Rusia dan China Ungkap Dukungan ke Delcy Rodriguez sebagai Presiden Sementara Venezuela

Delcy Rodriguez, Nicolas Maduro, Rusia dan China Ungkap Dukungan ke Delcy Rodriguez sebagai Presiden Sementara Venezuela

Rusia dan China menyatakan sikap resmi menyusul penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan Amerika Serikat (AS) dalam operasi militer di Caracas.

Dukungan disampaikan setelah Delcy Rodriguez dilantik sebagai presiden sementara Venezuela pada Senin (5/1/2026).

Pemerintah Moskow dan Beijing menegaskan pentingnya penghormatan terhadap kedaulatan dan hukum internasional.

Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik terkait krisis Venezuela.

Sikap Rusia Soal Pemerintahan Sementara Venezuela

Rusia menyambut baik langkah pemerintah Venezuela dalam menjaga kedaulatan negara dan kepentingan nasionalnya setelah Delcy Rodriguez dilantik sebagai presiden sementara.

Dukungan tersebut disampaikan menyusul operasi militer “skala besar” AS pada Sabtu yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro.

“Kami menegaskan kembali solidaritas Rusia yang tak tergoyahkan dengan rakyat dan pemerintah Venezuela,” menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Rusia pada Selasa (6/1/2026).

Kemlu Rusia juga menyampaikan harapan agar Rodriguez mampu menghadapi berbagai tantangan yang dihadapi Venezuela dalam situasi krisis saat ini.

Selain itu, Rusia menyatakan dukungan terhadap upaya meredakan eskalasi dan mendorong penyelesaian masalah melalui dialog, serta penghormatan terhadap norma hukum internasional, terutama Piagam PBB.

“Amerika Latin dan Karibia harus tetap menjadi kawasan damai. Pembangunan berdaulat negara-negara di kawasan tersebut harus dijamin,” kata Kemlu Rusia.

Dalam pernyataannya, Rusia juga menegaskan bahwa “Venezuela harus dijamin haknya untuk menentukan masa depannya sendiri tanpa campur tangan eksternal yang merusak.”

China Hormati Kedaulatan dan Konstitusi Venezuela

China pada Selasa (6/1/2026) turut menyatakan dukungan terhadap Delcy Rodriguez sebagai pemimpin sementara Venezuela.

Dukungan ini disampaikan setelah penangkapan Presiden Nicolás Maduro dalam intervensi militer AS di Caracas.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning mengatakan pemerintahnya menghormati kedaulatan dan kemerdekaan Venezuela, serta menghormati keputusan yang diambil pemerintah Venezuela sesuai dengan konstitusi dan hukum nasionalnya.

Pernyataan tersebut disampaikan Mao saat menjawab pertanyaan wartawan mengenai apakah China mengakui pemerintahan sementara Venezuela yang dipimpin Rodriguez, seperti dilaporkan harian Global Times.

Rodriguez, yang menjabat sebagai wakil presiden sekaligus menteri perminyakan, secara resmi dilantik sebagai presiden sementara pada Senin, menyusul operasi militer “skala besar” AS terhadap Venezuela pada Sabtu.

Dalam operasi tersebut, Maduro dan istrinya, Cilia Flores, ditangkap dan diterbangkan ke AS untuk menghadapi dakwaan pidana di pengadilan New York.

Respons China atas Operasi Militer AS

Saat ditanya apakah China akan mendorong sanksi terhadap AS, Mao mengatakan bahwa AS telah mengabaikan keprihatinan serius komunitas internasional dan “secara sewenang-wenang menginjak-injak kedaulatan, keamanan, serta hak dan kepentingan Venezuela yang sah.”

“China dengan tegas menentang hal ini. Kami mendukung Dewan Keamanan PBB untuk menjalankan tanggung jawab utamanya dalam menjaga perdamaian dan keamanan internasional,” kata Mao.

Pada Senin, Maduro dan Flores menghadapi sidang pembacaan dakwaan yang dipimpin Hakim Alvin Hellerstein di New York.

Keduanya menyatakan tidak bersalah atas dakwaan federal AS terkait perdagangan narkoba dan dugaan kerja sama dengan kelompok yang ditetapkan sebagai organisasi teroris.

Mao menilai Amerika Serikat telah mengabaikan status Maduro sebagai kepala negara Venezuela dengan secara terbuka menuntut dan menggelar “persidangan” di pengadilan AS.

“Tindakan ini adalah pelanggaran serius terhadap kedaulatan nasional Venezuela dan merusak stabilitas hubungan internasional,” katanya, seperti dikutip kantor berita China Xinhua.

“Tak ada negara yang boleh menempatkan aturan dalam negerinya di atas hukum internasional,” katanya, menambahkan.

Sebelumnya, China juga mengecam serangan AS tersebut dan mendesak pemerintahan Presiden Donald Trump untuk menjamin keselamatan serta segera membebaskan presiden dan ibu negara Venezuela.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang