Starting Lineup Terbaik Versi Eric Cantona, Pilihannya Bikin Kaget!
Eric Cantona dikenal sebagai salah satu sosok paling berpengaruh di sepak bola modern. Gaya bermainnya yang khas, kharisma di lapangan, hingga pemikirannya tentang taktik membuat setiap pendapatnya selalu menarik untuk dikupas.
Karena itu, ketika FourFourTwo meminta legenda Manchester United tersebut menyusun "starting linup terbaik" sepanjang masa pada 2006, publik langsung dibuat penasaran.
Meski daftar itu disusun sebelum era Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo mencapai puncaknya, pilihan Cantona tetap menggambarkan betapa dalam pengetahuannya soal sepak bola. Daftar itu diisi pemain-pemain yang dianggapnya sebagai pesepak bola elit dengan kualitas luar biasa.
Dikutip dari Planet Football, Cantona menempatkan Rene Higuita sebagai penjaga gawang utama. “Sang penemu tendangan Scorpion” ini dianggapnya bukan hanya seorang kiper, tetapi juga sosok yang berani mengambil risiko dan mampu menghibur penonton. Ia menyebut Higuita sebagai kieper yang melakukan “trik”, tetapi tetap merupakan “penjaga gawang yang hebat”.
Tendangan kalajengking Rene Higuita
Untuk posisi bek kanan, Cantona tak ragu memilih Junior, pemain asal Brasil. Junior dikaguminya karena mampu bertahan dengan baik sekaligus punya kemampuan menyerang yang impresif. Cantona menilai pemain ini “selalu” menikmati sepak bola dengan penuh ekspresi.
Di jantung pertahanan, Cantona mempercayakan posisi bek tengah tunggal kepada Franz Beckenbauer. Sosok “Kaiser” dianggapnya sebagai “pemimpin manusia” di lapangan. Cantona bahkan mengenang rasa kecewanya ketika Belanda kalah di final Piala Dunia 1974, namun kini mengaku memahami “betapa briliannya Kaiser.”
Sebagai bek kiri, pilihannya jatuh pada Giacinto Facchetti, salah satu legenda Inter Milan. Cantona mengakui dirinya terlalu muda untuk melihat Facchetti bermain secara langsung, namun berbagai momen penting dan cerita tentang sang bek membuatnya langsung jatuh hati pada gaya bermain pemain Italia tersebut.
Sementara itu, di lini tengah, Cantona memasukkan dua gelandang yang pernah bermain bersamanya. Pertama adalah Roy Keane, yang disebutnya sebagai pemain sangat cerdas dan memberi rasa aman sepanjang empat musim mereka bermain bersama di Manchester United. Cantona menyebut Keane sebagai sosok yang membuat segala sesuatu terasa lebih mudah di lapangan.
Aksi Roy Keane di Turin
Kemudian ada Carlos Valderrama, gelandang flamboyan Kolombia. Di luar lapangan, ia digambarkan “pemalu dan pendiam”, namun ketika menguasai bola, Valderrama menjadi pemain dengan “visi yang baik” dan mampu mengarahkan permainan ke mana pun yang ia inginkan. Cantona bahkan menyebut kerja sama mereka di Montpellier sebagai “kesenangan mutlak.”
Pada posisi berikutnya, Cantona menempatkan Diego Maradona, sosok yang dinilainya sebagai pesepak bola terhebat sepanjang masa. Cantona menilai Maradona istimewa karena “membawa timnya sendiri” menuju kemenangan—sebuah keunggulan yang menurutnya tidak dimiliki Pelé.
Di sektor sayap, Cantona memilih Garrincha di kanan. Ia menggambarkan ikon Brasil itu sebagai pemain “sempurna”, meski menyesalkan minimnya rekaman video yang menampilkan aksinya. Ia tertarik pada Garrincha karena kisah-kisah luar biasa yang dituturkan banyak orang.
Untuk sayap kiri, pilihannya adalah Johan Cruyff. Cantona menyebut Cruyff sebagai “pencipta” dan pusat revolusi sepak bola modern, pemain yang bisa tampil di posisi apa pun jika ia mau. Kekaguman Cantona terhadap Cruyff bahkan sudah tumbuh sejak kecil, ketika foto sang legenda terpajang di dinding kamar tidurnya.
Johan Cruyff
Garis depan ditempati dua nama besar: Mario Kempes dan George Best. Kempes dipilih karena “keanggunan” bermain serta kontribusinya dalam membawa Argentina menjuarai Piala Dunia 1978.
Sementara George Best, legenda Manchester United, digambarkan Cantona sebagai “jiwa bebas” dengan “karisma yang luar biasa”. Meski Best dikenal memiliki kehidupan pribadi yang penuh kontroversi, Cantona menegaskan bahwa ketika bermain, “dia selalu fokus.”