Medan dan Batak, Apakah Sama? Ini Fakta dan Sejarahnya
Meskipun sama-sama berada di Sumatera Utara, Medan dan Batak adalah hal yang berbeda. Medan merujuk pada nama kota, sementara Batak adalah suku bangsa.
Seringkali Medan disebut Batak, padahal ada berbagai suku yang terdapat di Medan.
“Medan tidak identik dengan Batak. Medan itu multikultur (multikultural),” terang Rizky Nasution, Direktur Program Komunitas Medan Heritage, melalui pesan singkat, Jumat (14/11/2025).
Banyaknya suku yang terdapat di Medan, tidak terlepas dari sejarah kota tersebut terutama sejarah perkebunannya.
Berikut ini penjelasan lebih lanjut mengenai Medan dan Batak.
Medan
Dilansir dari laman Universitas Sumatera Utara, Medan merupakan kota terbesar ketiga di Indonesia setelah DKI Jakarta dan Surabaya.
Kota ini juga menjadi yang terbesar di luar Pulau Jawa sekaligus pusat perekonomian terbesar di Pulau Sumatera.
Sebagai pintu gerbang wilayah Indonesia bagian barat, Medan didukung oleh Pelabuhan Belawan serta Bandar Udara Internasional Kualanamu, bandara terbesar kedua di Indonesia.
Letaknya yang berbatasan dengan Selat Melaka menjadikan Medan sebagai kota perdagangan, industri, dan bisnis yang strategis.
Sejarah Perkebunan Sumatera Timur
Dilansir dari buku Sejarah Sosial: Daerah Sumatra Utara Kotamadya Medan, karya Usman pelly, Rata R, dan Soenyata Kartadarmadja, Jakarta, 1984.
Perkebunan di Sumatera Timur mulai dibangun oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1808.
Tanah perkebunan diperoleh dari para sultan Melayu melalui perjanjian hak pakai selama 70 tahun yang diberikan kepada pengusaha perkebunan Belanda.
Memasuki abad ke-20, sebagian besar daratan subur Sumatera Timur berubah dari hutan dan perkebunan rakyat menjadi area perkebunan skala besar milik Belanda.
Berbagai komoditas ekspor dikembangkan, mulai dari tembakau, karet, kelapa sawit, teh, kopi, sisal, hingga coklat.
Politik Pintu Terbuka dan Arus Migrasi
Untuk menopang perkembangan perkebunan, Pemerintah Belanda menerapkan politik "pintu terbuka" bagi para pendatang dari dalam maupun luar negeri.
Kebijakan tersebut memicu perpindahan berbagai kelompok etnis ke wilayah Sumatera Timur, termasuk Aceh, suku-suku Batak, dan Minangkabau.
Kota Medan menjadi tujuan utama para perantau karena perkembangan ekonominya yang pesat.
Tenaga Kerja dari Luar dan Dalam Negeri
Perusahaan-perusahaan perkebunan Belanda tidak merekrut tenaga kerja lokal seperti orang Melayu dan Karo. Sebaliknya, mereka mendatangkan pekerja dari luar kawasan.
Langkah pertama dimulai pada tahun 1870 dengan mendatangkan tenaga kerja Cina dari Penang dan Singapura melalui jaringan pengusaha di kedua kota tersebut.
Selain itu, gelombang besar pendatang dari Jawa yang bekerja sebagai kuli kontrak juga mengalir ke Sumatera Timur.
Etnis Mandailing dari Tapanuli Selatan disebut sebagai kelompok pendatang utama yang sudah hadir di Medan sebelum perkebunan dibuka.
Arus perantau Mandailing semakin besar setelah industri perkebunan berkembang. Seiring itu, masyarakat Minangkabau juga turut meramaikan arus migrasi menuju Kota Medan.
Medan Sebagai Kota Multikultural
Beragam kelompok etnis yang datang dan menetap di Medan menjadikan kota ini tumbuh sebagai pusat multikultur.
Keberagaman suku, budaya, dan profesi membentuk karakter Kota Medan seperti yang dikenal hingga kini.
Pengunjung dari pesantren on the road yang baru datang di Istana Maimun berfoto di halaman Istana Maimun yang sejak hari ini hingga 14 hari ke depan ditutup untuk mencegah penyebaran covid-19.
Batak
Batak merupakan salah satu suku besar yang mendiami wilayah sekitar Danau Toba, Sumatera Utara. Persebarannya hampir merata di seluruh provinsi tersebut.
Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, jumlah penduduk Suku Batak mencapai 8.466.969 jiwa, atau setara 3,58 persen dari total populasi Indonesia saat itu.
Asal Usul Nenek Moyang Suku Batak
Dilansir dari Kompas.com (04/07/2025), dalam buku Suku-suku Bangsa di Sumatera karya Giyanto, dijelaskan bahwa nenek moyang Suku Batak berasal dari kelompok Proto Melayu atau Melayu Tua.
Kelompok ini diperkirakan berasal dari Asia Selatan, kemudian bermigrasi ke Nusantara melalui Sumatera.
Dari Semenanjung Malaya, mereka menyeberang menuju Pulau Sumatera dan akhirnya menetap di kawasan Danau Toba.
Proto Melayu kemudian membangun pemukiman awal di Sianjur Mula-mula, yang berkembang dan menyebar ke berbagai wilayah sekitar.
“Ada beberapa versi tentang nenek moyang suku bangsa Batak. Salah satu versi menyebutkan bahwa nenek moyang suku bangsa Batak adalah si Raja Batak,” tulis Giyanto.
Dalam buku Tarombo Borbor Marsada yang dikutip Giyanto, disebutkan bahwa Raja Batak memiliki tiga orang putra, yang kemudian menjadi cikal bakal marga-marga dalam masyarakat Batak.
Subsuku dalam Suku Batak
Menurut Giyanto, terdapat sebelas subsuku Batak, yakni Batak Karo, Batak Toba, Batak Papa, Batak Simalungun, Batak Angkola, Batak Mandailing, Batak Dairi, Batak Nias, Batak Alas, Batak Gayo, dan Batak Kluet.
“Dari subsuku bangsa tersebut, ada lima subsuku bangsa yang menjadi subetnis utama Batak, yaitu Toba, Pakpak, Simalungun, Karo, dan Mandailing,” terang Giyanto.
Sejumlah subsuku kemudian membangun identitas baru dan berkembang menjadi suku yang berbeda, seperti Gayo yang berkembang menjadi Suku Gayo dan Nias yang menjadi Suku Nias.
Sebagian artikel telah tayang di Kompas.com dengan judul: .
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih. Berikan apresiasi sekarang