Verizon Rencana PHK hingga 15.000 Karyawan pada 2026

Ilustrasi Verizon
Ilustrasi Verizon

 Setelah gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) melanda sektor teknologi sepanjang 2025, tahun ini tampaknya akan terus berlanjut. Perusahaan-perusahaan besar dipaksa menata ulang strategi bisnis mereka demi bertahan di tengah perlambatan ekonomi, biaya operasional yang melonjak, serta persaingan yang semakin ketat.

Salah satu perusahaan besar yang kini menjadi sorotan adalah Verizon. Raksasa telekomunikasi asal Amerika Serikat tersebut dikabarkan tengah menyiapkan langkah efisiensi besar-besaran yang berpotensi berdampak pada puluhan ribu karyawan. 

Restrukturisasi ini bukan hanya soal penghematan biaya, tetapi juga sinyal kuat pergeseran industri menuju otomatisasi dan kecerdasan buatan (AI). Berdasarkan laporan HR Digest, Verizon diprediksi akan melakukan PHK pada 2026 dengan jumlah yang tidak sedikit. 

"Pemangkasan tenaga kerja diperkirakan berada di kisaran 13.000 hingga 15.000 posisi, menjadikannya salah satu gelombang PHK terbesar di sektor telekomunikasi tahun ini," demikian dikutip dari HR Digest, Senin, 19 Januari 2026.

Langkah ini sejalan dengan tren global, di mana perusahaan teknologi dan telekomunikasi semakin agresif memangkas biaya overhead. Sepanjang 2025 saja, tercatat sekitar 1,1 juta pekerja di industri terkait kehilangan pekerjaan sebagai bagian dari strategi efisiensi.

Pergantian pucuk pimpinan juga menjadi salah satu faktor utama di balik rencana PHK Verizon. Masuknya Dan Schulman sebagai CEO Verizon pada akhir 2025 menjadi titik balik kebijakan perusahaan. 

Schulman, yang sebelumnya menjabat sebagai CEO PayPal, membawa pendekatan yang jauh lebih ketat terhadap pengelolaan biaya. Dalam pernyataannya kepada investor, Schulman menegaskan bahwa pengurangan biaya akan menjadi bagian dari rencana demi memulihkan kesehatan finansial Verizon. 

Ia juga mengakui adanya kesalahan strategi di era kepemimpinan sebelumnya. Dalam forum yang sama, Schulman menyebut adanya kesalahan langkah di bawah CEO terdahulu, Hans Vestberg, termasuk investasi besar yang tidak menghasilkan pertumbuhan signifikan.

Selama masa kepemimpinan Vestberg, saham Verizon tercatat anjlok sekitar 15 persen. Schulman bahkan menyebut bahwa PHK di tubuh Verizon tidak terhindarkan, dengan alasan keterbatasan modal untuk kembali berinvestasi di area inti seperti inovasi jaringan dan akuisisi pelanggan.

Restrukturisasi ini bukan tanpa tujuan finansial yang jelas. Verizon menargetkan penghematan tahunan sebesar US$3 miliar hingga US$4 miliar, atau setara Rp50,1 triliun hingga Rp66,8 triliun per tahun.

Sebagai langkah awal, perusahaan telah mencatatkan biaya pesangon (severance charges) hingga US$1,8 miliar, atau setara Rp30,06 triliun, pada kuartal keempat 2025. Angka ini menjadi indikasi kuat bahwa PHK Verizon pada 2026 bukan sekadar wacana.

Selain faktor internal, tekanan eksternal turut memperparah kondisi Verizon. Laporan kinerja kuartal IV 2025 menunjukkan pendapatan perusahaan yang menurun di tengah persaingan sengit dengan T-Mobile dan AT&T. Industri telekomunikasi Amerika Serikat saat ini tengah terjebak dalam perang harga, di mana diskon agresif untuk paket unlimited semakin menggerus margin keuntungan.

Di sisi lain, suku bunga tinggi membuat biaya pembayaran utang menjadi semakin mahal. Kondisi ekonomi global yang lesu juga berdampak pada permintaan layanan telekomunikasi, meskipun Verizon telah menggelontorkan dana besar untuk pembangunan infrastruktur 5G. Sayangnya, perusahaan masih tertinggal dalam perolehan pelanggan baru dibandingkan para pesaingnya.

PHK Verizon di 2026 juga mencerminkan perubahan fundamental dalam model bisnis perusahaan. Di bawah kepemimpinan Dan Schulman, Verizon tengah mempersiapkan diri memasuki apa yang disebut sebagai “era AI”.

Banyak posisi yang terdampak PHK bukan hanya karena alasan penghematan, tetapi juga karena peran tersebut mulai digantikan oleh sistem otomatis dan teknologi berbasis kecerdasan buatan. Hal ini menguatkan tren bahwa PHK akibat AI pada 2026 akan terus berlanjut, seiring perusahaan berlomba menciptakan operasional yang lebih ramping dan efisien.