Coinbase PHK 14 Persen Karyawan, Industri Kripto Lagi Goyang?
Coinbase akan memangkas sekitar 14 persen tenaga kerjanya atau setara sekitar 700 karyawan. Keputusan ini diumumkan CEO Brian Armstrong di tengah kondisi pasar kripto yang disebut 'volatile' serta perubahan besar operasional perusahaan akibat adopsi kecerdasan buatan (AI).
Dalam email internal kepada karyawan, Armstrong menjelaskan bahwa perusahaan kini mengubah cara kerja dengan tim yang lebih kecil namun lebih efisien berkat bantuan AI.
Bahkan, dalam beberapa kasus, satu orang akan menggantikan pekerjaan yang sebelumnya dilakukan oleh banyak orang dengan dukungan agen AI. Ia mengatakan bahwa karyawan yang tersisa harus memanfaatkan AI di setiap aspek pekerjaan.
“Singkatnya, AI membawa perubahan besar dalam cara perusahaan beroperasi, dan kami sedang membentuk ulang Coinbase untuk memimpin di era baru ini,” ungkapnya, sebagaimana dikutip dari Forbes, Rabu, 6 Mei 2026.
Langkah Coinbase ini menjadi bagian dari tren besar di industri teknologi sepanjang 2026, di mana banyak perusahaan melakukan PHK untuk mengalihkan investasi ke AI sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.
Pada April 2026, Meta mengumumkan akan memangkas 10 persen tenaga kerja dan tidak mengisi sekitar 6.000 lowongan pekerjaan. Langkah ini diambil untuk menutup biaya besar pengembangan AI, dengan total PHK diperkirakan mencapai 8.000 orang pada Mei.
Sebelumnya, Snap juga mengumumkan pemangkasan sekitar 1.000 pekerjaan. CEO Evan Spiegel menyebut keputusan itu diambil karena “kemajuan pesat dalam kecerdasan buatan” memungkinkan pekerjaan dilakukan oleh lebih sedikit orang. Langkah tersebut diproyeksikan menghemat hingga US$500 juta atau setara Rp8,5 triliun pada paruh kedua 2026.
Oracle bahkan merencanakan PHK dalam skala jauh lebih besar, yakni antara 20.000 hingga 30.000 karyawan, sebagai bagian dari investasi besar dalam infrastruktur AI. Sementara itu, perusahaan lain seperti Atlassian memangkas sekitar 1.600 pekerja, dan Block milik Jack Dorsey mengurangi lebih dari 4.000 karyawan dalam restrukturisasi besar.
Perusahaan kripto Crypto.com juga memangkas 12 persen tenaga kerja atau sekitar 180 orang. CEO Kris Marszalek menyebut PHK ini menyasar peran yang tidak beradaptasi di dunia baru seiring integrasi AI di seluruh lini perusahaan.
Secara total, firma Challenger, Gray and Christmas mencatat sekitar 30.000 PHK sepanjang 2026 dikaitkan dengan AI. Angka ini mengikuti tren 2025 yang mencatat hampir 55.000 pemutusan kerja akibat teknologi tersebut.
Kekhawatiran terhadap dampak AI terhadap pekerjaan pun semakin meningkat. CEO Anthropic, Dario Amodei, memperingatkan bahwa AI berpotensi menghapus setengah dari pekerjaan entry-level di sektor white-collar dan meningkatkan pengangguran secara signifikan.
Ia juga menilai banyak pihak masih “memoles kenyataan” terkait dampak sebenarnya dari teknologi ini. Tokoh lain seperti Jack Dorsey dan Roelof Botha juga menilai AI bisa menggantikan sebagian besar pekerjaan manajemen menengah, yang selama ini mencakup sekitar 12 persen tenaga kerja.
Survei dari Just Capital menunjukkan sepertiga masyarakat khawatir akan gelombang PHK besar akibat AI. Lebih dari setengah pimpinan perusahaan juga memperkirakan perekrutan untuk posisi entry-level akan melambat dan membutuhkan keterampilan yang lebih tinggi.
Meski begitu, ada pandangan yang berbeda. National Association of Colleges and Employers melaporkan perekrutan lulusan baru diperkirakan naik 5,6 persen tahun ini. Tingkat pengangguran lulusan muda juga turun menjadi 5,3 persen dari sebelumnya 8,9 persen.
CEO Salesforce Marc Benioff mengatakan perusahaannya justru merekrut 1.000 lulusan baru dan magang untuk mendukung pengembangan AI. “Mereka mengatakan AI akan membunuh pekerjaan entry-level. Sementara itu para lulusan dan magang ini justru membangunnya, menggerakkan Agentforce & Headless360 di Salesforce,” kata dia.
Sementara itu, CEO OpenAI Sam Altman mengkritik praktik “AI washing”, yaitu ketika perusahaan menyalahkan AI atas PHK yang tidak sepenuhnya terkait dengan teknologi tersebut. Di China, pengadilan bahkan memutuskan perusahaan tidak boleh mengganti atau menurunkan jabatan karyawan hanya karena AI mampu melakukan pekerjaan yang sama.