sopir, Denada: Supaya Gak Manja!
Keputusan Ressa Rizky Rossano bekerja sebagai sopir dengan bayaran terbatas menjadi sorotan, terutama setelah muncul gugatan penelantaran anak yang ia ajukan terhadap Denada.
Menanggapi hal tersebut, pihak Denada akhirnya buka suara dan menegaskan bahwa pekerjaan itu bukan bentuk penelantaran, melainkan bagian dari pendidikan karakter. Scroll untuk tahu kelanjutannya, yuk!
Penjelasan itu disampaikan langsung oleh kuasa hukum Denada, Iqbal. Ia meluruskan anggapan publik yang menilai Denada tega membiarkan anak kandungnya hidup susah. Menurut Iqbal, Denada sama sekali tidak pernah menyangkal status Ressa sebagai anaknya.
"Diakui. Mba Denada itu tidak pernah tidak mengakui Ressa sebagai anaknya," kata Iqbal dalam wawancara virtual, baru-baru ini.
Iqbal menyebut, Denada memilih bersikap tenang dan belum banyak berbicara ke publik karena masih terpukul atas gugatan yang dilayangkan Ressa di Pengadilan Negeri Banyuwangi.
"Kita tenang, cooling down-lah intinya. Supaya nanti kita sambil berpikir introspeksi diri juga," ujarnya.
Lebih jauh, Iqbal menegaskan bahwa kebutuhan hidup Ressa selama ini tetap dipenuhi oleh Denada dan keluarga besarnya. Bahkan, biaya pendidikan hingga fasilitas penunjang kehidupan Ressa disebut telah diberikan dengan layak.
"Mas Ressa ini, bukan sekadar diakui atau gimana ya sebagai anak ya, bahkan dibiayai, difasilitasi, disekolahkan," ucapnya.
Terkait pekerjaan Ressa sebagai sopir, Iqbal menilai hal tersebut justru kerap disalahartikan. Ia menyebut, keputusan itu merupakan bentuk didikan agar Ressa tidak tumbuh menjadi pribadi yang bergantung sepenuhnya pada orang tua.
"Jadi gini saya luruskan ya, almarhum Bu Emilia Contessa katanya menjadikan Ressa ini sopir. Itu gini, kita ambil segi positif ya, itu pendidikan untuk anak supaya anak ini tidak manja," ungkap Iqbal.
Menurutnya, besaran gaji yang diterima Ressa juga tidak bisa dilihat dari kacamata kota besar. Untuk ukuran Banyuwangi, penghasilan tersebut dinilai sudah cukup tinggi.
"Gaji dua setengah (juta) di Banyuwangi besar tuh, dua juta setengah itu. Sehingga ketika kayak orang tua ini ngasih pendidikan kayak gitu ke anak, ya apa salahnya? Supaya dia tidak manja cuma minta nadong gini ke orang tua kan ya ndak enak lah," katanya.
Iqbal menambahkan bahwa pola asuh seperti itu lumrah dilakukan oleh banyak keluarga demi membentuk mental anak yang kuat.
"Bahkan kalau orang-orang Chinese gitu pendidikannya lebih keras lagi supaya anak ini jadi anak yang benar-benar bisa dibanggakan lah," ujarnya.
"Bukan mengambil segi negatif 'ini kok tega jadi sopir', waduh salah kaprah itu," sambungnya.
Tak hanya itu, tudingan bahwa Ressa hidup serba kekurangan juga dibantah. Iqbal justru mengungkap bahwa Ressa menikmati fasilitas yang tergolong mewah untuk ukuran daerah tempat tinggalnya.
"Lho tadi kan sudah tak jelaskan, Ressa ini bukan hanya sekadar diakui. Dia dibiayai, disekolahkan, difasilitasi," tegasnya.
"Sampeyan kalau tinggal di Banyuwangi mungkin sampeyan tahu, hidupnya hedon lho untuk kelas Banyuwangi," tambah Iqbal.
Ia menutup dengan menyebut bahwa berbagai fasilitas, termasuk kendaraan pribadi, diberikan langsung oleh Denada.
"Ressa ini dibiayai, difasilitasi semua ada, dikasih mobil," pungkasnya.