Eks Presiden RFEF Luis Rubiales Jadi Sasaran Serangan Telur
Peristiwa memalukan dialami oleh mantan Presiden Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) Luis Rubiales usai dilempar telur oleh orang tak dikenal.
Insiden itu terjadi saat Luis Rubiales mempresentasikan buku barunya berjudul "Matar a Rubiales" (Membunuh Rubiales) pada Kamis (13/11/2025) di Madrid.
Buku setebal 506 halaman itu ditulis oleh Luis Rubiales yang membahas tentang konspirasi terbesar dalam sejarah sepak bola Spanyol.
Dalam video yang dikutip dari Guardian, seorang pria yang belakangan diketahui memiliki hubungan dengan Rubiales melempar tiga telur dari jarak dekat.
Apesnya, satu telur mengenai jaket Rubiales, sementara dua lainnya hanya mengenai tangan pria 48 tahun tersebut.
Laporan dari media Spanyol mengatakan jika pelaku sempat mengatakan sesuatu sebelum melancarkan aksinya.
"Jangan khawatir, tidak ada apa-apa," kata pelaku.
Usai kejadian tersebut, Rubiales terpancing emosinya dan berusaha mengejar pelaku serta meminta bantuan polisi untuk menangkapnya.
Setelah kejadian tersebut, Rubiales memilih tenang dan berupaya fokus kembali dengan rilisan bukunya.
“Saya tidak peduli dilempari telur. Saya merasa kuat dan sangat baik. Saya senang dengan respons yang didapatkan buku saya,” ujar Rubiales dikutip dari The Sun.
Pelaku Paman Rubiales
Belakangan, Rubiales mengetahui identitas pelaku yang melempar telur ke arahnya.
Rubiales mengklaim jika pelaku merupakan sang paman dan memiliki usia yang sama dengannya.
"Saya baru tahu dia paman saya sendiri; namanya Luis Ruben. Paman yang seusia saya," ujar Rubiales kepada portal berita Periodista Digital.
Menurut penuturannya, sang paman sudah ditangkap oleh pihak berwajib dan sempat dicurigai membawa senjata.
"Dia melempari saya telur karena dia orang gila, dan saya rasa tidak ada pembenaran untuk itu. Mereka sudah menangkapnya, membawanya pergi, dan, yah, kami harus menindaknya karena sejujurnya saya pikir dia bersenjata," tandasnya.
Polisi nasional Spanyol menyatakan bahwa seorang pria Spanyol telah ditangkap tetapi menolak mengonfirmasi hubungan keluarga.
Gelandang Spanyol Jennifer Hermoso (10) bereaksi setelah gagal mengeksekusi penalti pada final Piala Dunia Wanita 2023 antara Spanyol vs Inggris di Stadion Australia di Sydney pada 20 Agustus 2023. Jenni Hermoso menegaskan bahwa ciuman bibir yang dilakukan Presiden RFEF Luis Rubiales tidak pernah dilakukan atas dasar suka sama suka (Foto oleh STEVE CHRISTO / AFP)
Kontroversi "Ciuman" Paksa Rubiales
Kepada televisi Spanyol minggu ini, Rubiales mengklaim dirinya adalah korban "gerakan sayap kiri ekstrem yang tiba-tiba".
Menurutnya, gerakan itu menciptakan "realitas paralel" untuk memanfaatkan isu seputar ciuman paksa yang dilakukannya terhadap Hermoso.
Sebelumnya, Rubiales didenda 10.800 euro atau setara Rp209 juta karena memaksa mencium pemain Timnas Wanita Spanyol, Jenni Hermoso saat upacara penyerahan medali setelah Spanyol mengalahkan Inggris di Sydney pada Agustus 2023.
Ia bersikeras bahwa hal itu dilakukan atas dasar suka sama suka dan pengacaranya mengatakan pada bulan Juni bahwa Rubiales akan mengajukan banding atas putusan tersebut di Mahkamah Agung setelah pengadilan banding Spanyol menguatkan denda yang dijatuhkan kepadanya.
Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Spanyol, ciuman tanpa persetujuan dapat dianggap sebagai kekerasan seksual, sebuah kategori hukum yang mencakup semua jenis kekerasan seksual.
Insiden tersebut sempat mendapat sorotan internasional hingga membuat Rubiales melepaskan jabatannya.
Ia dilarang melakukan aktivitas apa pun yang berhubungan dengan sepak bola selama tiga tahun dan federasi terjerumus ke dalam periode kekacauan yang berkepanjangan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.