Gawat! Job Market Melemah, Pengangguran Terus Naik
Pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) kembali menjadi sorotan setelah laporan ketenagakerjaan terbaru menunjukkan dinamika yang tidak stabil. Di tengah ketidakpastian kebijakan, suku bunga tinggi, serta percepatan adopsi teknologi, dunia kerja AS menghadapi tekanan dari berbagai arah.
Data terbaru memperlihatkan bahwa pemulihan pasar tenaga kerja tidak berjalan mulus, bahkan sempat mencatat kontraksi signifikan.
Situasi ini semakin kompleks karena laporan resmi pemerintah mengalami keterlambatan akibat shutdown pemerintah federal yang berlangsung selama 43 hari. Ketika laporan akhirnya dirilis, gambaran yang muncul justru menunjukkan pelemahan yang cukup jelas.
Dalam laporan tersebut, terlihat bahwa pasar tenaga kerja AS kehilangan 105.000 pekerjaan pada Oktober 2025. Angka ini kontras dengan kondisi November, ketika ekonomi AS masih mampu menambah 64.000 pekerjaan baru. Meski demikian, penciptaan lapangan kerja pada November tetap mencerminkan perlambatan jika dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Pemerintah AS menjelaskan bahwa fluktuasi tajam ini terutama disebabkan oleh berkurangnya jumlah pegawai federal. Pemangkasan tersebut berkaitan dengan kebijakan efisiensi pemerintahan Presiden Donald Trump.
Ilustrasi pengangguran.
Jumlah korban PHK pada Oktober ini terutama dipicu oleh pengurangan 162.000 pegawai federal. Banyak dari pegawai tersebut dilaporkan mengundurkan diri pada akhir tahun fiskal 2025, tepatnya 30 September, di tengah tekanan dari langkah pemangkasan besar-besaran yang dipimpin oleh miliarder Elon Musk terhadap struktur penggajian pemerintah AS.
Dampak dari penurunan jumlah tenaga kerja ini tercermin pada tingkat pengangguran nasional. Tingkat pengangguran AS naik menjadi 4,6 persen, level tertinggi sejak 2021. Meski secara historis angka ini masih tergolong moderat, tren cukup konsisten sejak mencapai titik terendah 54 tahun di level 3,4 persen pada April 2023.
Departemen Tenaga Kerja juga merevisi data sebelumnya dengan memangkas 33.000 pekerjaan dari catatan Agustus dan September. Revisi ini semakin menegaskan bahwa momentum perekrutan memang telah melambat dalam beberapa bulan terakhir.
Dari sisi upah, pekerja AS hanya mencatat kenaikan rata-rata upah per jam sebesar 0,1 persen dibandingkan Oktober. Ini merupakan kenaikan terkecil sejak Agustus 2023. Secara tahunan, upah meningkat 3,5 persen, angka terendah sejak Mei 2021. Kondisi ini menunjukkan bahwa meski inflasi mulai mereda, daya tawar pekerja dalam negosiasi upah juga ikut melemah seiring dengan berkurangnya permintaan tenaga kerja baru.
Jika dilihat per sektor, data November menunjukkan gambaran yang beragam. Sektor kesehatan menjadi penopang utama pasar tenaga kerja dengan menambah lebih dari 46.000 pekerjaan. Jumlah ini mencakup lebih dari dua pertiga dari total 69.000 pekerjaan sektor swasta yang tercipta pada bulan tersebut.
Sektor konstruksi juga mencatat ekspansi dengan menambah 28.000 pekerjaan. Sebaliknya, sektor manufaktur terus mengalami penurunan dengan kehilangan 5.000 pekerjaan, menandai bulan ketujuh berturut-turut sektor ini mengalami kontraksi.
“Kesimpulannya adalah, pasar tenaga kerja masih berada pada kondisi yang relatif lemah, dengan perusahaan menunjukkan sedikit selera untuk merekrut, tetapi juga enggan melakukan pemutusan hubungan kerja,” ujar Thomas Feltmate, ekonom senior di TD Economics, sebagaimana dikutip dari Independent, Rabu, 17 Desember 2025.
“Namun demikian, permintaan tenaga kerja telah mendingin lebih cepat dibandingkan pasokan dalam beberapa bulan terakhir, dan inilah yang berada di balik kenaikan bertahap tingkat pengangguran.”
Sementara itu, Matt Hobbie, wakil presiden perusahaan penyalur tenaga kerja HealthSkil di Allentown, Pennsylvania, menyoroti peran otomatisasi. “Kami melihat banyak bisnis yang kami dukung berada dalam mode stagnan," ungkapnya.