Efisiensi Masih Berlangsung, Amazon PHK Karyawan Lagi Jelang 2026

Ilustrasi kantor Amazon
Ilustrasi kantor Amazon

 Gelombang penyesuaian tenaga kerja di perusahaan teknologi global belum sepenuhnya mereda. Di tengah tekanan efisiensi, perlambatan ekonomi global, serta percepatan adopsi kecerdasan buatan, perusahaan besar terus mengevaluasi struktur organisasinya. 

Amazon menjadi salah satu raksasa teknologi yang masih aktif melakukan peninjauan ulang tersebut, meski sebelumnya sudah mengumumkan pemangkasan karyawan dalam skala besar.

Bagi pasar tenaga kerja, langkah-langkah ini kerap menimbulkan kebingungan. Ketika perusahaan menyatakan gelombang PHK telah diumumkan, muncul kembali kabar pemutusan hubungan kerja baru yang diklaim tidak terkait. 

Kondisi ini kembali terjadi pada Amazon, yang baru saja mengajukan pemberitahuan resmi terkait pengurangan jumlah karyawan di negara bagian Washington, Amerika Serikat. Berdasarkan laporan yang dikutip dari GeekWire, Amazon mengungkapkan bahwa sebanyak 84 posisi akan dipangkas. 

Perusahaan menegaskan bahwa langkah ini tidak berkaitan dengan rencana pemangkasan 14.000 karyawan korporat secara global yang telah diumumkan pada Oktober lalu.

Dalam pernyataannya, Amazon menjelaskan bahwa setiap unit bisnis secara rutin meninjau struktur organisasinya dan dapat melakukan penyesuaian jika diperlukan. Perusahaan menyebut proses ini sebagai bagian dari evaluasi internal yang bersifat rutin dan tidak terhubung dengan aksi pengurangan tenaga kerja skala besar.

Ilustrasi PHK

Pemberitahuan tersebut diajukan seiring dengan berlakunya undang-undang baru di negara bagian Washington. Regulasi ini mewajibkan perusahaan untuk melaporkan seluruh pemutusan hubungan kerja yang terjadi dalam kurun 90 hari sejak pemberitahuan sebelumnya, sesuai dengan versi terbaru Worker Adjustment and Retraining Notification Act atau WARN Act.

Amazon menegaskan bahwa jumlah karyawan yang terdampak tergolong relatif kecil. Juru bicara Amazon, Brad Glasser, menyampaikan bahwa keputusan ini diambil melalui pertimbangan matang.

“Kami telah memberi tahu sejumlah kecil karyawan bahwa peran mereka akan dihapus sebagai hasil dari keputusan bisnis masing-masing,” ujar Brad Glasser, sebagaimana dikutip dari Times of India, Rabu, 17 Desember 2025.

“Kami tidak membuat keputusan seperti ini dengan ringan,” tambahnya.

Glasser juga menyampaikan bahwa Amazon memberikan dukungan kepada karyawan terdampak, termasuk 90 hari gaji penuh dan tunjangan, perlindungan kesehatan transisi, serta layanan bantuan penempatan kerja.

Berdasarkan dokumen resmi yang diajukan ke otoritas negara bagian, pemangkasan ini dijadwalkan berlangsung antara 2 Februari hingga 23 Februari 2026. Pemangkasan ini mencakup lebih dari 30 lokasi kantor Amazon di Seattle dan Bellevue, serta enam pekerja jarak jauh yang berbasis di Washington.

Posisi yang terdampak cukup beragam, mulai dari software development engineer, program manager, perekrut, spesialis sumber daya manusia, hingga desainer UX. Tingkatan jabatan pun bervariasi, dari level pemula hingga direktur dan prinsipal.

Amazon juga mencatat bahwa pemberitahuan kepada karyawan telah dimulai sejak awal November. Para pekerja menerima setidaknya 89 hari pemberitahuan sebelumnya, lebih lama dari batas minimum 60 hari yang diwajibkan oleh undang-undang. 

Perusahaan menambahkan bahwa karyawan yang berhasil mendapatkan mutasi internal sebelum tanggal tersebut, tidak akan terkena PHK. 

Pada Oktober lalu, Amazon mengumumkan rencana pemutusan hubungan kerja terhadap 2.303 karyawan korporat di negara bagian Washington. Mayoritas posisi tersebut berada di kantor Seattle dan Bellevue. Informasi itu disampaikan melalui pengajuan resmi ke State Employment Security Department.

Data tersebut menjadi rincian geografis pertama dari total rencana pemangkasan 14.000 karyawan Amazon secara global. Daftar rinci dalam dokumen negara bagian menunjukkan bahwa posisi yang terdampak meliputi insinyur perangkat lunak, manajer program, manajer produk, desainer, serta sejumlah besar staf perekrutan dan sumber daya manusia.

Amazon secara resmi mengumumkan gelombang pemangkasan global tersebut pada 27 Oktober sebagai bagian dari strategi CEO Andy Jassy untuk merampingkan operasional perusahaan. Sebelumnya, pada Juni, Jassy telah menyatakan bahwa meningkatnya penggunaan alat kecerdasan buataln yang berpotensi memicu pengurangan tenaga kerja tambahan, terutama pada pekerjaan yang bersifat repetitif dan rutin.

Sinyal serupa juga disampaikan oleh kepala HR Amazon, Beth Galetti. Dalam sebuah memo internal, perusahaan mengindikasikan bahwa langkah efisiensi dan penyesuaian tenaga kerja masih akan berlanjut hingga 2026.