Kenapa Istri Presiden Venezuela Ikut Digelandang AS? Ini Dakwaan Berat untuk Cilia Flores
Sabtu 3 Januari 2026, Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores ditangkap. Sejumlah pasukan elit AS, Delta Force menggelandang keduanya dari kediaman mereka menggunakan helikopter menuju New York Amerika Serikat.
Penangkapan terhadap Cilia Flores juga membuat pertanyaan besar bagi publik. Mengapa ibu negara Venezuela itu juga ikut digelandang? Apa saja dakwaan yang dialamatkan Amerika Serikat kepada Cilia Flores?
Meski terlihat biasa saja, namun siapa sangka Cilia Flores punya kekuataan besar dalam peta politik di Venezuela.Flores telah lama disebut memiliki kekuatan setara atau bahkan terkadang lebih besar dibanding tokoh-tokoh lain dalam rezim pemerintahan negara tersebut, termasuk Delcy Rodríguez, mantan wakil presiden yang kini menjabat sebagai pemimpin sementara negara.
Terkait dengan dakwaan yang dialamatkan kepadanya, jaksa AS menuduh pasangan presiden ini mendapat keuntungan dari perdagangan narkoba berskala besar yang mengisi kantong pejabat Venezuela dan keluarga mereka, sekaligus menguntungkan narco-teroris yang beroperasi dengan impunitas di Venezuela dan membantu memproduksi, melindungi, serta mengirim ton-ton kokain ke AS.
Jaksa menuduh pasangan ini bagian dari Cartel de los Soles (Kartel Matahari), yang dianggap AS sebagai organisasi kriminal, meski analis keamanan menyebutnya bukan kelompok nyata. Melainkan deskripsi dramatis tentang bagaimana Maduro membiarkan jaringan kriminal termasuk pejabat militer senior, mengeksploitasi industri ilegal seperti penyelundupan kokain.
Dakwaan menyebut Flores menerima ratusan ribu dolar AS atau setara kurang lebih Rp 1,5 miliar suap untuk mengatur pertemuan pada 2007 antara seorang pengedar narkoba berskala besar dengan kepala badan anti-narkoba Venezuela saat itu. Menurut jaksa, kedua pihak sepakat membayar suap bulanan plus 100 ribu USD atau setara Rp 1,5 miliar untuk menjamin setiap penerbangan kokain aman, sebagian dibayarkan kepada Flores.
Dokumen dakwaan juga menyinggung peristiwa 2015, ketika dua keponakannya ditangkap agen AS karena merencanakan pengiriman kokain ratusan kilogram dari hanggar presiden di bandara Venezuela, dengan tujuan mengumpulkan 20 juta USD atau setara Rp300 miliar untuk mendanai kampanye kongres Flores. Kedua keponakan divonis bersalah di AS pada 2016.
Flores dan Maduro menolak semua tuduhan. Di sidang hari Senin, pengacaranya, Mark Donnelly, mengatakan Flores mengalami cedera serius selama operasi militer yang menyebabkan penangkapannya, kemungkinan patah tulang atau cedera punggung serius, sehingga membutuhkan pemeriksaan medis lengkap.
“Saya yakin Maduro dan Flores tidak menyangka hal ini terjadi. Sidang itu mungkin menjadi hari terakhir mereka bertemu dan saya bisa membayangkan betapa beratnya bagi mereka setelah menghabiskan seluruh hidup bersama,” ujar Golinger.