Anies Resmikan Jembatan Gantung di Karanganyar, Warga Akhirnya Tak Lagi Andalkan Jembatan Bambu
Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meresmikan Jembatan Titian Persatuan di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Jumat (30/1/2026).
Jembatan tersebut menghubungkan Desa Sambirejo, Kecamatan Jumantono dengan Desa Klotok, Kelurahan Bolong.
Selama puluhan tahun, warga setempat mengandalkan jembatan bambu yang kondisinya sudah lapuk untuk beraktivitas sehari-hari.
Jembatan bambu itu masih berdiri hingga Anies mengunjungi Karanganyar. Lokasinya tepat berada di bawah Jembatan Titian Persatuan yang baru diresmikan.
Menurut Anies, sejak awal pembangunan jembatan melibatkan banyak pihak yang berkontribusi, mulai dari makanan, material, tenaga, hingga pikiran.
"Semua ikut urunan, semua ikut iuran," kata Anies.
"Dan itu semua berjalan selama beberapa bulan, Alhamdulillah hari ini mewujud dalam sebuah jembatan," sambungnya.
Anies Ungkap Kondisi Jembatan Bambu
Anies menceritakan, saat mengunjungi Desa Sambirejo yang berada di salah satu sisi jembatan, kondisi jembatan bambu yang digunakan warga cukup memprihatinkan.
Bagi warga setempat, kondisi tersebut sudah dianggap biasa, namun tidak demikian bagi Anies.
Ia menyebut jarak antara jembatan lama dengan permukaan sungai mencapai sekitar 30 meter sehingga berisiko bagi keselamatan warga.
Anies pun menitipkan harapan agar Jembatan Titian Persatuan yang telah diresmikan dapat dirawat bersama oleh masyarakat mengingat proses perawatan tidak pernah ada akhirnya.
"Jadi saya titip pada semuanya, mari ini dirawat baik-baik," kata Anies.
"Sehingga nanti bisa dipakai oleh anak-anak kita, bisa dipakai oleh anak-anak dari anak-anak kita, bahkan mungkin anak-anak dari cucu kita," sambungnya.
Jembatan Titian Persatuan Hasil Kerja Bersama
Jembatan Titian Persatuan yang diresmikan Anies hari ini merupakan hasil kolaborasi Aksi Bersama dengan berbagai donatur.
Biaya pembangunan jembatan bersumber dari hasil penggalangan dana, meski Anies tidak menjelaskan jumlah anggaran secara rinci.
Sejumlah pihak menyumbang melalui platform KitaBisa hingga terkumpul dana untuk membangun jembatan tersebut.
Proses pembangunan telah dimulai sejak 2025. Anies juga sempat mengunjungi Desa Sambirejo untuk memantau langsung pembangunan jembatan pada Selasa (2/12/2025).
Anies menjelaskan, rencana pembangunan jembatan permanen di lokasi tersebut sebenarnya sudah diinisiasi sejak 30 tahun lalu.
Lahan pun telah diwakafkan, namun pembangunan tak kunjung terlaksana.
Hingga akhirnya, warga kembali mengusulkan pembangunan jembatan yang kemudian diterima oleh tim Aksi Bersama.
Tim tersebut lalu merancang beberapa desain jembatan hingga akhirnya disepakati desain jembatan gantung.
Proses pembangunan dilakukan melalui musyawarah bersama warga desa, termasuk dalam penentuan pembagian tugas dan titik pembangunan jembatan.
"Ya, jadi semuanya dikerjakan gotong-royong. Begitu ada usulan, nanti dibahas sama-sama seperti juga di sini," ujar Anies.
"Dan ini kan rencana pembangunan sudah berusia 30 tahun," sambungnya.
Warga Andalkan Jembatan Bambu Selama Puluhan Tahun
Terpisah, Kepala Desa Sambirejo Suhari mengatakan, jembatan bambu di wilayahnya sudah ada sejak ia masih kecil.
Ia mengaku tidak ingat secara pasti kapan jembatan bambu tersebut dibangun. Namun, akses itu menjadi salah satu jalur yang biasa ia gunakan untuk mengunjungi rumah orang tuanya di Matesih.
Suhari menuturkan, jembatan bambu tersebut setiap beberapa tahun sekali harus diganti dan bahkan pernah hanyut terbawa arus sungai.
Beruntung, Anies Baswedan bersama tim Aksi Bersama merespons kondisi tersebut dengan membangun Jembatan Titian Persatuan.
Suhari mengaku tidak mengetahui secara rinci terkait biaya pembangunan jembatan tersebut. Baginya, yang terpenting jembatan kini sudah terbangun dan dapat digunakan warga.
Suhari juga menjelaskan, pembangunan jembatan baru untuk menggantikan jembatan bambu sebenarnya sudah masuk dalam rencana kerja pemerintah.
Namun, wacana tersebut tak pernah terealisasi selama puluhan tahun.
Menurutnya, biaya pembangunan jembatan tergolong sangat besar dan bahkan bisa mencapai miliaran rupiah.
Ia mengaku sudah pernah melakukan survei bersama lurah terkait lokasi pembangunan jembatan.
"(Wilayah) Bolong itu ada tiga tanjakan yang harus dibangun supaya kendaraan besar bisa (lewat)," kata Suhari kepada Kompas.com.
"Ternyata bikin proposal ke kabupaten, ke provinsi, ke (pemerintah) pusat tidak ada respons," sambungnya.
Pembangunan Jembatan Tidak Didasari Alasan Politik
Suhari juga menegaskan bahwa pembangunan Jembatan Titian Persatuan yang menghubungkan Sambirejo dan Klotok tidak didasari motif politik.
Ia membantah wilayahnya merupakan basis suara Anies pada Pemilihan Presiden 2024.
Meski demikian, Anies bersama Aksi Bersama tetap menginisiasi pembangunan jembatan tersebut.
Sementara itu, warga setempat Wagimin Hadi Suwito (73) mengatakan, jembatan bambu di desanya sudah ada sejak 1980-an.
Jembatan tersebut tidak pernah dibangun secara permanen hingga akhirnya Anies datang meresmikan Jembatan Titian Persatuan.
"Permintaan dari masyarakat itu sudah lama sekali. Pengajuan, pengajuan tidak ada pelaksanaan," katanya kepada Kompas.com usai acara peresmian jembatan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang