Museum NTB Perketat Perawatan Artefak Saat Musim Hujan untuk Cegah Kerusakan Koleksi

Museum NTB, artefak, Musim hujan, musim hujan, Nusa Tenggara Barat, kerusakan, Museum NTB Perketat Perawatan Artefak Saat Musim Hujan untuk Cegah Kerusakan Koleksi, Kelembapan Tinggi Picu Perawatan Intensif, Perawatan Koleksi Luar Ruangan, Langkah-Langkah Konservasi Museum NTB, Metode Konservasi Preventif dan Kuratif, BMKG: NTB Masuki Musim Hujan dengan Cuaca Ekstrem

Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB) memperketat perawatan koleksi berbahan organik dan logam seiring masuknya musim penghujan, dalam kondisi ini dapat meningkatkan risiko kerusakan artefak akibat tingginya kelembapan udara.

Kepala Museum NTB Ahmad Nuralam di Mataram mengatakan tingkat kelembaban udara cenderung lebih tinggi selama musim penghujan, sehingga perawatan artefak harus dilakukan secara intensif.

Kelembapan Tinggi Picu Perawatan Intensif

Nuralam menjelaskan koleksi seperti manuskrip, kain, serta peralatan berbahan logam dan kayu menjadi prioritas utama perawatan.

"Kami punya banyak koleksi yang rentan rusak, seperti manuskrip, kain, dan berbagai peralatan yang terbuat dari logam serta kayu. Kegiatan konservasi rutin kami lakukan apalagi mendekati akhir tahun, hujan lebih sering turun," ujarnya di Mataram, dikutip Antara (14/11/2025) 

Petugas konservator disebut bekerja hampir setiap hari di laboratorium untuk memastikan seluruh koleksi berada dalam kondisi aman.

Perawatan Koleksi Luar Ruangan

Selain artefak di ruang penyimpanan dan ruang pamer, konservasi juga dilakukan pada koleksi yang berada di halaman museum. 

Beberapa di antaranya adalah jangkar kapal, meriam besi, serta arca lingga yoni berbahan batu, yang lebih rentan rusak karena terpapar langsung oleh hujan dan sinar matahari.

"Bulan ini kami fokus ke benda berbahan logam terutama yang ada di luar ruangan," kata Nuralam.

Langkah-Langkah Konservasi Museum NTB

Museum NTB melakukan berbagai upaya pencegahan, termasuk:

  • Menjaga kestabilan suhu ruangan untuk mencegah jamur dan karat
  • Membersihkan artefak dari kotoran dan organisme pengganggu
  • Melapisi sejumlah koleksi dengan bahan pelindung
  • Memastikan saluran air berfungsi baik dan tidak ada kebocoran bangunan

Nuralam menyebut banjir yang melanda Kota Mataram pada 6 Juli 2025 menjadi peringatan penting agar museum lebih waspada.

"Musim hujan kali ini tantangannya tambah berat karena beberapa bulan lalu Kota Mataram sempat banjir. Saat itu museum terdampak, tapi dengan kerja gotong royong akhirnya air tidak bisa masuk dan tidak menggenangi koleksi kami," pungkasnya.

Metode Konservasi Preventif dan Kuratif

Pamong Budaya Muda Museum NTB, Itsna Hadi Saptiawan, menjelaskan beberapa jenis perawatan yang dilakukan.

“Umumnya tanpa bahan kimia, sedangkan untuk pengobatan tipe perawatannya adalah kuratif dengan tindakan di laboratorium konservasi menggunakan bahan kimia,” terangnya melalui surat elektronik yang diterima Senin (17/11/2025).

Museum NTB saat ini memiliki lebih dari 4.000 koleksi berbahan organik, meliputi naskah, etnografi, keramologika, wastra, dan lain sebagainya

BMKG: NTB Masuki Musim Hujan dengan Cuaca Ekstrem

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan NTB telah memasuki musim penghujan dengan potensi cuaca ekstrem selama sepekan ke depan. 

BMKG menjelaskan empat faktor pemicu tingginya curah hujan di wilayah tersebut, di antaranya aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, sirkulasi siklonik di selatan Jawa Timur, serta kelembapan udara basah dan labilitas atmosfer yang kuat.

Kombinasi faktor tersebut meningkatkan potensi pembentukan awan hujan lebat yang dapat memicu gangguan pada berbagai sektor, termasuk pelestarian koleksi museum.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.