Starbucks Kembali PHK Karyawan, Divisi Teknologi Jadi Sasaran

Curhat Para Waralaba Dunia dari McD Hingga Starbucks yang "Terkena" Virus Corona. (FOTO: Unsplash/Kal Visuals)
Curhat Para Waralaba Dunia dari McD Hingga Starbucks yang "Terkena" Virus Corona. (FOTO: Unsplash/Kal Visuals)

Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) kembali menghantam perusahaan global. Kali ini, raksasa kopi dunia Starbucks dikabarkan memangkas sejumlah karyawan di divisi teknologi sebagai bagian dari restrukturisasi organisasi yang tengah dijalankan perusahaan.

Langkah ini dilakukan di tengah upaya besar Starbucks untuk membenahi bisnisnya di bawah kepemimpinan CEO baru, Brian Niccol, yang bergabung pada 2024 untuk mengatasi perlambatan penjualan, tekanan laba, hingga berbagai masalah operasional di gerai.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut laporan internal perusahaan yang dilihat The Seattle Times, Starbucks telah mulai memberi tahu para karyawan yang terdampak PHK pada pekan ini. Sebelumnya, rumor mengenai pemangkasan tenaga kerja ini memang sudah beredar selama beberapa hari.

Perusahaan belum mengungkap secara resmi berapa jumlah pekerja yang terkena PHK maupun apakah pemangkasan ini akan berfokus di Seattle. Namun, Starbucks menegaskan langkah tersebut merupakan bagian dari upaya lebih besar untuk menata ulang operasional dan memastikan sumber daya digunakan pada area yang paling dibutuhkan.

“ Kami sedang melakukan perubahan struktural untuk bergerak lebih cepat, mempertajam fokus, dan memastikan kami siap menjalankan prioritas paling penting kami,” tulis perusahaan dalam memo internal tersebut, sebagaimana dikutip dari Times of India, Jumat, 24 April 2026.

Starbucks juga menegaskan bahwa PHK ini tidak berkaitan dengan rencana pemindahan sebagian pekerjaan teknologi dari Seattle ke kantor baru di Nashville, Tennessee.

“PHK ini bukan bagian dari rencana pemindahan sebagian pekerjaan teknologi dari Seattle ke kantor baru di Nashville,” demikian penegasan perusahaan dalam laporan tersebut.

Kantor baru tersebut diperkirakan akan menampung hingga 2.000 pekerjaan secara bertahap. Restrukturisasi ini menjadi bagian dari strategi transformasi bisnis yang dijalankan Brian Niccol sejak memimpin perusahaan. 

Starbucks saat ini tengah berupaya melakukan turnaround setelah menghadapi tekanan penjualan dan profitabilitas dalam beberapa tahun terakhir. Selain memperbarui operasional toko dan memperluas ekspansi ke pasar baru, perusahaan juga menjalankan langkah efisiensi biaya di berbagai lini bisnis.

Pada Desember 2025, Starbucks menunjuk Anand Varadarajan sebagai Chief Technology Officer (CTO). Sebelumnya, Anand menghabiskan hampir dua dekade di Amazon dan memimpin bisnis grocery global perusahaan tersebut.

Penunjukan itu dinilai sebagai bagian dari pergeseran Starbucks menuju pertumbuhan berbasis teknologi dan efisiensi operasional yang lebih kuat.

PHK terbaru ini menambah daftar panjang pengurangan tenaga kerja yang telah dilakukan Starbucks dalam setahun terakhir. Sebelumnya, perusahaan telah menutup ratusan gerai di Amerika Serikat dan Kanada, termasuk lebih dari 30 toko di negara bagian Washington.

Selain itu, Starbucks juga telah memangkas hampir 1.000 pekerja ritel dan non-ritel di Seattle dan Kent, serta sekitar 1.100 karyawan korporasi. “Pemangkasan tambahan diperkirakan masih akan terjadi dalam beberapa minggu ke depan seiring perusahaan terus menyesuaikan operasional dan struktur biaya,” tulis laporan tersebut.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Langkah efisiensi ini menunjukkan bahwa perusahaan sedang berupaya menyesuaikan struktur biaya di tengah tantangan bisnis yang semakin kompleks. Kondisi ini memperlihatkan bahwa transformasi digital dan efisiensi bisnis kini menjadi prioritas utama banyak perusahaan besar global.

Namun di sisi lain, langkah tersebut juga memicu kekhawatiran soal stabilitas lapangan kerja, terutama bagi karyawan di sektor teknologi yang sebelumnya dianggap lebih aman dari gelombang PHK.