Nyepi dan Idul Fitri 2026 Berdekatan, FKUB Bali Pastikan Tak Ada Revisi Seruan Bersama

Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Bali bersama Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali memastikan tidak ada perubahan atau revisi dalam seruan bersama terkait pelaksanaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1948 dan Idul Fitri 1447 Hijriah yang jatuh berdekatan pada Maret 2026.
Keputusan ini diambil usai Rapat Koordinasi Majelis Agama se-Bali yang berlangsung tertutup di Ruang Tamu Gubernur Bali dan Gedung Kertha Sabha, Denpasar, Rabu (11/3/2026).
Menanti Sidang Isbat, Seruan Bersama Tetap Berlaku
Ketua FKUB Provinsi Bali, Ida Pengelingsir Agung Putra Sukahet, menegaskan bahwa meskipun penetapan Idul Fitri masih menunggu hasil sidang isbat pemerintah, kesepakatan bersama antar-umat beragama di Bali sudah cukup kuat dan tidak memerlukan revisi.
"Tidak ada revisian, ini kan Idul Fitrinya belum jelas. Karena nanti yang Muhammadiyah sudah jelas tanggal 20 Maret 2026, sedangkan NU kan belum," ujar Sukahet saat ditemui usai rapat, Rabu.
Menurut Sukahet, berdekatannya waktu dua hari besar ini bukan hal baru di Bali. Ia menyebutkan bahwa kerukunan tetap terjaga dengan baik melalui pola koordinasi yang telah diterapkan selama bertahun-tahun.
"Ini seruan bersama, itu selalu copy-paste sejak dulu begitu. Ya, berjalan dengan sangat baik. Nyepi tidak terganggu, Idul Fitri bisa berjalan," tambahnya.
Aturan Takbiran dan Penggunaan Fasilitas Ibadah
Salah satu poin krusial yang dibahas adalah pelaksanaan takbiran bagi umat Muslim jika Idul Fitri jatuh berdekatan atau bersamaan dengan rangkaian Nyepi.
FKUB menegaskan takbiran tetap diperbolehkan dengan batasan-batasan tertentu guna menghormati kesucian hari raya Nyepi.
Umat diperbolehkan menuju mushola atau masjid terdekat dengan syarat berjalan kaki dan tidak menggunakan pengeras suara keluar.
"Kalau harus takbiran, misalnya takbirannya di rumah masing-masing berjalan kaki. Kalau memang ada musholanya terdekat, berjalan dia ke mushola, waktunya terbatas, 3-4 jam, terus balik lagi," beber Sukahet.
Ia juga menekankan pentingnya meminimalkan penggunaan lampu (cahaya diarahkan ke dalam) dan menjaga kekhusyukan tanpa gangguan suara yang keras.
Pengawalan Pecalang dan Pendekatan Humanis
Guna memastikan keamanan dan ketertiban, setiap desa adat diminta untuk mengerahkan personel pecalang. Setidaknya tiga hingga lima orang pecalang akan ditugaskan untuk mengawal pelaksanaan takbiran di setiap titik ibadah.
Mengenai potensi pelanggaran, Sukahet menyadari bahwa dengan jumlah penduduk Bali yang mencapai 4 juta jiwa, gesekan kecil mungkin saja terjadi. Namun, ia memastikan penindakan akan dilakukan secara persuasif.
"Untuk para pelanggar nanti telah disepakati, akan dibina dengan persuasif dan humanis," tegasnya.
PHDI Bali Tekankan Acuan SKB Tiga Menteri
Dalam kesempatan yang sama, Ketua PHDI Provinsi Bali, I Nyoman Kenak, menjelaskan bahwa pihaknya tetap berpegang pada Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri. Dalam SKB tersebut, Nyepi jatuh pada 19 Maret, sementara Idul Fitri diperkirakan jatuh pada 21-22 Maret 2026.
"Secara umum kami hanya menyampaikan hal yang normatif saja. Intinya kita menggunakan acuan SKB tiga menteri. Sebenarnya tidak ada jeda yang terlalu dekat," kata Kenak.
Meski demikian, PHDI tetap menyiapkan langkah antisipasi jika hasil sidang isbat menetapkan Idul Fitri lebih awal, misalnya pada 20 Maret. Ia menyarankan agar setiap majelis agama mengeluarkan edaran internal kepada umat masing-masing.
"Kalau pun ada kemungkinan hasil sidang isbat berbeda, masing-masing majelis bisa membuat seruan kepada umatnya. Umat Hindu disampaikan oleh PHDI, umat Muslim oleh majelisnya. Itu akan lebih efektif," jelasnya.
Penutup rapat tersebut menegaskan komitmen seluruh elemen agama di Bali, termasuk NU, Muhammadiyah, dan MUI, untuk menjaga kesakralan Nyepi sebagai warisan budaya yang telah dikenal dunia sekaligus menjunjung tinggi toleransi antar-umat beragama.
Artikel ini telah tayang di Tribun-Bali.com dengan judul TAKBIR & NYEPI Tetap Bisa Berjalan di Bali, Simak Penjelasan Ketua FKUB Berikut Ini
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang