Kesehatan Mental Gen Z Kunci Masa Depan Kita (Bagian II-Habis)

kesehatan mental, Gen Z, Kesehatan Mental Gen Z Kunci Masa Depan Kita (Bagian II-Habis)

BAGAIMANA realitas Gen Z di Indonesia?

Mari ambil contoh seorang mahasiswa di kota besar. Ia dituntut meraih prestasi akademik yang tinggi, pun aktif di organisasi, sambil memikirkan masa depan kerja yang semakin tidak pasti.

Di saat sama, ia juga menyaksikan di media sosial yang penuh dengan konten berisikan pencapaian orang lain.

Disadari atau tidak, akan muncul tekanan mental untuk membanding-bandingkan diri. Lalu ketika pulang ke rumah, ia justru tidak menemukan ruang aman untuk berbicara.

Baca artikel sebelumnya:

Boleh jadi karena keluarganya masih menganggap masalah mental sebagai “aib” atau karena memang keluarganya sibuk semua. Tak pelak, kondisi ini akan menciptakan lingkaran stres berkelanjutan.

Jika tak ada intervensi, mau tak mau lingkaran semacam ini akan menjelma menjadi depresi serius, tanpa disadari oleh keluarga atau orang-orang terdekatnya.

Belum lagi, konflik keluarga juga berkontribusi terhadap tekanan psikologis remaja. Banyak yang merasa tidak didukung oleh orangtua dan "terluka" ketika orangtua menegur mereka dengan "keras".

Lebih lanjut, remaja merasa tertekan setiap kali memikirkan pengalaman traumatis masa lalu (misalnya, bullying dan pelecehan seksual di sekolah) atau khawatir tentang kejadian buruk di masa depan (misalnya, orangtua yang sedang bercerai).

Padahal, sangat perlu juga diakui bahwa di balik semua kesulitan yang melingkupi, Gen Z juga menyimpan potensi besar. Generasi Z adalah generasi yang paling adaptif terhadap teknologi, kritis terhadap isu sosial, dan paling berani menyuarakan keadilan.

Puncak terbarunya sudah kita saksikan di Nepal tempo hari di mana pidato siswa sekolah menengah yang mengkritisi penguasa memicu amuk massa hingga meruntuhkan kekuasaan sebuah negara.

Memang banyak riset menunjukkan bahwa Gen Z lebih peduli pada lingkungan, lebih mendukung keberagaman, dan lebih pro pada keadilan sosial dibanding generasi sebelumnya.

Artinya, jika kesehatan mental mereka dijaga, energi kritis generasi Z ini bisa menjadi modal transformatif bagi bangsa ini ke depannya.

Untuk itu, muncul pertanyaan baru, apa yang harus dilakukan agar generasi Z kita justru bisa menjadi modal transformatif bangsa hari ini dan selanjutnya?

Pertama, tentu orangtua sangat perlu menyesuaikan pola asuh. Generasi ini tidak bisa lagi dihadapi dengan pendekatan yang otoriter, misalnya.

Mereka butuh ruang aman untuk bercerita, butuh validasi emosional, dan butuh didengarkan tanpa diberi stigma macam-macam.

Dengan kata lain, orangtua harus mau belajar banyak tentang bagaimana caranya agar rumah bisa menjadi ruang pemulihan, bukan ruang tekanan tambahan kepada anak.

Kedua, lembaga pendidikan, dalam hemat saya, harus ikut berbenah secara total. Sekolah dan kampus tidak boleh hanya menjadi pabrik nilai. Institusi ini perlu menghadirkan konselor terlatih, mengintegrasikan literasi kesehatan mental ke dalam kurikulum yang mereka ajarkan, sekaligus menciptakan budaya belajar yang “menyehatkan”, bukan “menakutkan”.

Artinya, dunia pendidikan kita sudah semestinya bergerak secara terintegrasi dan holistik, di mana sekolah dan kampus tidak hanya mencetak kepala yang pintar, tetapi juga jiwa yang sehat dan tangguh.

Riset terbaru menunjukkan bahwa remaja menghadapi tantangan khusus berkaitan dengan regulasi emosi, citra tubuh dan harga diri, tekanan akademik, serta pengaruh media sosial.

Untuk menghadapinya, mereka menggunakan beragam mekanisme coping (strategi bertahan), baik adaptif maupun maladaptif.

Menariknya, banyak anak muda justru menunjukkan minat kuat untuk mengembangkan strategi menghadapi tantangan tersebut sekaligus mencapai tujuan karier di masa depan.

Temuan ini menegaskan bahwa meskipun berada dalam tekanan psikososial, para remaja sebenarnya menginginkan pendidikan kesehatan mental, khususnya yang dihadirkan melalui program sekolah oleh tenaga ahli lokal.

Hal ini juga mengingatkan kita bahwa mereka sejatinya tidak pernah berharap hidup dalam kondisi seperti itu.

Ketiga, yang tak kalah penting, lembaga kesehatan sangat perlu memperluas akses layanan psikologis di semua lini pelayanannya.

Masalahnya, di Indonesia, jumlah psikolog klinis masih sangat terbatas, dan biaya layanannya biasanya di atas rata-rata layanan kesehatan lain alias sangat mahal. Tidak semua keluarga bisa mengaksesnya, apalagi keluarga kelas menengah ke bawah di Indonesia.

Sehingga dalam hemat saya, pemerintah harus bisa mengintervensi dengan subsidi agar biaya layanan psikologis bisa menjadi lebih murah (affordable) atau bisa pula dengan mendorong pemanfaatan telemedicine untuk layanan konseling, serta memperbanyak program intervensi berbasis komunitas.

Poin pentingnya adalah bahwa layanan kesehatan mental tidak boleh menjadi layanan eksklusif alias harus tersedia bagi semua, terutama anak muda generasi Z di daerah-daerah.

Keempat, dari sisi perusahaan, ekosistem dan suasana kerja harus dibuat lebih ramah mental. Perusahaan yang merekrut Gen Z harus sadar bahwa work-life balance sudah menjadi kebutuhan, dan harus dipenuhi oleh perusahaan.

Sebab, sebesar apapun ketidaksukaan dunia pada Gen_Z yang katanya gen arogan, justru merekalah generasi paling jujur dengan diri mereka sendiri.

Meskipun, banyak generasi sebelum mereka tidak begitu respect dengan mereka, karena dianggap tak memenuhi standar etika lama.

Padahal, generasi Z menyimpan kekuatan unik dalam membangun pengetahuan secara kolektif melalui relasi peer-to-peer, yang menjadikan mereka cepat beradaptasi dan inovatif di dunia kerja.

Mereka terbuka dalam membicarakan isu-isu sensitif, termasuk kesehatan mental. Di antara sesama mereka, percakapan tentang depresi atau kecemasan bukan lagi tabu, melainkan bagian dari keseharian. Namun, keterbukaan ini belum sepenuhnya terakomodasi di ruang kerja.

Sebuah laporan Deloitte pada 2021 menunjukkan bahwa hampir separuh Milenial dan Gen Z, sekitar 48 persen, mengalami peningkatan stres sejak pandemi Covid-19.

Ironisnya, sebagian besar atasan tidak benar-benar memahami seberapa besar dampak yang mereka tanggung. Inilah paradoks yang mesti dipecahkan, sebab generasi Z sebenarnya siap terbuka asalkan lingkungannya lebih dahulu membuka pintu penyelesaian.

Mereka tidak akan datang mengemis, sebab rasa percaya kepada dunia luar begitu minim. Namun, ketika mereka merasakan ketulusan, mereka justru mampu membuka diri sepenuhnya dan menyerahkan kepercayaan mereka.

Sehingga keberadaan program kesejahteraan mental, fleksibilitas kerja, dan budaya organisasi yang sehat akan membuat Gen Z lebih produktif.

Jika tidak, generasi ini akan mudah mengalami “burnout” atau memilih meninggalkan pekerjaan.

Intinya, perusahaan harus mulai menyesuaikan diri dan menghadirkan dunia kerja yang sesuai dengan psikologi Gen Z jika ingin mendapatkan loyalitas mereka.

Kelima, poin yang sangat penting, menurut saya, adalah bahwa pemerintah harus berada pada garda terdepan dengan menghadirkan kebijakan yang jelas dan tegas.

Kampanye literasi kesehatan mental nasional perlu digencarkan secara masif, di mana berbagai macam stigma harus dilawan, dan regulasi anti-bullying harus ditegakkan secara tegas dan tanpa pandang bulu.

Pun, alokasi anggaran untuk layanan kesehatan jiwa harus ditingkatkan secara signifikan dan berkelanjutan. Tanpa keberpihakan negara, rasanya sulit membayangkan perubahan bisa terjadi.

Pendek kata, sebelum mengakhiri tulisan ini, saya kembali ingin mengajak kita semua untuk berefleksi bahwa masalah kesehatan mental Gen Z bukanlah masalah kecil, tapi persoalan besar yang akan ikut menentukan arah bangsa ini ke depannya. Indonesia Emas tidak bisa dicapai hanya dengan bonus demografi.

Bonus hanya akan menjadi nyata jika generasi mudanya sehat, kuat, dan tangguh. Dan kesehatan mental adalah fondasinya, bukan pelengkap. Tanpa itu, visi besar Indonesia emas hanya akan menjadi istana kertas.

Dan bagi para generasi muda kekinian, mohon diingat pesan saya ini. Generasi Z memang lahir dari rentetan krisis demi krisis, tetapi bukan berarti kalian ditakdirkan untuk rapuh.

Dengan dukungan yang tepat, saya yakin kalian akan tumbuh menjadi generasi paling tangguh dalam sejarah negeri ini, karena kalian memiliki modal yang meyakinkan untuk itu.

Kalian bisa menjadi motor perubahan, membawa bangsa ini melewati segala ketidakpastian di masa depan.

Untuk mewujudkan itu, orangtua, institusi pendidikan, institusi kesehatan, dan penyedia lapangan kerja, harus bisa memastikan bahwa perjalanan Gen Z tidak terhambat oleh stigma, apatisme, atau pun oleh kelalaian kita.

Gen Z adalah kunci. Sehingga kesehatan mental mereka adalah pintu kita menuju masa depan yang lebih baik.

Pun bagi orangtua yang sedang bergulat mengurus anak dengan sakit mental, pekerjaan ini bukan saja sebagai kewajiban, tapi juga ujian “paling berat” yang pernah dialami orangtua sepanjang hidup mereka.

Tak peduli seberapa kuat, seberapa bijak, atau seberapa berpengalaman hidup yang mereka jalani, menyaksikan anak sendiri tenggelam dalam kesedihan, kecemasan, atau rasa hampa adalah luka mendalam.

Tidak jarang, dalam proses merawat tersebut, orangtua akan ikut terseret dalam kelelahan batin yang sama dengan anak yang dirawat, yakni menanggung rasa takut, rasa bersalah, bahkan rasa putus asa.

Beratnya perjalanan ini membuat banyak orangtua tanpa sadar juga mengalami goresan mental pada diri mereka sendiri. Orangtua juga ikut sakit.

Karena itu, dalam hemat saya, perhatian dari para pihak pada kesehatan mental generasi Z juga harus diiringi dengan kepedulian terhadap kesehatan mental orangtua yang merawat mereka.

Orangtua yang sehat jiwanya akan menjadi cahaya pemulih yang lebih kuat untuk anak. Orangtua pada akhirnya juga butuh ruang untuk didengarkan, butuh komunitas yang menguatkan, dan butuh keyakinan yang super kuat bahwa mereka tidak sendirian.

Selain itu, perlu intervensi digital untuk memperkuat layanan kesehatan mental. Beragam aplikasi, telemedicine, hingga platform berbasis kecerdasan buatan kini hadir sebagai solusi alternatif untuk mengatasi keterbatasan tenaga psikolog dan biaya yang tinggi.

Namun, teknologi bukanlah obat tunggal satu-satunya. Ia hanya bisa memberi manfaat jika dibangun di atas fondasi kepercayaan, bukti ilmiah, kualitas, dan keterjangkauan.

Prinsip inilah yang dirumuskan dalam kerangka TEQUILA, yakni Trust (kepercayaan), Evidence (bukti empiris), Quality (kualitas), dan Usability (kemudahan).

Kepercayaan menjadi syarat pertama, sebab tanpa jaminan keamanan data dan transparansi algoritma, teknologi justru melukai kerahasiaan pasien.

Bukti ilmiah pun penting, karena sebagian besar studi digital mental health masih lemah kontrol dan sering menghasilkan bias.

Regulasi dan evaluasi berkelanjutan dibutuhkan untuk menjaga kualitas, sementara aspek usability menuntut agar teknologi ramah digunakan lintas kelompok sosial, tidak eksklusif hanya bagi mereka yang melek digital.

Dengan kerangka ini, teknologi bisa hadir bukan sebagai pengganti kemanusiaan, melainkan sebagai penguat ekosistem kesehatan mental yang lebih luas.

Meski demikian, penggunaannya harus benar-benar diawasi. Tidak sedikit Gen Z yang justru semakin tidak percaya pada manusia dan akhirnya lebih memilih bertanya kepada mesin seperti ChatGPT.

Ironisnya, tanpa pengawasan dan pendampingan, kebiasaan ini bisa berujung pada kondisi lebih parah karena tidak semua jawaban digital sesuai dengan kebutuhan psikologis yang sesungguhnya.

anak dengan gangguan mental dalam semua tingkatannya, bukan hanya tugas pemenuhan kewajiban, melainkan perjalanan cinta yang panjang.

Dan cinta itu hanya bisa tetap menyala jika kita semua, sebagai masyarakat, ikut menjaga agar orangtua yang merawat anak-anak dengan masalah mental juga tidak kehabisan daya dan semangat serta harapan, agar keluarga bisa tetap menjadi tempat yang teduh bagi kedua pihak, baik anak maupun bagi orangtua.

Sudah saatnya Indonesia berhenti merasa ‘jijik’ terhadap mereka yang menyandang gangguan mental.

Gangguan mental harus dipandang sebagai hal yang wajar, sebagaimana flu yang bisa dialami siapa saja, sebab pada dasarnya setiap manusia memiliki tingkat kerentanannya sendiri, hanya saja tidak selalu tampak di permukaan.

Kita harus menormalisasi sikap untuk menolong, bukan menertawakan atau menjauhi. Di titik itulah kesehatan mental generasi muda tidak lagi menjadi aib, melainkan bagian dari kemanusiaan kita bersama, fondasi bagi bangsa yang ingin melangkah menuju masa depan yang lebih sehat dan beradab. Semoga!