Medan Terkenal karena Apa? Ini Sejarah Perkebunan dan Arus Pendatangnya 

Medan, Sejarah perkebunan, Sumatera Utara, Medan Terkenal karena Apa, Sejarah Perkebunan, Medan Terkenal karena Apa? Ini Sejarah Perkebunan dan Arus Pendatangnya , Perkebunan Tidak Memperkerjakan Tenaga Lokal, Perkerja Perkebunan dari Cina, Gelombang Pendatang dari Jawa, Kehadiran Etnis Mandailing dan Minangkabau di Medan, Perubahan Komposisi Etnis di Medan pada 1920-1930, Pertumbuhan Medan Secara Fisik

Medan adalah ibu kota Provinsi Sumatera Utara. Saat ini, Medan merupakan kota terbesar ketiga di Indonesia, setelah Jakarta dan Surabaya.  

Terletak di Pulau Sumatra, Medan telah berkembang menjadi pusat perdagangan, industri, dan bisnis yang sangat penting di Indonesia. 

Dengan sejarah yang panjang, Medan terus memainkan peran vital dalam perekonomian nasional.

Apa yang Terkenal di Medan? 

Beberapa kekayaan Medan, seperti bangunan bersejarah dan kuliner, dikenal luas oleh masyarakat. 

Jika ditelusuri lebih jauh, Medan memiliki sejarah panjang dan mempengaruhi perkembangan kota saat ini. 

“Medan terkenal karena sejarah perkebunannya,” terang Direktur Program Komunitas Medan Heritage, Rizky Nasution, melalui pesan singkat Jumat (14/11/2025)

Sejarah perkebunan ini melahirkan berbagai warisan budaya intangible (tak benda) dan tangible (benda) yang dirasakan saat ini. 

Sejarah Perkebunan Medan 

Dilansir dari buku “Sejarah Sosial: Daerah Sumatra Utara Kotamadya Medan” karya Usman Pelly, Rata R, dan Soenyata Kartadarmadja. 

Perkebunan di Sumatera Timur dimulai pada tahun 1808 ketika Pemerintah Belanda mengembangkan sektor ini. 

Tanah perkebunan didapatkan dari sultan-sultan Melayu dengan perjanjian hak pakai selama 70 tahun. Hak pakai ini diberikan kepada pengusaha perkebunan Belanda. 

Pada awal abad ke-20, hampir seluruh daratan subur Sumatera Timur, yang sebelumnya berupa hutan dan perkebunan rakyat, berubah menjadi areal-areal perkebunan Belanda yang sangat luas. 

Perusahaan perkebunan ini mengembangkan berbagai tanaman ekspor seperti tembakau, karet, kelapa sawit, teh, kopi, sisal, dan coklat.

Untuk mendukung perkembangan perkebunan, pemerintah Belanda menerapkan kebijakan "pintu terbuka" (open door policy) yang mengundang pendatang dari berbagai wilayah. 

Kebijakan ini mendorong banyak kelompok etnis, seperti orang Aceh, suku Batak, dan Minangkabau, untuk merantau ke Sumatera Timur. Kota Medan menjadi tujuan utama mereka.

Perkebunan Tidak Memperkerjakan Tenaga Lokal

Perusahaan-perusahaan perkebunan tidak merekrut tenaga kerja lokal seperti orang Melayu dan Karo karena alasan dianggap tidak memiliki etos kerja yang cukup. 

Orang Melayu juga tidak menyetujui tanah-tanah subur mereka digunakan untuk perkebunan ekspor Belanda, karena mereka tidak merasakan manfaatnya secara langsung. 

Begitu pula dengan suku Karo, yang menghadapi bentrokan dengan pihak perkebunan saat perluasan perkebunan memasuki perkampungan mereka di sekitar daerah Langkat.

Sebagai solusi, perusahaan perkebunan mulai mendatangkan pekerja dari luar Sumatera Timur.

Perkerja Perkebunan dari Cina

Sekitar tahun 1870, pekerja Cina dari Penang dan Singapura didatangkan melalui pengusaha Cina di kedua kota tersebut. 

Pekerja-pekerja Cina ini merupakan gelombang pendatang pertama yang mendukung perkembangan sektor perkebunan.

Namun pekerja dari Cini ini kemudian melarikan diri, salah satu dipicu adanya kerusuhan antar pekerja. Namun, mereka tetap tinggal di wilayah Sumatera Timur. 

Mereka kemudian menyebar ke kota-kota seperti Medan, Pematang Siantar, Tebing Tinggi, dan Tanjung Balai. 

Di Medan, mereka mengembangkan bidang perdagangan dan pertukangan, membuka toko-toko, kios-kios, serta menjadi penyalur barang dan pemberi pinjaman uang.

Gelombang Pendatang dari Jawa

Selain pekerja Cina, gelombang pendatang dari Jawa juga membanjiri Sumatera Timur sebagai kuli kontrak perkebunan. 

Mereka diangkut dengan kapal dari berbagai pelabuhan di Jawa Tengah dan Jawa Timur. 

Para pekerja ini terikat dalam sistem "Koeli Kontrak," yang memberikan pengusaha perkebunan kekuasaan penuh atas kehidupan mereka dengan imbalan yang sangat minim.

Kehadiran Etnis Mandailing dan Minangkabau di Medan

Pendatang lain yang turut meramaikan Medan adalah orang Mandailing dari Tapanuli Selatan.

Pembukaan perkebunan semakin mendorong masyarakat Mandaialing datang ke Medan, sebelumnya orang Mandailing sudah ada di Medan.  

Selain itu, banyak juga orang Minangkabau dari Sumatera Barat yang datang ke Medan pada awal abad ke-20. Medan menjadi sebagai tujuan perantauan yang lebih populer dari pada Riau, Jambi, dan Bengkulu.

Orang Minangkabau banyak yang bekerja di sektor perdagangan kecil dan pertukangan, sementara orang Mandailing lebih banyak bekerja di pemerintahan dan perkebunan.

Perubahan Komposisi Etnis di Medan pada 1920-1930

Pada periode 1920 hingga 1930, komposisi etnis di Medan mengalami perubahan signifikan. 

Penduduk Medan terdiri dari berbagai kelompok etnis Indonesia, Asia Timur (termasuk Cina), dan bangsa Eropa dengan proporsi yang hampir sama. 

Pertambahan orang Eropa berkaitan erat dengan perkembangan perkebunan, sedangkan orang Cina dan kelompok etnis lainnya berkembang di sektor perdagangan.

Pertumbuhan Medan Secara Fisik

Perkembangan sektor perkebunan, perdagangan, dan transportasi turut memekarkan Medan secara fisik. 

Pembangunan perkantoran, pusat perdagangan, serta perluasan permukiman penduduk menjadi bagian dari kemajuan pesat kota ini.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.