Soeharto, dari Anak Petani hingga Presiden, Pernah Menolak Jadi Pegawai Bank untuk Masuk Militer

Nama Soeharto kembali menjadi sorotan publik setelah pemberian gelar pahlawan nasional kepada dirinya menjadi kontroversi. Di tengah pro dan kontra, kisah perjalanan hidup Soeharto tetap menjadi bagian dari sejarah Indonesia.
Soeharto dikenal sebagai Presiden kedua Republik Indonesia yang memimpin selama 32 tahun, dari 1966 hingga 1998.
Ia menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh sekaligus kontroversial dalam perjalanan bangsa ini.
Awal Kehidupan di Kemusuk
Dikutip dari buku berjudul "Soeharto: Biografi Singkat 1921 - 2008", Soeharto lahir di Dusun Kemusuk, Argomulyo, Yogyakarta, pada 8 Juni 1921.
Ia adalah anak dari Kertosudiro alias Panjang, seorang petani sekaligus pembantu lurah dalam urusan pengairan sawah, dan Sukirah.
Bayi Soeharto belum genap 40 hari ketika ibunya menitipkannya kepada Mbah Kromo, lalu menghilang selama 40 hari. Ketika kembali, Sukirah mengaku tengah bertapa untuk masa depan anaknya.
Bersama Mbah Kromo, Soeharto kecil sering diajak ke sawah, membalik tanah, menggaru, hingga memandikan kerbau. Ia juga gemar bermain lumpur dan mencari belut. Kebiasaan itu membentuk kedekatannya dengan alam, yang terbawa hingga masa tuanya.
Berpindah-pindah Sekolah
Soeharto mulai sekolah di usia delapan tahun. Ia berpindah-pindah sekolah, dari SD Puluhan Godean, lalu ke SD Pedes, dan kemudian SD Wuryantoro, Purwodadi, Jawa Tengah.
Di Wuryantoro, Soeharto tinggal bersama pamannya, Prawirowihardjo, seorang mantri tani yang dikenal dengan sebutan Pak Bei. Dari lingkungan ini pula, Soeharto mengenal dunia pertanian dan kedisiplinan yang kelak membentuk karakternya.
Soeharto juga dikenal sebagai anak yang gemar bermain sepak bola. Ia sering bermain di posisi belakang dan dikenal tangguh di lapangan.
Dari garis keluarga, Soeharto merupakan anak tunggal dari pernikahan Kertosudiro dan Sukirah yang kemudian bercerai.
Ayahnya menikah lagi dan memiliki empat anak, sementara ibunya menikah dengan Atmopawiro dan memiliki tujuh anak, termasuk Probosutedjo, yang kelak dikenal sebagai pengusaha sukses.
Saudara Soeharto dari silsilah ayahnya memang tidak dikenal masyarakat luas, seperti Moersiati Harsono, Sutinah Djoehron, Sutowibowo, dan Martin Tubagus Sulaeman.
Pernah Jadi Pegawai Bank Sebelum Memilih Militer
Komandan Grup A Paspampres Sjafrie Sjamsoeddin ketika mengawal Presiden ke-2 RI Soeharto saat berkunjung ke Bosnia pada 1995.
Setelah menamatkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Yogyakarta, Soeharto bekerja sebagai klerk (pegawai administrasi) bank.Setiap hari, ia mengayuh sepeda butut untuk berangkat dan pulang kerja. Dengan mengenakan pakaian Jawa lengkap, blangkon dan beskap, Soeharto muda berkeliling menemui petani, pedagang kecil, dan pemilik warung yang hendak mengajukan pinjaman ke bank.
Namun, pada sekitar tahun 1939, hidupnya berubah. Ia menerima dua surat panggilan kerja, satu dari lembaga ketentaraan dan satu lagi dari bank.
Cinta dan Kehidupan Rumah Tangga
Soeharto menikah dengan Siti Hartinah yang dikenal sebagai Ibu Tien Soeharto pada 26 Desember 1947 di Solo. Saat itu Soeharto berusia 26 tahun dan Tien 24 tahun.
Mereka sudah saling mengenal sejak masa kecil di Wuryantoro.
Soeharto pernah dipuji Tien sebagai pemuda berwajah tampan dan hanya dia yang berani masuk pekarangan rumah kawedanan, termasuk untuk menggoda Tien.
Soeharto biasanya masuk setelah merenggangkan jeruji pagar dan memetik 14 bunga. Tak heran jika setiap kali ada bunga yang rusak, maka Tien selalu bilang bahwa pelakunya pasti Soeharto.
Ibu Tien pernah berkata bahwa Soeharto adalah satu-satunya pemuda yang berani masuk ke pekarangan rumah kawedanan hanya untuk menggoda dirinya.
Pernikahan mereka dikaruniai enam anak yakni Siti Hardijanti Hastuti, Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Herijadi, Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto), dan Siti Hutami Endang Adiningsih.
Ibu Tien dikenal dekat dengan wartawan.
Ia sering mengundang jurnalis ke kediamannya di Jalan Cendana, Jakarta, dan memberi mereka tape recorder sambil berpesan, “Jangan sampai salah ya... dalam meliput acara Pak Harto.”
Keduanya dikenal mesra di depan publik. Dalam banyak pidato, Soeharto kerap memuji kesetiaan istrinya, yang dibalas Ibu Tien dengan senyum dan kata-kata lembut di hadapan ribuan massa.
Kejatuhan dan Akhir Kekuasaan
Presiden Soeharto didampingi Ibu Tien tengah menyerahkan Bendera kepada Paskibraka pada Upacara Peringatan Hari Kemerdekaan tahun 1971. - Sejarah Paskibraka
Kehidupan Soeharto berubah drastis setelah Ibu Tien meninggal dunia pada 28 April 1996. Kabar resmi menyebutkan bahwa ia meninggal karena penyakit, tetapi hingga kini penyebab pastinya masih menjadi tanda tanya publik.Sejak saat itu, Soeharto tampak kehilangan semangat. Tahun-tahun berikutnya diwarnai guncangan politik, termasuk penyerbuan kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia (PDI) pimpinan Megawati Soekarnoputri pada 27 Juli 1996.
Tak sampai dua tahun setelah kepergian sang istri, Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya pada 21 Mei 1998, di tengah demonstrasi besar-besaran yang menuntut reformasi.
Soeharto dikenang sebagai pemimpin yang membawa stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi, namun di sisi lain juga dikritik karena otoritarianisme, kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN) selama masa Orde Baru.
Pemerintahannya yang panjang mencatat banyak prestasi, tetapi juga meninggalkan luka sejarah.
Bagi sebagian masyarakat, ia adalah Bapak Pembangunan, namun bagi sebagian lain, simbol kekuasaan yang mengekang kebebasan.
Sejarah mungkin tak pernah hitam putih, namun kisah Soeharto dari anak petani di Kemusuk yang menolak jadi pegawai bank demi masuk militer hingga menjadi presiden terlama di Indonesia akan selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan bangsa ini.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.