Kisah Asep Si Penjual Cilok, Jalan Kaki Bandung-Ciamis karena Tak Mampu Beli Tiket Mudik

Kisah Asep Si Penjual Cilok, Jalan Kaki Bandung-Ciamis karena Tak Mampu Beli Tiket Mudik

 Di tengah ramainya arus mudik Lebaran, seorang pria bernama Asep Kumala Seta memilih cara berbeda untuk pulang ke kampung halaman.

Dilansir dari ANTARA News, Asep berjalan kaki dari Bandung menuju Sindangkasih, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

Ia memulai perjalanan dari kawasan Cibaduyut dengan tekad kuat meski harus menempuh jarak jauh tanpa kendaraan.

“Saya jalan dari Cibaduyut, rencananya mau sampai ke Ciamis,” ujar Asep.

Selama dua tahun terakhir, Asep merantau di Bandung sebagai penjual cilok.

Namun, kondisi ekonomi yang sulit membuatnya tidak mampu membeli tiket transportasi untuk mudik.

Penghasilannya tidak menentu, bahkan ia harus menyetor Rp70.000 per hari, dengan sisa keuntungan yang kerap kurang dari Rp50.000.

Keterbatasan tersebut membuatnya memilih berjalan kaki. Ia hanya membawa tas sederhana, sisa dagangan cilok, serta perlengkapan seadanya untuk perjalanan panjang.

Bahkan, ia mengaku tidak menerima tunjangan hari raya berupa uang, tetapi hanya 50 butir cilok dan sebotol sirup.

Dalam perjalanan, Asep tidak sepenuhnya berjalan kaki. Ia sesekali menumpang kendaraan barang yang melintas untuk menghemat tenaga.

Namun, perjalanan tidak selalu mulus. Saat menumpang truk di Nagreg, ia sempat terbawa ke arah Kadungora, Kabupaten Garut, sehingga harus kembali ke jalur semula.

Untuk beristirahat, Asep memanfaatkan masjid atau emperan toko di sepanjang jalan.

“Kalau capek ya istirahat di masjid. Kadang juga di emper toko,” katanya.

Meski menghadapi berbagai kendala, Asep tetap optimistis bisa sampai di kampung halamannya.

Ia memperkirakan dapat tiba pada pagi hari jika terus berjalan, sambil berharap ada kendaraan yang memberinya tumpangan.

Perjalanan ini bukan hanya soal jarak, tetapi juga tentang perjuangan. Keluarganya di Ciamis telah menanti kepulangannya setelah dua tahun merantau.

Setelah Lebaran, Asep berencana kembali bekerja, bahkan mempertimbangkan kembali menjadi nelayan seperti sebelumnya.

Kisah Asep menjadi gambaran nyata bahwa mudik bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan juga perjalanan penuh perjuangan demi bisa berkumpul bersama keluarga tercinta.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang