Wamenkeu: Pemerintah Tarik Utang Rp 736,3 Triliun di Sepanjang 2025
Wakil Menteri Keuangan, Thomas Djiwandono melaporkan, total pembiayaan utang pemerintah yang ditarik di sepanjang tahun 2025 mencapai Rp 736,3 triliun, atau 94,9 persen dari target APBN 2025.
"Sampai 31 Desember 2025, pembiayaan utang mencapai Rp 736,3 triliun atau 94,9 persen dari target APBN," kata Thomas dalam konferensi pers APBN KITA di Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis, 8 Januari 2026.
Dia menjelaskan, pembiayaan utang itu antara lain dilakukan melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) serta pinjaman. Meski demikian, Thomas tak merinci realisasi dari masing-masing instrumen pembiayaan utang tersebut.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa
Dia hanya memastikan bahwa pembiayaan utang dilakukan secara hati-hati dan terukur, untuk meminimalkan biaya dan mengendalikan risiko.
Sementara realisasi pembiayaan non-utang disampaikan Thomas tercatat mencapai Rp 7,7 triliun, atau minus 4,9 persen dari target APBN 2025. Sehingga, total pembiayaan anggaran APBN 2025 mencapai Rp 744 triliun, atau 120,7 persen dari target sebesar Rp 616,2 triliun.
Thomas menjelaskan, pembiayaan ini digunakan untuk menutup defisit, membiayai investasi, dan mendukung pengelolaan kas. Selain itu, pemerintah juga mengambil langkah penempatan Saldo Anggaran Lebih (SAL) pada perbankan, sebagai strategi pengelolaan kas yang efisien dan optimal.
Dia menjelaskan, total injeksi dana pemerintah pada tahun 2025 mencapai Rp 276 triliun, yakni sebesar Rp 200 triliun pada 12 September dan Rp 76 triliun pada 12 November 2025.
Thomas menambahkan, pemerintah baru menarik kembali sebesar Rp 75 triliun dari penempatan dana tersebut, dan memastikan bahwa strategi ini telah bekerja efektif dalam menurunkan "cost of fund" perbankan serta menurunkan suku bunga.
Selain itu, lanjut Thomas, likuiditas pasar juga meningkat, dan mampu mendorong aktivitas pasar keuangan serta berdampak pada efisiensi pembiayaan perekonomian.
“Ini kebijakan yang dicanangkan oleh Menteri Keuangan untuk menumbuhkan kredit, yang selanjutnya akan mendukung pertumbuhan ekonomi," ujarnya.