Jejak Panjang AS di Greenland, dari Dirikan Pangkalan Militer hingga Rencana Pembelian

Amerika Serikat (AS) dikabarkan akan membeli Greenland dari Denmark.
Kabar Presiden AS Donald Trump akan mengeklaim Greenland sudah berkembang sejak lama.
Bahkan Trump dikabarkan mengincar Greenland sejak jabatan pertamanya sebagai presiden AS.
Beberapa waktu lalu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memberi tahu para anggota parlemen bahwa Presiden AS Donald Trump lebih memilih untuk membeli Greenland daripada menginvasinya.
Pernyataan itu disampaikannya dalam sebuah pengarahan dengan para anggota parlemen dari komisi angkatan bersenjata dan kebijakan luar negeri, Senin (5/1/2026).
Dilansir dari New York Times, Selasa (6/1/2026), pengarahan kongres difokuskan pada Venezuela, tetapi para anggota parlemen menyampaikan kekhawatiran tentang niat Trump terhadap Greenland.
Jejak AS di Greenland sendiri sudah terpahat lama, sejak permulaan Perang Dunia II.
1941: AS mulai melindungi Greenland
Dilansir dari The Guardian, kehadiran militer AS di Greenland bermula pada April 1941, di tengah Perang Dunia II.
Saat itu, Amerika dan Denmark mencapai kesepakatan yang memberi AS tanggung jawab melindungi Greenland dari ancaman pendudukan Jerman Nazi.
Greenland, yang masih berstatus koloni Denmark, dinilai sangat strategis karena letaknya di Atlantik Utara.
Sehingga pada saat itu muncul kekhawatiran bahwa Jerman akan merebut bagian selatan Greenland untuk dijadikan pangkalan udara.
Bahkan Laporan menyebutkan bahwa pesawat pengebom dan angkut Jerman telah bersiaga di Norwegia.
Menyusul perjanjian tersebut, Penjaga Pantai AS dan pesawat-pesawat Amerika segera dikerahkan ke Greenland untuk mengamankan wilayah serta membangun pos pertahanan dan lapangan terbang perantara menuju Inggris.
Strategi ini memungkinkan pesawat tempur Amerika dengan jarak jelajah terbatas melakukan penerbangan bertahap dari Amerika Utara menuju Eropa melalui Newfoundland, Greenland, dan Islandia.
Editorial The Guardian pada April 1941 menilai langkah Amerika Serikat ini sebagai keputusan besar yang berpotensi memicu kemarahan Berlin.
AS membenarkan kebijakannya sebagai bagian dari pertahanan belahan bumi barat, sejalan dengan Doktrin Monroe versi Presiden Franklin D. Roosevelt.
Meski demikian, perjanjian tersebut secara eksplisit menegaskan bahwa kedaulatan Denmark atas Greenland tetap dihormati, termasuk perlindungan terhadap hukum adat dan masyarakat setempat.
Fasilitas udara dan pelabuhan yang dibangun juga dinyatakan terbuka bagi negara-negara Amerika lainnya, bukan semata untuk kepentingan AS.
1947: AS membantah isu membeli Greenland
Pada Januari 1947, pemerintah AS secara resmi membantah kabar bahwa mereka pernah mengajukan proposal untuk membeli Greenland dari Denmark.
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa meski masa depan Greenland sempat dibahas oleh pejabat kedua negara, diskusi tersebut tidak pernah mengarah pada rencana pembelian wilayah atau penyewaan pangkalan udara secara permanen.
Isu ini mencuat setelah media Denmark memberitakan dugaan ketertarikan AS terhadap Greenland pasca Perang Dunia II.
1951: Perjanjian Pertahanan bersama Denmark–AS
Pada April 1951, Denmark dan Amerika Serikat menandatangani perjanjian pertahanan bersama terkait Greenland.
Perjanjian ini memberikan kerangka kerja resmi bagi pengelolaan pertahanan pulau tersebut di era Perang Dingin.
Beberapa poin utama perjanjian antara lain:
- Penyerahan pangkalan angkatan laut AS di Groennedal kepada Denmark.
- Pembagian Greenland ke dalam sejumlah wilayah pertahanan yang dikelola bersama.
- Sebagian besar wilayah pertahanan berada di bawah komando Amerika Serikat.
- Pasukan AS dibebaskan dari kewajiban pajak dan bea cukai.
Perjanjian ini berlaku selama masa Pakta Atlantik Utara (NATO) dan menegaskan peran dominan AS dalam pertahanan Greenland.
1952: Rencana pembangunan pangkalan udara baru
Pada November 1952, pemerintah Denmark mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan membangun sedikitnya empat pangkalan udara besar tambahan di Greenland, di luar tiga pangkalan yang telah beroperasi.
Pangkalan-pangkalan baru ini dirancang jauh lebih dekat ke wilayah Uni Soviet dibandingkan Pangkalan Thule yang sudah ada.
Letaknya strategis, tepat di jalur potensial penerbangan pengebom Soviet menuju kawasan industri Amerika Serikat di Pantai Timur dan sekitar Great Lakes.
Demi alasan keamanan, detail teknis proyek dirahasiakan.
Namun, pembangunan ini disebut-sebut sebagai salah satu proyek militer terbesar yang pernah dilakukan AS, termasuk pembangunan pangkalan baru serta pembukaan kembali fasilitas era Perang Dunia II yang sempat ditinggalkan.
1956: Pangkalan Thule, Kota Militer di Kutub Utara
Pada 1956, Pangkalan Udara Thule digambarkan sebagai basis militer yang sangat termekanisasi di tengah lingkungan ekstrem.
Bangunan-bangunan aluminium berdiri di suhu yang bisa mencapai minus 47 derajat Celsius.
Biaya pembangunan Thule diperkirakan mencapai 500 juta dollar AS.
Material konstruksi harus diangkut sejauh ribuan kilometer, dengan kapal-kapal pengangkut yang hanya bisa merapat sekitar 70 hari dalam setahun sebelum perairan kembali membeku.
Meski demikian, Thule berkembang menjadi salah satu lapangan udara militer paling modern pada masanya.
1968: Pesawat B-52 jatuh membawa bom hidrogen
Pada Januari 1968, sebuah pesawat pembom B-52 milik AS jatuh di wilayah Greenland. Pesawat tersebut diketahui membawa empat bom hidrogen yang tidak aktif.
Insiden ini memicu keprihatinan besar pemerintah Denmark, yang menegaskan kembali larangan senjata nuklir di wilayah Denmark, termasuk Greenland.
Pesawat tersebut dilaporkan menembus lapisan es dan tenggelam ke perairan beku, memunculkan kekhawatiran akan kontaminasi radioaktif.
1968: Pembersihan es radioaktif
Beberapa bulan setelah kecelakaan tersebut, pasukan udara Amerika Serikat melakukan operasi pembersihan besar-besaran.
Salju dan es yang terkontaminasi radioaktif dikumpulkan menggunakan sekop dan kapak, lalu disimpan dalam ribuan kontainer logam tertutup di Pangkalan Thule.
Material berbahaya itu direncanakan dipindahkan dengan kapal pada musim panas, saat perairan Greenland kembali dapat dilalui.
Sejarah panjang kehadiran militer Amerika Serikat di Greenland menunjukkan betapa pentingnya pulau terbesar di dunia itu dalam peta geopolitik global.
Dari Perang Dunia II hingga Perang Dingin, Greenland menjadi titik kunci pertahanan udara, pengawasan nuklir, dan kepentingan strategis Amerika Serikat serta NATO di kawasan Arktik.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang