Soal Target Swasembada Pangan, Mentan Amran: Main-main, Perintah Bapak Presiden Harus Dicopot

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan tidak akan ragu mencopot pejabat di lingkungan Kementerian Pertanian (Kementan) apabila kinerjanya tidak sejalan dengan target pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan.
Langkah tegas tersebut, menurut Amran, merupakan bentuk kepatuhan penuh terhadap arahan Presiden Prabowo Subianto demi kepentingan rakyat dan petani.
Amran menekankan bahwa kebijakan pencopotan bukan didasari kepentingan pribadi, melainkan semata-mata menjalankan perintah Presiden untuk menindak pejabat yang bekerja setengah hati, tidak patuh, atau gagal mencapai target strategis nasional.
"Jadi kami beritahu, kinerja tidak baik, main-main, perintah Bapak Presiden harus dicopot. Jadi hanya menjalankan perintah, hanya patuh Bapak Presiden," kata Amran saat Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan oleh Presiden RI di Karawang, Jawa Barat, dikutip Antara, Rabu (7/1/2026)
Kolaborasi lintas kementerian
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 5.000 petani dan penyuluh secara luring serta dua juta petani secara daring.
Dalam kesempatan itu, Amran juga menyoroti kuatnya kolaborasi lintas kementerian, khususnya dengan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan.
Ia menyebut sinergi yang terbangun selama ini sebagai yang terbaik sepanjang masa tugasnya, ditandai dengan komunikasi intens dan koordinasi hampir tanpa batas waktu.
"Kami biasa telponan jam tiga subuh dan rapat jam lima subuh, bukan jam enam (pagi) bersama beliau," ucap Mentan.
Pencopotan massal
Tekanan kerja tinggi dalam program swasembada pangan, lanjut Amran, juga dirasakan melalui koordinasi erat dengan pimpinan Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus (Bappisus).
Namun, menurutnya, beban berat tersebut justru membentuk ketangguhan, kedisiplinan, serta keberanian dalam mengambil keputusan strategis nasional secara cepat dan tepat.
Kepada jajaran pejabat eselon I Kementan, Amran mengingatkan bahwa pencopotan pejabat pernah dilakukan secara massal dalam satu hari.
Hal itu menjadi bukti bahwa kegagalan mencapai target sama dengan mengingkari kepercayaan petani.
"Para Eselon I Kementan, minta maaf saya. Aku minta maaf. Eselon I pernah kami copot delapan dalam satu hari Bapak Presiden, pernah 11 satu hari. Aku copot 11 orang. Tidak capai target, you menjadi target. Jadi, kami teruskan saja perintah Bapak Presiden," beber Amran.
Pemberantasan praktik korupsi, kolusi, dan mafia pertanian
Presiden Prabowo Subianto bersama Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas), serta Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Sekti Wahyu Trenggono, memantau proses panen raya di area persawahan Kecamatan Cilebar, Karawang Timur, Jawa Barat, Rabu (7/1/2026).
Amran menegaskan komitmen Kementan untuk menjalankan seluruh arahan Presiden tanpa kompromi, termasuk memberantas praktik korupsi, kolusi, dan mafia pertanian.
Seluruh langkah tersebut diarahkan untuk memastikan swasembada pangan tercapai sebagai fondasi kedaulatan dan kesejahteraan nasional yang berkelanjutan.
Ia juga menegaskan keseriusannya mengawal swasembada beras, meski sempat mengalami gangguan kesehatan akibat tekanan kerja.
Namun, tanggung jawab negara dinilai jauh lebih utama.
"Di saat (target swasembada beras) menjadi satu tahun, alhamdulillah kami vertigo, kami asam lambung, hari ini sudah mulai sembuh, recovery kembali," katanya lagi.
Menurut Amran, percepatan target swasembada dari empat tahun menjadi tiga hingga satu tahun merupakan tantangan besar yang dihadapi bersama seluruh jajaran Kementerian Pertanian dan pemangku kepentingan lintas sektor.
Selain itu, ia mengapresiasi dukungan Presiden Prabowo Subianto terhadap sektor pertanian melalui alokasi anggaran sekitar Rp 40 triliun pada tahun ini, yang disebut sebagai anggaran tertinggi sepanjang sejarah dan berdampak signifikan terhadap peningkatan nilai ekonomi nasional.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang