Menguak Alasan Harga Emas Naik Terus, Ternyata Ini Pemicunya
Harga emas global terus menunjukkan tren penguatan yang konsisten dalam beberapa waktu terakhir. Logam mulia ini bahkan kembali mencetak rekor tertinggi baru, menarik perhatian investor ritel maupun institusi di tengah kondisi ekonomi dan geopolitik yang semakin tidak menentu.
Fenomena ini menegaskan kembali peran emas sebagai aset lindung nilai utama saat risiko global meningkat. Di saat pasar saham bergerak fluktuatif dan tensi politik internasional memanas, emas justru tampil sebagai instrumen yang dianggap paling aman untuk menjaga nilai kekayaan.
Salah satu alasan utama mengapa harga emas terus naik adalah meningkatnya ketegangan geopolitik. Investor global saat ini mencermati langkah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang kembali agresif dalam kebijakan luar negeri dan perdagangan, termasuk ancaman tarif terhadap sejumlah negara Eropa.
Kondisi tersebut diperparah oleh pernyataan Trump terkait rencana aneksasi Greenland, yang memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik politik dan ekonomi lintas kawasan. Dalam situasi seperti ini, emas cenderung diburu karena dianggap lebih stabil dibandingkan aset berisiko seperti saham.
Hal ini tercermin dari pergerakan harga emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman Februari yang naik 1,71 persen menjadi US$4.674,20 per ons atau setara Rp78,99 juta per ons. Sementara itu, harga emas spot juga menguat 1,6 persen ke level US$4.668,14 per ons atau setara Rp78,88 juta per ons.
Faktor lain yang mendorong harga emas semakin tinggi adalah prospek penurunan suku bunga riil serta perubahan strategi bank sentral global. Ketika suku bunga riil melemah, daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil bunga justru meningkat.
George Cheveley, manajer portofolio sumber daya alam di Ninety One, menegaskan bahwa reli emas saat ini bukan sekadar spekulasi jangka pendek.
“Kenaikan harga emas memang sangat kuat, namun tetap didukung oleh fundamental yang masih kokoh. Dengan suku bunga riil yang kemungkinan menurun dan bank sentral yang terus mendiversifikasi cadangan mereka, kami melihat peluang emas untuk tetap stabil atau bergerak lebih tinggi dibandingkan mengalami koreksi tajam,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari CNBC, Selasa, 20 Januari 2026.
Dalam laporan prospek sektoral 2026, disebutkan bahwa pada level harga saat ini, margin industri emas diperkirakan mencapai empat hingga lima kali lipat dibandingkan tahun 2024. Hal ini memperkuat keyakinan bahwa tren kenaikan emas memiliki dasar ekonomi yang kuat.
Kenaikan harga emas juga tidak terlepas dari tekanan pada pasar saham global. Ancaman tarif Amerika Serikat terhadap negara-negara Eropa berdampak langsung pada sektor otomotif dan barang mewah. Investor mulai mengurangi eksposur pada saham dan mengalihkan dana ke aset safe haven.
Indeks Stoxx Europe 600 Automobiles & Parts tercatat turun 2,2 persen, sementara indeks Stoxx Europe Luxury 10 melemah 2,9 persen. Penurunan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi perang dagang balasan dari negara-negara Eropa.
Selain itu, konflik yang masih berlangsung di Ukraina serta proses pemulihan Gaza yang diperkirakan memakan waktu bertahun-tahun turut memperpanjang periode ketidakpastian global, kondisi yang secara historis menguntungkan harga emas.
Perak dan Logam Lain Ikut Menguat
Ilustrasi Perak
Tidak hanya emas, perak juga mengalami lonjakan harga signifikan. Kontrak berjangka perak Amerika Serikat untuk pengiriman Maret melonjak ke rekor US$93,035 per ons, dan terakhir tercatat di US$93,02 per ons atau setara Rp1,57 juta per ons. Harga perak spot naik ke US$93,16 per ons atau setara Rp1,57 juta per ons.
Sementara itu, logam dasar seperti tembaga juga menguat, meski lebih didorong oleh tren jangka panjang seperti kebutuhan energi dan pembangunan infrastruktur pusat data. Harga tembaga berjangka AS untuk pengiriman Maret tercatat naik ke US$5,8625 per ons atau setara Rp99.080 per ons.