Mau Kerja di China? Presiden Xi Jinping Buka Program K Visa
Pemerintah China baru-baru ini meluncurkan program visa baru bernama K Visa. Program ini dibuat untuk menarik talenta global di bidang STEM (Sains, Teknologi, Teknik dan Matematika). Program yang diresmikan pada Rabu pekan lalu terbuka bagi lulusan universitas ternama dan profesional di berbagai negara di dunia yang ingin mencari kerja di China.
Berbeda dengan program visa lainnya, program visa K ini tidak mengharuskan adanya sponsor dari perusahaan. Melansir laman Times, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Guo Jiakun, menjelaskan pada Senin bahwa tujuan visa ini adalah untuk“mendorong pertukaran dan kerja sama antara talenta muda di bidang sains dan teknologi dari Tiongkok dan negara lain.
Program ini menjadi bagian dari upaya besar China untuk lebih terbuka terhadap dunia termasuk dalam menarik investasi asing, mahasiswa internasional, dan wisatawan.
K-Visa Dirancang untuk Menarik Talenta Teknologi Global
K visa ditujukan untuk menarik talenta muda asing di bidang STEM termasuk peneliti, pendidik, wirausahawan, dan profesional lainnya. Untuk memenuhi syarat, pelamar harus memiliki setidaknya gelar sarjana dari universitas terakreditasi (baik di Tiongkok maupun luar negeri), bekerja di bidang STEM, dan termasuk kategori profesional muda. Menurut Edward Hu, Direktur Imigrasi di konsultan Newland Chase Shanghai, minat terhadap visa ini sangat tinggi sejak diumumkan pada Agustus.
“K Visa mengisi celah dalam sistem perekrutan talenta Tiongkok dengan menurunkan hambatan masuk bagi profesional muda di bidang STEM,” ujar Hu kepada Al Jazeera.
Sejak 2013, Tiongkok sudah memiliki visa serupa, yakni R visa, yang ditujukan bagi talenta asing tingkat tinggi atau spesialis. Namun, R visa mewajibkan sponsor dari perusahaan atau lembaga tuan rumah. Sementara visa K difokuskan pada profesional di awal karier dan tidak memerlukan sponsor pemberi kerja.
Keunggulan lain dari visa ini adalah memungkinkan pemegangnya masuk, tinggal, dan bekerja tanpa harus memiliki tawaran pekerjaan terlebih dahulu berbeda dengan sistem H-1B di AS yang bergantung pada sponsor perusahaan.
Tantangan: Daya Saing dan Budaya Kerja
Meski demikian, para ahli menilai China masih harus melakukan lebih banyak hal untuk bisa bersaing dengan AS dalam menarik talenta muda global. Feller mengatakan kepada Al Jazeera bahwa perusahaan China perlu menyediakan posisi berbahasa Inggris bagi mereka yang tidak bisa berbahasa Mandarin serta meningkatkan keseimbangan kehidupan kerja.
“Saya sulit membayangkan banyak lulusan asing yang tertarik dengan sistem kerja 9-9-6 yang terkenal di banyak perusahaan Tiongkok,” kata Feller.
Istilah 9-9-6 mengacu pada budaya kerja dari pukul 9 pagi hingga 9 malam selama enam hari seminggu total 72 jam per minggu. Meskipun pola kerja ini melanggar undang-undang ketenagakerjaan China, Jack Ma, pendiri Alibaba, sempat mendukungnya secara terbuka pada 2019.
Kritik: Bisa Rugikan Pencari Kerja Lokal
Kebijakan visa ini juga menuai kritik dari dalam negeri, terutama di kalangan anak muda Tiongkok yang menghadapi kesulitan mencari kerja meski memiliki latar pendidikan tinggi di bidang STEM. Menurut laporan South China Morning Post, banyak warganet China khawatir bahwa program visa ini justru memperburuk kondisi pasar tenaga kerja domestik.
“Kenapa anak muda Tiongkok lulusan sarjana sulit mendapat pekerjaan bagus dan harus lanjut kuliah S2, sementara lulusan sarjana asing malah dianggap ‘talenta teknologi’?,” komenter C-netz.
“Pendidikan dalam negeri saja sulit diawasi keasliannya, apalagi dengan visa K, nanti malah muncul rantai bisnis baru untuk membantu orang asing mendapatkan visa,” kata lainnya.
Profesor Alfred Wu menilai kekhawatiran warga China itu masuk akal, terutama karena negara tersebut sudah memiliki pool tenaga kerja STEM dan teknologi yang sangat kuat di dalam negeri. Ia juga menyoroti masalah kurangnya transparansi dalam proses pembuatan kebijakan.
“Orang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jika pemerintah bisa membuat kebijakan lebih transparan dan membuka berbagai data pendukung, masyarakat mungkin akan lebih tenang,” ujar Wu kepada SCMP.
Wu menambahkan kepada TIME bahwa pemerintah dan perusahaan China perlu mempertimbangkan kekhawatiran pencari kerja lokal ketika menerapkan program baru ini dan menyusun detail pelaksanaannya.
Namun, Wu menegaskan bahwa langkah membuka akses bagi talenta asing STEM ini sudah lama direncanakan terkait ambisi China untuk bersaing dengan AS dalam inovasi teknologi global. Lebih dari itu, program ini menjadi sinyal kepada dunia bahwa China siap lebih terbuka dan ingin memainkan peran lebih besar dalam hubungan internasional.
“Kita tidak bisa berharap Tiongkok berubah dalam semalam, ini butuh waktu. Tapi yang penting adalah sinyal yang dikirimkannya,” kata Wu.