PBNU Umumkan 4 Keputusan Strategis: Katib Aam, Reposisi, Munas, dan Muktamar
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar rapat gabungan jajaran Syuriah dan Tanfidziyah di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, menghasilkan sejumlah keputusan penting terkait konsolidasi organisasi dan agenda strategis NU ke depan.
Wakil Ketua Umum PBNU Mohammad Mukri menyampaikan empat poin utama hasil rapat gabungan yang digelar Sabtu (13/12/2025) sore tersebut sebagai berikut:
1. Penetapan Katib Aam PBNU
Rapat gabungan menyepakati adanya reposisi pada jabatan Katib Aam PBNU. Dalam keputusan tersebut, Prof. Dr. H. Muhammad Nuh resmi ditetapkan sebagai Katib Aam PBNU.
“Di antara hasil yang tadi disepakati adalah adanya reposisi Katib Aam. Jadi Katib Aam PBNU sejak hari ini tadi ditetapkan lewat rapat gabungan, Katib Aam PBNU hari ini adalah Bapak Profesor Doktor Haji Muhammad Nuh,” kata Mukri.
Pj Ketum PBNU Zulfa Mustofa dan Rais Syuriyah PBNU, Mohammad Nuh
2. Reposisi Kepengurusan PBNU
Selain Katib Aam, rapat juga menyetujui reposisi pada sejumlah posisi lain di struktur kepengurusan PBNU. Namun, pembahasan teknis terkait perubahan tersebut akan ditindaklanjuti oleh tim khusus.
“Kemudian juga ada reposisi-reposisi yang lain tapi nanti itu akan diserahkan tim, di mana tim itu diketuai langsung oleh Rais Aam dan juga Pj Ketum PBNU,” ujarnya.
3. Pembentukan Panitia Munas dan Harlah 1 Abad Masehi NU
Rapat gabungan turut memutuskan pembentukan panitia penyelenggara Musyawarah Nasional (Munas) serta peringatan Hari Lahir (Harlah) satu abad Masehi Nahdlatul Ulama sebagai bagian dari agenda besar organisasi.
4. Persiapan Muktamar NU
Mukri menjelaskan, Munas mendatang akan difokuskan untuk menyiapkan pelaksanaan Muktamar NU. Pembahasan mencakup persiapan awal, termasuk waktu dan lokasi penyelenggaraan, meski belum ditetapkan secara detail.
“Tadi fokus kita di antaranya adalah menyiapkan Muktamar yang akan datang. Untuk tempat dan waktu persisnya belum ditentukan,” ujarnya.
Rapat gabungan tersebut dihadiri oleh Rais Aam PBNU, Wakil Rais Aam Buya KH Afifuddin Muhajir, serta Penjabat Ketua Umum PBNU hasil rapat pleno Jakarta, KH Zulfa Mustofa. (Sumber ANTARA)