Amazon PHK Ratusan Karyawan Divisi Robotik

Amazon, robotik, Amazon PHK Ratusan Karyawan Divisi Robotik

Perusahaan teknologi asal Amerika Serikat, Amazon memangkas karyawannya yang bekerja untuk divisi robotik. Keputusan ini juga telah dikonfirmasi oleh raksasa marketplace asal Amerika Serikat tersebut.

"Kami secara rutin meninjau organisasi kami guna memastikan tim kami siap berinovasi dan memberikan layanan terbaik bagi pelanggan," kata Amazon mengonfirmasi kabar pemangkasan karyawan di perusahaannya.

Namun perusahaan yang didirikan oleh Jeff Bezos itu tidak merinci jumlah karyawan yang dipangkas, maupun alasan di balik Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kali ini.

Menurut sumber dalam, setidaknya 100 karyawan terdampak PHK. Mereka bertanggungjawab mendesain robot dan alat lainnya yang ditujukan untuk otomatisasi, khususnya di gudang.

PHK ini bisa dibilang sebagai PHK lanjutan setelah Amazon memangkas 16.000 karyawan pada Januari 2026 lalu. Saat itu, Amazon mengisyaratkan bahwa pengurangan karyawan akan berlanjut.

PHK ini juga terjadi setelah Amazon menyetop proyek pengembangan lengan robot yang dikenal bernama Blue Jay.

Robot ini pernah dipamerkan dalam sebuah acara pada Oktober 2025 lalu, tampak memiliki beberapa lengan yang dapat mengambil sejumlah barang sekaligus.

Dengan kemampuannya itu, robot ini dirancang untuk membantu pekerja di ruang yang cukup kecil.

Selain memangkas karyawan di divisi robotik, Amazon selama setahun ke belakang juga memberhentikan sejumlah kecil karyawan yang bekerja di divisi perangkat dan layanan, buku, podcast, hingga public relation, dihimpun KompasTekno dari Reuters.

Bisnis Amazon sendiri sebenarnya tumbuh signifikan hingga diproyeksi menyalip Walmart dalam daftar Fortune 500 untuk tahun 2026 ini. Namun tak diketahui pasti apa pertimbangan Amazon mengurangi karyawannya saat ini.

Amazon rebut takhta Walmart

Pada akhir Februari 2026 lalu, Amazon diproyeksikan menyalip Walmart dalam daftar Fortune 500.

Daftar ini merangkum 500 perusahaan terbesar di AS berdasarkan total pendapatan tahunan dan disusun oleh majalah bisnis Fortune.

Daftar resmi Fortune 500 edisi 2026 baru akan dirilis pada Juni mendatang. Namun, berdasarkan laporan keuangan terbaru yang telah diumumkan masing-masing perusahaan, posisi puncak diperkirakan akan berubah.

Amazon melaporkan pendapatan tahunan sebesar 716,9 miliar dollar AS (sekitar Rp 12.100 triliun) untuk tahun 2025 yang berakhir Desember 2025.

Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan pendapatan Walmart, yang mencapai 713,2 miliar dollar AS (sekitar Rp 12.040 triliun) pada tahun fiskal yang berakhir Januari 2026.

Karena metodologi Fortune 500 disusun murni berdasarkan total pendapatan tahunan, selisih tipis tersebut membuat Amazon secara matematis berada di posisi teratas. Meski demikian, kepastian peringkatnya tetap perlu menunggu pengumuman resmi.

Jika proyeksi ini terkonfirmasi, maka ini akan menjadi pertama kalinya Amazon melampaui Walmart dari sisi pendapatan tahunan dalam konteks peringkat Fortune 500.

Bila proyeksi ini sesuai dengan daftar Fortune 500 edisi 2026 nanti, maka posisi Walmart akan turun ke peringkat ke-2 untuk pertama kalinya dalam 13 tahun.

Namun, rekornya di peringkat lima besar ditaksir akan tetap berlanjut hingga dekade berikutnya.

Amazon, robotik, Amazon PHK Ratusan Karyawan Divisi Robotik

Estée Lauder gugat Walmart

Selama 13 tahun terakhir, posisi puncak daftar tersebut hampir selalu ditempati Walmart.

Dalam satu dekade terakhir, pendapatan Amazon terus tumbuh signifikan hingga perlahan mendekati Walmart. Bahkan pada periode 2018 hingga 2025, laju pertumbuhan Amazon tercatat jauh lebih tinggi dibandingkan Walmart.

Sejak 2020, kedua perusahaan ini juga konsisten bersaing di dua besar daftar Fortune 500, mencerminkan ketatnya kompetisi antara kedua raksasa ritel konvensional dan marketplace tersebut.

Selain bisnis ritel, pertumbuhan Amazon juga ditopang bisnis lainnya termasuk layanan digital cloud hingga periklanan. Meski demikian, divisi ritel masih menjadi kontributor terbesar dibanding lainnya.

Walmart juga mencoba peruntungan yang sama lewat bisnis periklanan. Akan tetapi pendapatannya hanya sekitar 6,4 miliar (sekitar Rp 108 triliun) pada tahun lalu, jauh lebih rendah dari Amazon yang lebih dari 68 miliar dollar AS (sekitar Rp 1.147 triliun).

Selain itu keduanya juga investasi besar-besaran ke teknologi kecerdasan buatan (AI). Pada Januari lalu, Walmart mengumumkan kemitraan dengan Google untuk menjual produk lewat asisten AI Gemini.

Sementara Amazon membangun infrastruktur AI dengan menggelontorkan hingga 200 miliar dollar AS (sekitar Rp 3.375 triliun) pada tahun ini, dihimpun KompasTekno dari Modern Retail.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang