Kapal Sungai Mahakam Mandek karena BBM Subsidi, Harga Sembako Terus Naik
Sebanyak 28 kapal angkutan Sungai Mahakam yang melayani rute SamarindaKutai Barat-Mahakam Ulu hingga kini masih tertambat di Dermaga Sungai Kunjang, Samarinda.
Berhentinya operasional kapal-kapal ini akibat belum terbitnya rekomendasi BBM bersubsidi dari Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas).
Sebagai buntut mandeknya operasional kapal, distribusi barang ke wilayah hulu, terutama Kabupaten Mahakam Ulu terhambat.
Akibatnya, warga mulai merasakan kenaikan harga kebutuhan pokok di pasar-pasar lokal.
Kapal menunggu kepastian rekomendasi BBM
Ketua Organisasi Angkutan Mahakam Ulu (Orgamu), Husaini Anwar, mengatakan para pemilik kapal masih menunggu kepastian administrasi pengajuan BBM subsidi.
"Sejak Sabtu (24/1/2026) lalu, para buruh sudah kehilangan penghasilan. ABK pun memilih pulang. Kami diminta melengkapi berkas lagi sesuai aturan baru BPH Migas, tapi sampai sekarang, janjinya BBM datang hari ini atau besok masih sekadar kabar burung," terang Husaini, dikutip dari Tribun Kaltim, Senin (2/2/2026).
Ia menyebut, berdasarkan penyampaian terakhir, rekomendasi BBM subsidi akan diberikan untuk jangka waktu tiga bulan sambil menyesuaikan Peraturan BPH Migas Nomor 2 Tahun 2023.
Namun, hingga Senin (2/2/2026) sore, kapal-kapal masih belum bisa beroperasi.
Pantauan di Dermaga Sungai Kunjang menunjukkan tidak ada aktivitas bongkar muat maupun keberangkatan kapal, sedangkan para pemilik kapal menunggu terbitnya rekomendasi BBM.
Harga pangan naik di Mahulu
Terhentinya jalur distribusi sungai berdampak langsung pada pasokan barang ke wilayah pedalaman.
Warga Kampung Long Isun, Mahakam Ulu, Lusia, mengatakan harga sejumlah bahan pokok mulai melonjak.
Ia merinci, harga beras kini mencapai Rp 500.000 per karung dari sebelumnya Rp 470.000. Harga bawang naik menjadi Rp 100.000, minyak goreng Rp 150.000 per 5 liter, gula Rp 25.000, dan cabai mencapai Rp 150.000.
Selain itu, harga gas LPG tabung besar dilaporkan menyentuh Rp 400.000.
"Kami berharap permasalahan ini segera selesai, Kalau kapal tidak jalan, harga-harga ini akan terus mendaki," ujar Lusia, dikutip dari Tribun Kaltim, Senin (2/2/2026).
Warga Ujoh Bilang, Putry, mengatakan jalur sungai masih menjadi andalan utama distribusi barang ke Mahakam Ulu karena jalur darat belum sepenuhnya layak.
"Kebanyakan barang masuk lewat kapal karena bisa muat banyak. Mobil ada, tapi mahal dan jalannya belum sepenuhnya bagus, jadi orang lebih memilih kapal," kata Putry.
Sebagian artikel ini telah tayang di TribunKaltim.co dengan judul 10 Hari Kapal Melak-Samarinda Setop Beroperasi, Harga Sembako Mulai Naik.
Sebagian artikel ini telah tayang di TribunKaltim.co dengan judul Update Kapal Sungai Mogok, Suasana di Dermaga Sungai Kunjang dan Aktivitas di Pelabuhan Melak Lumpuh.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang