Refleksi Hari Ayah Nasional, Saatnya Menghapus Budaya Fatherless

memutus rantai fatherless, Hari Ayah Nasional, hari ayah nasional 2025, hari ayah nasional tanggal berapa, father figure taylor swift, cara menghapus fatherless, pentingnya kehadiran ayah, Refleksi Hari Ayah Nasional, Saatnya Menghapus Budaya Fatherless

Peringatan Hari Ayah Nasional yang jatuh setiap 12 November menjadi momen untuk menyoroti kembali pentingnya kehadiran ayah dalam keluarga.

Bukan sekadar hadir secara fisik, tetapi juga secara emosional, sesuatu yang masih sering terabaikan di banyak rumah tangga Indonesia. Fenomena ini biasa dikenal sebagai fatherless.

Menurut Psikolog Keluarga Sukmadiarti Perangin-angin, M.Psi., fenomena fatherless tidak hanya dialami oleh anak yang ditinggalkan secara fisik oleh ayahnya, tetapi juga oleh mereka yang tumbuh dengan figur ayah yang secara emosional tidak hadir.

“Ketidakhadiran ayah bisa membuat anak merasa tidak cukup berharga atau tidak pantas dicintai. Pola ini bisa terbawa hingga dewasa jika tidak disadari dan diproses,” ujarnya kepada Kompas.com, beberapa waktu lalu.

Sukmadiarti menekankan bahwa memahami luka emosional ini adalah langkah awal untuk memutus rantai fatherless agar tidak berulang pada generasi berikutnya.

“Yang penting adalah bagaimana seseorang memahami luka itu, berdamai dengan masa lalunya, dan belajar untuk tidak mengulang pola yang sama pada anaknya kelak,” katanya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa proses penyembuhan tidak bisa dilakukan dengan penyangkalan, melainkan melalui penerimaan dan komunikasi yang terbuka di dalam keluarga.

“Anak yang merasa didengar dan dihargai akan tumbuh dengan konsep diri yang lebih sehat. Itulah fondasi untuk mencegah rantai fatherless berulang,” ucapnya.

memutus rantai fatherless, Hari Ayah Nasional, hari ayah nasional 2025, hari ayah nasional tanggal berapa, father figure taylor swift, cara menghapus fatherless, pentingnya kehadiran ayah, Refleksi Hari Ayah Nasional, Saatnya Menghapus Budaya Fatherless

Hari Ayah Sedunia dan Peran Ayah bagi Kesehatan Mental Anak

Kehadiran ayah yang sejati

Istilah fatherless sendiri menggambarkan kondisi ketika anak tumbuh tanpa kehadiran figur ayah, baik secara fisik maupun emosional.

Dalam konteks ini, ayah mungkin masih tinggal serumah, tetapi tidak benar-benar terlibat dalam pengasuhan, tidak memberi perhatian, atau tidak menjadi sumber rasa aman bagi anak.

“Banyak anak yang tumbuh dengan ayah di rumah, hadir secara fisik, tapi secara emosional tidak ada. Jadi kehadiran fisik tidak menjadi patokan,” kata Psikolog Klinis Widya S. Sari, M.Psi., dikutip dari pemberitaan Kompas.com, Rabu (12/11/2025).

Widya menjelaskan, sebagian anak bahkan baru menyadari dirinya berasal dari keluarga fatherless saat sudah dewasa, ketika mulai memahami dinamika keluarga, relasi, dan pola emosi yang terbentuk sejak kecil.

“Banyak yang baru sadar setelah dewasa karena dulunya tidak ada pembanding atau tidak memiliki pemahaman berbeda,” ujarnya.

Mendefinisikan ulang peran ayah bagi anak

Di tengah tuntutan ekonomi dan budaya patriarkal, banyak ayah yang terjebak pada peran penyedia materi semata.

Padahal, kehadiran emosional seorang ayah sama pentingnya bagi pertumbuhan psikologis anak.

“Anak perlu merasa aman, diterima, dan disayangi oleh kedua orangtuanya. Ketika ayah tidak terlibat, anak kehilangan separuh dari sumber afeksi dan validasi yang dibutuhkannya,” tutur Sukmadiarti.

Momentum Hari Ayah Nasional bisa menjadi pengingat untuk mendefinisikan ulang peran ayah, bukan hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai pendamping tumbuh kembang anak.

Kehadiran yang tulus, percakapan sederhana, atau dukungan di masa sulit dapat menjadi bentuk kasih sayang yang berdampak besar bagi kesejahteraan emosional anak.

Sukmadiarti menegaskan, membangun hubungan ayah-anak yang sehat tidak harus dimulai dari langkah besar.

“Mulai dari menyediakan waktu untuk mendengarkan anak tanpa menghakimi, hadir saat mereka butuh bercerita, dan menunjukkan kasih sayang dalam bentuk sederhana,” katanya.

Momentum Hari Ayah Nasional tahun ini bisa menjadi saat yang tepat bagi keluarga untuk lebih terbuka, saling mendengarkan, dan menyadari bahwa peran ayah lebih dari sekadar simbol.

Ayah yang hadir, mendengar, dan peduli bisa menjadi kunci terbentuknya generasi yang lebih kuat secara emosional.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.