Trans7 Lecehkan Kiai dan Ponpes, Ini Fakta Pesantren Lirboyo: Berdiri Sejak 1910, Biaya Murah tapi Tes Sulit

Pondok Pesantren Lirboyo
Pondok Pesantren Lirboyo

  Nama Pondok Pesantren (Ponpes) Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, tengah ramai diperbincangkan publik setelah tayangan program Xpose Uncensored di Trans7 dinilai menyinggung kehormatan kiai dan kehidupan pesantren. Tayangan tersebut memicu gelombang protes besar-besaran, terutama dari kalangan santri dan alumni Lirboyo.

Namun di balik polemik itu, pesantren yang berdiri lebih dari seabad lalu ini menyimpan sejarah panjang dalam dunia pendidikan Islam di Indonesia. Biaya pendidikannya yang terjangkau dan sistem ujian masuk yang dikenal ketat justru menjadi daya tarik tersendiri bagi ribuan calon santri setiap tahunnya.

Trans7 Akui Keteledoran dan Sampaikan Permohonan Maaf

Kontroversi bermula dari segmen Xpose Uncensored berjudul “Santrinya Minum Susu Aja Kudu Jongkok, Emang Gini Kehidupan Pondok?” yang tayang pada 13 Oktober 2025. Tayangan berdurasi 1 menit 13 detik itu dinilai melecehkan tradisi penghormatan santri terhadap kiai, terutama saat memperlihatkan santri berjalan sambil duduk untuk mencium tangan guru mereka.

Narasi yang dibacakan dalam tayangan tersebut menyinggung soal kekayaan kiai dan tradisi pemberian amplop, yang oleh publik dianggap tak pantas dan menyesatkan.

Menanggapi protes publik, pihak Trans7 akhirnya meminta maaf secara terbuka. Dalam pernyataannya, stasiun televisi itu mengaku lalai dalam proses penyuntingan konten.

“Sehubungan dengan tayangan/pemberitaan mengenai Pondok Pesantren Lirboyo yang telah ditayangkan di program Xpose Uncensored TRANS7 pada tanggal 13 Oktober 2025, kami telah melakukan review dan tindakan-tindakan atas keteledoran yang kurang teliti sehingga merugikan Keluarga Besar PP. Lirboyo. TRANS7 dengan segala kerendahan hati menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada segenap kyai dan keluarga, para pengasuh, santri serta alumni Pondok Pesantren Lirboyo,” tulis pernyataan resmi Trans7.

Trans7 juga menyebut telah menyampaikan permintaan maaf secara langsung kepada Gus Adib, salah satu putra KH Anwar Manshur, serta berjanji akan mengirim surat permintaan maaf resmi.

Berdiri Sejak 1910, Lirboyo Jadi Pusat Studi Islam dan Perjuangan

Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Jawa Timur, KH. Anwar Manshur

Ponpes Lirboyo berdiri sejak 1910 dan didirikan oleh K.H. Abdul Karim. Sebelum mendirikan pesantren, beliau sempat mengajar di Pondok Pesantren Tebuireng milik K.H. Hasyim Asy’ari, yang juga merupakan sahabat sekaligus rekan seperguruan di bawah asuhan Syaikhona Kholil Bangkalan.

Setelah menikah dengan Nyai Khodijah binti K.H. Sholeh dari Banjarmlati, K.H. Abdul Karim menetap di Desa Lirboyo dan mendirikan pesantren dengan dukungan sang mertua. Dari santri pertama bernama Umar asal Madiun, Lirboyo kini berkembang menjadi pesantren besar dengan lebih dari 40 ribu santri dari berbagai daerah dan luar negeri.

Ponpes ini juga memiliki catatan sejarah dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Para santrinya turut serta dalam Resolusi Jihad yang digagas para ulama Nahdlatul Ulama (NU) dan ikut berjuang di medan pertempuran 10 November di Surabaya.

Kini, pesantren ini menjadi salah satu pusat pendidikan Islam terbesar di Indonesia dengan berbagai lembaga pendidikan di bawahnya, termasuk Madrasah Hidayatul Mubtadiin (MHM) yang dikenal ketat dalam seleksi penerimaan santri.

Tes Masuk Ketat, Hafalan hingga Fiqh Klasik

Madrasah Hidayatul Mubtadiin menerapkan sistem seleksi akademik berbasis kitab kuning. Ujian dibagi menjadi dua bentuk, tulis dan lisan.

Ilustrasi santri Pondok Pesantren Lirboyo

Ilustrasi santri Pondok Pesantren Lirboyo

Untuk tingkat Ibtidaiyyah kelas V dan VI, materi ujian tulis meliputi pelajaran Tauhid, Fiqh, Nadhom Al-Ajurumiyyah, dan Imla’ Pegon. Sedangkan ujian lisannya mencakup hafalan surat pendek dari An-Naas hingga Al-Quraisy, Fasholatan lengkap, serta Aqoid 50.

Di tingkat Tsanawiyyah, materi ujian tulis meliputi Shorof, Nahwu, dan Tashrif, sementara ujian lisan meliputi hafalan surat, Fasholatan, dan Aqoid. Pada tingkat Aliyah dan Ma’had Aly, ujian semakin sulit dengan materi seperti Fath Qorib, Alfiyah Ibn Malik, hingga Ushul Fiqh dan Balaghah.

Tingginya standar akademik ini menjadi alasan mengapa Lirboyo disebut-sebut sebagai salah satu pesantren dengan sistem pendidikan Islam klasik terbaik di Indonesia.

Biaya Pendidikan yang Terjangkau

Meski terkenal besar dan berpengaruh, biaya pendidikan di Lirboyo tergolong murah. Untuk pendaftaran santri baru, biaya administrasi hanya sekitar Rp15.000 untuk ujian masuk dan Rp15.000 untuk pangkal siswa baru.

Iuran syahriyah atau SPP bulanan di Pondok Induk sebesar Rp57.350 per bulan, dengan tambahan iuran non-syahriyah sekitar Rp16.200 per bulan. Bahkan bagi santri asli penduduk Lirboyo, biaya syahriyah dibebaskan.

Adapun total biaya tahunan berkisar antara Rp631.000 hingga Rp675.000 tergantung tingkat pendidikan. Dengan biaya yang terjangkau, pesantren ini tetap mampu mempertahankan kualitas pendidikan berbasis kitab klasik yang mendalam.

Selain itu, Madrasah Hidayatul Mubtadiin telah mendapat pengakuan kesetaraan (muadalah) dari pemerintah.

Ijazah tingkat Aliyah setara dengan SMA sejak 2006, Tsanawiyyah setara SMP sejak 2015, dan Ibtidaiyyah setara SD sejak 2017.