DPR Ingatkan Risiko Lonjakan Harga BBM Jika Harga Minyak Dunia Terus Naik

Komisi VI DPR, Herman Khaeron, DPR Ingatkan Risiko Lonjakan Harga BBM Jika Harga Minyak Dunia Terus Naik, Apakah harga BBM bersubsidi akan naik?, Bagaimana kondisi stok BBM saat ini?, Apakah masyarakat perlu khawatir dan melakukan panic buying?, Bagaimana dampaknya terhadap APBN?

 Stok bahan bakar minyak (BBM) nasional dipastikan dalam kondisi aman menjelang periode mudik dan arus balik Lebaran 2026.

Pemerintah bersama Pertamina menyebut pasokan energi masih terkendali meski situasi geopolitik global, khususnya konflik di Timur Tengah, memicu kekhawatiran terhadap stabilitas harga minyak dunia.

Anggota Komisi VI DPR RI Herman Khaeron mengatakan ketersediaan BBM saat ini relatif cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam beberapa pekan ke depan.

Hal tersebut disampaikan dalam rapat bersama Pertamina yang membahas kesiapan pasokan energi nasional.

"Dalam rapat dengan Pertamina disampaikan bahwa stok berbagai BBM rata-rata cukup untuk 20 hari. Jadi menjelang mudik dan arus balik dipastikan BBM aman tersedia dan terjangkau," kata Herman kepada Kompas.com, Senin (9/3/2026).

Meski demikian, Herman mengakui bahwa dinamika geopolitik global tetap berpotensi memengaruhi sektor energi, terutama dari sisi pasokan dan harga minyak dunia.

"Terkait dengan imbas dari geopolitik saat ini, pasti ada pengaruhnya, terutama terhadap pasokan dan harga," ujarnya.

Menurut Herman, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah memastikan pasokan energi tetap terjaga dengan mengandalkan sejumlah negara pemasok minyak.

Ia menjelaskan bahwa dampak kenaikan harga minyak dunia kemungkinan akan dirasakan pada jenis BBM yang menggunakan skema harga mengambang atau floating price, yakni BBM yang tidak mendapatkan subsidi.

"Namun terhadap kenaikan harga pasti ada kenaikan pada harga beberapa jenis BBM yang floating price (tidak disubsidi), meski bisa saja menggunakan skema kompensasi sehingga tidak ada kenaikan harga," kata Herman.

Apakah harga BBM bersubsidi akan naik?

Komisi VI DPR, Herman Khaeron, DPR Ingatkan Risiko Lonjakan Harga BBM Jika Harga Minyak Dunia Terus Naik, Apakah harga BBM bersubsidi akan naik?, Bagaimana kondisi stok BBM saat ini?, Apakah masyarakat perlu khawatir dan melakukan panic buying?, Bagaimana dampaknya terhadap APBN?

Anggota Komisi VI DPR RI, Herman Khaeron ketika menanggapi isu kelangkaan BBM di SPBU swasta usai kegiatan di Hotel Swiss-Belinn Indramayu, Sabtu (20/9/2025).

Herman meyakini pemerintah akan tetap mempertahankan harga BBM bersubsidi meskipun tekanan terhadap anggaran negara meningkat. Kebijakan tersebut dinilai penting untuk menjaga daya beli masyarakat.

"Terhadap harga BBM bersubsidi saya meyakini pemerintah tetap mempertahankan harga saat ini meski berdampak pada penambahan alokasi subsidi di APBN. Dan jika harga minyak dunia terus naik dan berisiko terhadap APBN, banyak pilihan kebijakan pemerintah yang bisa diambil," kata Herman.

Sekjen Partai Demokrat itu mencontohkan pengalaman pemerintah pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika harga minyak dunia sempat melonjak tajam.

"Ketika di masa pemerintahan Presiden SBY pernah terjadi lonjakan harga minyak dunia sampai 140 persen, namun dengan kebijakan yang tepat dan cermat meski situasinya tidak mudah," ujarnya.

Herman menambahkan, pada saat itu pemerintah berhasil menjaga stabilitas ekonomi dengan mengombinasikan berbagai kebijakan fiskal dan program perlindungan sosial.

"APBN dapat diselamatkan dengan menaikan harga BBM tetapi tetap menjaga daya beli masyarakat melalui program jaring pengaman sosial dan padat karya," katanya.

Bagaimana kondisi stok BBM saat ini?

Sementara itu, Pertamina (Persero) melalui PT Pertamina Patra Niaga memastikan bahwa stok BBM nasional berada dalam kondisi aman dan terkendali.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV. Dumatubun, menyampaikan bahwa stok BBM yang saat ini berada di kisaran sekitar 21 hari merupakan tingkat persediaan yang normal dalam sistem logistik energi nasional.

"Stok sekitar 21 hari yang dikelola Pertamina Patra Niaga merupakan stok BBM yang secara normal selalu dijaga dalam sistem logistik energi nasional," kata Roberth.

Ia menjelaskan bahwa stok tersebut merupakan pasokan operasional yang disimpan di berbagai fasilitas penyimpanan dan siap disalurkan kepada masyarakat.

Jumlah persediaan tersebut juga bersifat dinamis karena secara berkala terus ditambah melalui produksi kilang domestik maupun pengadaan impor.

"Stok ini terus dilakukan top-up atau refill melalui produksi dari kilang domestik maupun pengadaan impor yang telah direncanakan jauh hari sebelumnya. Hal ini dilakukan secara rutin sehingga masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan BBM," kata Roberth.

Pertamina Patra Niaga juga memiliki sistem pengelolaan rantai pasok energi yang terintegrasi, mulai dari pengadaan minyak mentah, proses pengolahan di kilang, transportasi, hingga distribusi ke berbagai daerah di Indonesia.

Sistem tersebut memungkinkan distribusi energi berjalan lebih efisien serta memastikan ketersediaan BBM tetap terjaga di seluruh wilayah.

Apakah masyarakat perlu khawatir dan melakukan panic buying?

Di tengah dinamika global yang berpotensi memengaruhi pasar energi, Pertamina mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak melakukan pembelian BBM secara berlebihan.

Menurut Roberth, perilaku panic buying justru berpotensi mengganggu distribusi BBM yang seharusnya berjalan normal.

"Kami mengajak masyarakat untuk tetap tenang dan menggunakan energi secara bijak. Pembelian BBM sesuai kebutuhan akan membantu menjaga distribusi tetap stabil sehingga seluruh masyarakat dapat memperoleh akses energi secara merata," kata dia.

Ia menambahkan bahwa Pertamina terus memantau perkembangan situasi global, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah, yang dapat memengaruhi stabilitas pasokan energi.

Bagaimana dampaknya terhadap APBN?

Di sisi lain, pemerintah juga mewaspadai potensi tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akibat kenaikan harga minyak dunia.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah masih memantau perkembangan situasi global sebelum menentukan kebijakan lebih lanjut.

"Kalau harga minyak naik ke 92 dollar AS per barel apa dampaknya ke defisit? Kalau tidak melakukan apa-apa defisit kita naik ke 3,6 sampai 3,7 persen dari PDB," kata Purbaya.

Pemerintah telah melakukan berbagai simulasi untuk mengantisipasi kemungkinan lonjakan harga minyak. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah penyesuaian belanja negara agar tekanan terhadap defisit anggaran dapat dikendalikan.

Selain itu, pemerintah juga membuka kemungkinan berbagi beban dengan masyarakat melalui penyesuaian harga BBM subsidi jika situasi fiskal semakin tertekan.

Sebagian artikel ini telah tayang di dengan judul "Pertamina: Stok BBM Nasional Aman, Warga Diminta Tak "Panic Buying".

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang