Top 40+ Juta Orang Indonesia Kadar Kolesterolnya Tinggi, Awas Risiko Kardiovaskular Meningkat

Ilustrasi kolesterol tinggi
Ilustrasi kolesterol tinggi

 Menurut data terbaru U.S. National Institutes of Health (NIH) 2025, sekitar 40 juta orang dewasa di Indonesia memiliki kadar kolesterol LDL (LDL-C) tinggi yang meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. 

Banyak yang belum mendapatkan terapi, sehingga menjadi faktor utama meningkatnya angka kematian akibat penyakit kardiovaskular. Oleh karena itu, peningkatan akses terapi dan edukasi kesehatan menjadi prioritas yang mendesak.

Tantangan tersebut diperkuat dengan penelitian internasional. Studi INTERASPIRE (European Heart Journal, 2024) melaporkan bahwa di Indonesia, hanya 16,6 persen pasien penyakit arteri koroner yang berhasil mencapai target LDL-C <70 mg/dL, sementara kepatuhan terhadap panduan terapi secara keseluruhan masih sangat rendah. 

Mayoritas pasien gagal mengontrol tekanan darah, memiliki prevalensi tinggi diabetes dan obesitas, serta minim partisipasi dalam program rehabilitasi jantung.

Direktur Daewoong Pharmaceutical Indonesia, Baik In Hyun, mengungkapkan, penyakit kardiovaskular adalah penyebab kematian nomor satu di Indonesia.

“Namun banyak pasien masih gagal menurunkan LDL kolesterolnya secara efektif,” ujar Baik In Hyun dalam keterangannya, dikutip Jumat 10 Oktober 2025. 

Presiden Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Dr. Ade Meidian Ambari, menjelaskan bahwa dahulu target LDL-kolesterol untuk pasien kardiovaskular risiko tinggi adalah <100 mg/dL atau <70 mg/dL. 

Namun, pada kadar tersebut pun, banyak pasien masih berisiko tinggi mengalami kejadian kardiovaskular mayor seperti serangan jantung dan stroke. Ia menekankan bahwa pedoman ESC/EAS 2021 bahkan menurunkan target untuk pasien risiko sangat tinggi menjadi <55 mg/dL, menegaskan kembali prinsip bahwa “semakin rendah, semakin baik”.

“Dalam lanskap terapi global yang terus berkembang, monoterapi saja tidak cukup. Pendekatan dual-inhibition dengan rosuvastatin dan ezetimibe menjadi jalur optimal untuk mencapai target LDL-C dan mempertahankan hasil jangka panjang,” ungkapnya.

“Terapi dual-inhibition mengombinasikan rosuvastatin, yang menekan sintesis kolesterol di hati, dengan ezetimibe, yang menghambat penyerapan kolesterol di usus halus. Kombinasi ini memungkinkan pasien mencapai kadar target dengan lebih efektif dan aman dibandingkan monoterapi,” sambungnya. 

Terapi dislipidemia

Salah satu contoh terapi dual-inhibition adalah terapi dislipidemia dari Daewoong, yang diklaim memberikan penurunan LDL-C yang lebih kuat dibandingkan terapi yang ada sebelumnya. 

Terapi ini menunjukkan efikasi lebih tinggi dan risiko efek samping lebih rendah dibandingkan monoterapi statin, mampu menurunkan LDL-C lebih dari 50 persen bahkan pada dosis rendah 10/2,5 mg.

Selain itu, terapi ini tersedia dalam tiga opsi dosis (10/5 mg, 10/10 mg, 10/20 mg), termasuk kombinasi dosis rendah 10/5 mg pertama di Indonesia, sehingga memungkinkan terapi yang lebih dipersonalisasi sesuai kebutuhan pasien. 

Rosuvastatin, sebagai satu-satunya statin dengan bukti klinis dapat memperlambat progresi aterosklerosis (pengerasan pembuluh darah akibat penumpukan lemak atau plak).

“Bagi pasien risiko sangat tinggi, strategi dual-inhibition yang menekan sintesis sekaligus penyerapan kolesterol adalah cara paling efektif mencapai target LDL-C. Terapi dislipidemia Daewoong memberikan pendekatan ini, dengan peningkatan signifikan pada hasil terapi pasien,” kata Dr. Ade.