Menteri HAM Minta Polisi Usut Teror terhadap Aktivis dan Influencer

Menteri HAM Natalius Pigai
Menteri HAM Natalius Pigai

Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Natalius Pigai, meminta aparat kepolisian mengusut sederet aksi teror terhadap sejumlah aktivis dan pemengaruh (influncer), usai mengkritik penanganan banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera pada akhir November 2025.

"Terkait maraknya teror yang menimpa influencer, saya minta kepada aparat kepolisian untuk mengusut secara tuntas agar diketahui apa motif dan siapa pelakunya," kata Pigai dalam keterangannya, dikutip Sabtu, 3 Januari 2026.

Pigai mengapresiasi siapa pun, termasuk para influencer, yang memanfaatkan hak kebebasan berpendapat untuk menyampaikan kritik.

Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai

"Saat ini kita menikmati surplus demokrasi, yakni hak berpendapat atas pikiran dan perasaan yang dijamin tanpa adanya protokol lalu lintas. Dalam situasi ini, tidak mungkin institusi, apalagi negara, menghalangi kebebasan tersebut," ujarnya.

Meski demikian, Pigai mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam berpendapat. Dalam praktiknya, kritik yang disampaikan kerap kali bergeser menjadi serangan terhadap kehormatan individu maupun institusi.

Pigai menyatakan, tidak tertutup kemungkinan ada pihak yang memanfaatkan narasi tersebut untuk berpura-pura sebagai korban (playing victim), demi menaikkan jumlah pelanggan dan pengikut media sosial serta memicu gangguan kehormatan interpersonal.

Oleh sebab itu, Dia mengatakan perlu kehati-hatian agar ruang demokrasi tidak disalahgunakan, baik untuk kepentingan pribadi ataupun pihak tertentu. Selain itu, Pigai juga meminta para influencer agar dalam menyampaikan kritik, tidak serta-merta membingkai pemerintah sebagai pelaku.

Sebab hingga kini, belum ada pihak yang dapat dipastikan bertanggung jawab atas bencana yang terjadi di berbagai daerah di wilayah utara Sumatera itu, tanpa melalui penyelidikan aparat penegak hukum.

Pigai mengatakan, kebebasan berpendapat kerap diiringi dengan praktik penggiringan opini menggunakan logika sesat, seperti serangan pribadi (ad hominem), manipulasi emosi, generalisasi berlebihan, hingga pengaburan sebab-akibat.

Oleh karena itu, Dia pun mengajak masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh pola-pola sesat pikir tersebut, dan tetap bersikap rasional serta objektif dalam menilai informasi terutama di media sosial.

Sementara itu, terkait penanganan bencana di Sumatera, Pigai menyatakan bahwa pemerintah telah menunjukkan keseriusan melalui kerja nyata yang sistematis, masif, dan terencana.

Pemerintah menurutnya telah menjalankan dua tahap utama, yakni tahap tanggap darurat dan tahap pembangunan infrastruktur sebagai bagian dari upaya pemulihan masyarakat terdampak.

"Semua orang tentu tahu dan telah menyaksikan bahwa hampir setiap minggu Presiden datang ke Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat," ujarnya.

Diketahui, sebelumnya sejumlah kreator konten atau influencer mendapat ancaman dan teror di kediaman pribadi mereka, yakni Ramon Dony Adam alias DJ Donny, Sherly Annavita, dan Chiki Fawzi.

Adapun DJ Donny telah melaporkan teror yang terjadi di rumahnya oleh orang tidak dikenal, dan menyebut teror itu sudah terjadi dua kali yakni pada Senin (29/12) dan Rabu (31/12) dini hari.

"Jadi, kemarin saya dapat teror, dikirim bangkai ayam ke rumah saya. Lalu, semalam jam 3.00 WIB, di CCTV (kamera pengawas) terekam orang melempar molotov ke rumah saya," kata Donny saat ditemui di Polda Metro Jaya, Rabu, 31 Desember 2025.

Sherly Annavita juga mendapati mobilnya dicoret-coret oleh orang tidak dikenal, sementara Chiki Fawzi mendapat ancaman digital. Para influencer tersebut mengaku mendapat teror setelah menyampaikan kritik terhadap penanganan bencana di Sumatera oleh pemerintah.

Selain itu, Greenpeace Indonesia menyampaikan salah satu aktivisnya, Iqbal Damanik, turut mendapat ancaman teror di rumahnya. Teror itu berupa pengiriman bangkai ayam dan pesan bernada ancaman yang dituliskan pada secarik kertas.

"Jagalah ucapanmu apabila Anda ingin menjaga keluargamu. Mulutmu harimaumu," sebagaimana dikutip dari pernyataan Greenpeace Indonesia melalui akun Instagram resminya.