Bos Palantir Sebut Lulusan Vokasi Jadi Rebutan di Era AI saat Tingkat Pengangguran Terus Naik
CEO Palantir Technologies, Alex Karp, memperingatkan kecerdasan buatan (AI) berpotensi menggerus banyak pekerjaan berbasis humaniora. Ia menambahkan, lulusan dari pendidikan vokasi justru akan menjadi kelompok yang paling diburu di era AI.
Meski mengenyam pendidikan tinggi, ia sempat bertanya-tanya siapa yang bersedia memberinya pekerjaan pertama. Ia diketahui merupakan lulusan Haverford College, meraih gelar hukum dari Stanford Law School, serta doktor filsafat dari Goethe University, Jerman.
“AI akan menghancurkan pekerjaan di bidang humaniora,” kata Karp saat sesi talkshow World Economic Forum di Davos, Swiss, dikutip daro Fortune pada Rabu, 28 Januari 2026.
Pandangan ini sejalan dengan pernyataan Karp sebelumnya terkait lulusan kampus elite yang memiliki pengetahuan umum, namun tidak diimbangi keahlian teknis yang mumpuni. Menurutnya, lulusan seperti ini akan sulit untuk mendapat pekerjaan.

"Kalau Anda lulusan sekolah elite kalau tidak punya keterampilan lain, itu akan sulit dijual di pasar kerja," kata Karp.
Namun, pandangan Karp tidak sepenuhnya diamini para eksekutif lain. Chief Operating Officer BlackRock, Robert Goldstein, menyatakan perusahaannya justru merekrut lulusan dari jurusan yang tidak ada hubungannya dengan keuangan atau teknologi. Sementara itu, Managing Partner Global McKinsey, Bob Sternfels, mengatakan pihaknya kembali melirik lulusan liberal arts sebagai sumber kreativitas untuk keluar dari pola pemecahan masalah AI yang cenderung linear.
Meski demikian, Karp tetap mendorong pergeseran fokus ke pendidikan vokasi. Tahun lalu, Palantir meluncurkan Meritocracy Fellowship, program magang berbayar bagi siswa sekolah menengah dengan peluang direkrut menjadi pegawai tetap.
Palantir mengkritik sistem pendidikan tinggi di AS yang dinilai mengindoktrinasi mahasiswa dan memiliki proses seleksi yang tidak transparan sehingga menggeser meritokrasi. Karp juga menegaskan bahwa tidak ada yang peduli dengan latar belakang seseorang ketika dia sudah berkerja di sebuah perusahaan.
“Jika Anda tidak kuliah, kuliah di kampus biasa, atau bahkan Harvard, Princeton, atau Yale, begitu masuk Palantir, Anda adalah orang Palantir. Tidak ada yang peduli dengan latar belakang itu,” kata Karp dalam paparan kinerja kuartal II-2025.
Ia menekankan pentingnya cara baru dalam mengukur bakat. Menurutnya, cara menguji bakat tidak sepenuhnya menampilkan betapa tak tergantikannya kemampuan orang tersebut. Ia juga menekankan peran pemimpin perusahaan untuk secara aktif menggali dan menemukan keunggulan unik setiap individu.
“Apa yang saya lakukan setiap hari di Palantir adalah mencari bakat outlier seseorang, menempatkannya di situ, dan memastikan dia tetap fokus di sana, bukan di lima hal lain yang dia kira juga dia kuasai,” katanya.
Pernyataan Karp muncul di tengah laporan meningkatnya kesenjangan antara keterampilan pencari kerja dan kebutuhan industri. Kondisi ini menyebabkan tren pengangguran semakin meningkat di kalangan lulusan perguruan tinggi.
Tingkat pengangguran usia 16–24 tahun tercatat mencapai 10,4 persen pada Desember 2025. Meski begitu, Karp tetap optimis tenaga kerja akan terserap dengan baik oleh industri, terutama lulusan vokasi.
“Akan ada lebih dari cukup pekerjaan, terutama bagi mereka yang memiliki pelatihan vokasi,” pungkasnya.