Asal Usul Hantavirus, Penyakit dari Tikus Ini Sudah Menyebar Sejak Puluhan Tahun Lalu

Ilustrasi tikus.
Ilustrasi tikus.

Hantavirus kembali menjadi sorotan dunia setelah muncul laporan kasus yang memicu kekhawatiran di sejumlah negara. Virus yang dibawa hewan pengerat seperti tikus ini memang bukan penyakit baru, namun penyebarannya terus diawasi karena dapat menyebabkan gangguan pernapasan hingga komplikasi serius pada manusia.

Dalam beberapa tahun terakhir, para peneliti juga menyoroti hubungan antara perubahan iklim, peningkatan populasi tikus, dan potensi lonjakan kasus hantavirus. Scroll untuk info lebih lanjut...

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Meski kasusnya tergolong jarang dibanding penyakit menular lain, tingkat fatalitas hantavirus cukup tinggi, sehingga masyarakat perlu memahami bagaimana sejarah penyebaran virus ini berkembang dari masa ke masa.

Berikut sejarah penyebaran hantavirus di dunia, sebagaimana dirangkum pada Senin, 11 Mei 2026.

Sejarah Penyebaran Hantavirus

1. Berawal dari Perang Korea pada 1950-an

Sejarah hantavirus mulai dikenal dunia saat Perang Korea berlangsung pada awal 1950-an. Kala itu, ribuan tentara Perserikatan Bangsa-Bangsa mengalami penyakit misterius berupa demam tinggi, pendarahan, hingga gangguan ginjal serius.

Penyakit tersebut kemudian dikenal sebagai Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome atau HFRS. Para ilmuwan akhirnya menemukan bahwa penyakit itu berkaitan dengan virus yang dibawa tikus liar di sekitar wilayah Sungai Hantan, Korea Selatan. Dari sinilah nama “hantavirus” berasal.

2. Virus penyebab baru berhasil diidentifikasi pada 1970-an

Meski wabahnya terjadi sejak 1950-an, peneliti baru berhasil mengisolasi virus penyebabnya pada era 1970-an. Penemuan ini menjadi langkah penting dalam penelitian penyakit zoonosis atau penyakit yang berasal dari hewan.

Setelah virus berhasil dikenali, ilmuwan mulai memahami bahwa hantavirus terdiri dari berbagai jenis dan tersebar di banyak negara dengan hewan pembawa yang berbeda-beda.

3. Amerika Serikat digegerkan wabah misterius pada 1993

Hantavirus kembali menarik perhatian global pada 1993 setelah muncul wabah mematikan di wilayah Four Corners, Amerika Serikat, yang meliputi Arizona, Utah, Colorado, dan New Mexico.

Sejumlah orang muda yang sebelumnya sehat tiba-tiba mengalami sesak napas berat dan meninggal dunia hanya dalam waktu singkat. Setelah dilakukan investigasi, penyebabnya diketahui berasal dari virus yang dibawa deer mouse atau tikus rusa.

Kasus tersebut kemudian dikenal sebagai Hantavirus Pulmonary Syndrome atau HPS, yakni jenis hantavirus yang menyerang paru-paru dan sistem pernapasan.

4. Penyebaran meluas ke Asia, Eropa, hingga Amerika Selatan

Setelah penelitian berkembang, kasus hantavirus ditemukan di berbagai negara. Di Asia dan Eropa, jenis yang paling umum adalah HFRS yang menyerang ginjal dan pembuluh darah.

China menjadi salah satu negara dengan jumlah kasus tertinggi di dunia. Selain itu, Korea Selatan, Rusia, Finlandia, Swedia, dan beberapa negara Eropa lainnya juga rutin melaporkan infeksi hantavirus setiap tahun.

Sementara di Amerika Selatan, negara seperti Argentina dan Chile memiliki varian Andes virus yang cukup terkenal karena berbeda dari jenis lainnya.

5. Andes virus disebut bisa menular antarmanusia

Sebagian besar hantavirus menular melalui urine, air liur, atau kotoran tikus yang terhirup manusia. Namun Andes virus di Amerika Selatan menjadi perhatian khusus karena diduga dapat menular dari manusia ke manusia dalam kontak dekat tertentu.

Argentina pernah mengalami wabah Andes virus yang cukup besar pada 1996. Kasus itu menjadi salah satu bukti awal kemungkinan penularan antarmanusia pada hantavirus, meski kejadiannya tergolong langka.

6. Perubahan iklim ikut meningkatkan risiko penyebaran

Para ahli kesehatan global mulai mengaitkan perubahan iklim dengan peningkatan risiko hantavirus. Curah hujan tinggi setelah musim kering panjang dapat membuat populasi tikus meningkat drastis.

Saat jumlah hewan pengerat bertambah, risiko manusia terpapar kotoran atau urine tikus juga meningkat. Karena itulah beberapa negara mulai memperketat pengawasan terhadap penyakit zoonosis seperti hantavirus.

7. Kembali jadi perhatian dunia pada 2026

Pada 2026, hantavirus kembali menjadi perhatian internasional setelah muncul wabah yang dikaitkan dengan kapal pesiar MV Hondius. Beberapa penumpang dilaporkan terinfeksi Andes virus sehingga memicu pelacakan kontak di berbagai negara.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Meski Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menilai risiko penyebaran global masih rendah, kasus ini menunjukkan bahwa hantavirus tetap menjadi ancaman kesehatan yang perlu diwaspadai hingga sekarang.

Di Indonesia sendiri, kasus hantavirus memang tergolong jarang ditemukan. Namun para ahli tetap mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan rumah, mengendalikan populasi tikus, serta berhati-hati saat membersihkan area yang berpotensi terkontaminasi kotoran hewan pengerat.