Dari Narsissus Digital Menuju Digital Wellness (Bagian II-Habis)

Kecanduan gadget, Digital wellness, Dari Narsissus Digital Menuju Digital Wellness (Bagian II-Habis)

"The most important thing about technology is how it changes people." - Jaron Lanier.

MENUJU digital wellness berarti mengembangkan pendekatan lebih sadar terhadap penggunaan teknologi, bukan sekadar mengurangi waktu layar secara mekanis.

Cal Newport memperkenalkan konsep Digital Minimalism sebagai filosofi penggunaan teknologi yang berfokus sejumlah kecil aktivitas digital yang benar-benar mendukung nilai hidup kita, dan mengabaikan sisanya.

Untuk menerapkan hal tersebut, Newport mengusulkan program Digital Declutter selama 30 hari, yang mencakup penetapan aturan teknologi yang selaras nilai hidup, menjalani digital detox dari teknologi opsional, serta memperkenalkan kembali teknologi secara selektif hanya jika jelas mendukung tujuan hidup yang lebih bermakna.

Selain itu, kemampuan fokus dan perhatian juga perlu dilatih kembali.

Baca artikel sebelumnya:

Jenny Odell, melalui gagasan doing nothing, mendorong kita melawan arus attention economy dengan aktivitas tanpa agenda produktif, seperti bird watching, bermeditasi, atau sekadar duduk tenang di taman.

Nicholas Carr menambahkan pentingnya slow reading dan contemplative reading untuk melatih kembali kapasitas deep focus yang terkikis internet browsing.

Dari berbagai temuan para ahli, sejumlah strategi praktis terbukti efektif untuk membangun kebiasaan baru yang lebih sehat.

Tristan Harris dan Nir Eyal, menekankan tindakan segera seperti mematikan notifikasi tidak esensial, menghapus aplikasi media sosial dari home screen, menggunakan mode grayscale untuk mengurangi daya tarik visual, hingga membiasakan mengisi daya ponsel di luar kamar tidur demi menjaga kualitas istirahat.

Sementara, Cal Newport dan Jenny Odell menyarankan weekly practices seperti berhenti total dari optional technology selama 24 jam (digital sabbath); berjalan tanpa podcast, musik, atau smartphone selama 30 menit (solitude walks).

Selain itu, berusaha untuk fokus intensif tanpa distraksi digital selama 2-3 jam (deep work blocks), kemudian melakukan aktivitas fisik yang tidak melibatkan screen time (analogue hobbies).

Kemudian, Arianna Huffington dan Sherry Turkle menekankan monthly review seperti mengevaluasi apakah setiap aplikasi/platform yang digunakan selama ini mendukung nilai hidup (technology audit)?

Apakah digital tools yang digunakan meningkatkan atau justru merusak hubungan nyata? Lalu menilai bagaimana dampak screen time terhadap kualitas tidur?

Selain upaya individu, membangun komunitas digital literacy menjadi kunci. Jaron Lanier menyoroti bahwa transformasi menuju digital wellness memerlukan dukungan sosial.

Ia menekankan pentingnya digital literacy yang tidak hanya mencakup keterampilan teknis, tetapi juga pemahaman tentang cara kerja algoritma model bisnis di balik platform gratis, serta teknik psikologis yang digunakan untuk merebut perhatian.

Dalam konteks tersebut, komunitas dan kelompok dukungan untuk digital wellness mulai bermunculan, menciptakan tekanan sosial yang positif mirip dengan komunitas kebugaran yang mendorong gaya hidup sehat.

Kehadiran ekosistem semacam ini dapat menjadi landasan kolektif untuk membangun budaya penggunaan teknologi yang lebih manusiawi.

"Policy" dan "systemic solutions"

Upaya mengatasi epidemi digital tidak bisa hanya dibebankan pada individu. Diperlukan intervensi di level sistem yang melibatkan pemerintah, dunia pendidikan, hingga perusahaan teknologi agar solusi yang dihasilkan benar-benar komprehensif.

Salah satu contoh yang sering disebut datang dari Korea Selatan, negara yang menaruh perhatian serius pada persoalan kecanduan internet.

Pemerintahnya mendirikan lebih dari 140 pusat konseling khusus remaja, menyelenggarakan digital detox camps dengan pendekatan terapi holistik.

Bahkan, menerapkan Shutdown Law yang melarang anak di bawah 16 tahun bermain online game pada tengah malam hingga pagi hari.

Upaya regulatif seperti ini sejalan dengan gagasan pemikir global seperti Tim Wu, yang mendorong konsep “antitrust for attention”.

Menurutnya, praktik manipulatif platform digital perlu dibatasi dengan pendekatan regulasi yang mirip dengan industri adiktif lain, seperti tembakau.

Namun, regulasi saja tidak cukup. Dunia pendidikan memegang peran penting dalam membekali generasi muda agar lebih tangguh menghadapi tekanan digital.

Sherry Turkle mengusulkan agar konsep digital citizenship diintegrasikan ke dalam kurikulum. Tujuannya membekali generasi muda dengan keterampilan hidup yang relevan di era digital, seperti:

  • Mengembangkan empati dan kemampuan percakapan yang sehat, meski hidup di tengah arus komunikasi digital.
  • Menumbuhkan critical thinking dalam mengonsumsi informasi online.
  • Melatih mindfulness dan keterampilan menjaga fokus sebagai bagian dari life skills.
  • Memahami persuasive design (strategi yang dipakai platform digital untuk menarik perhatian) serta bagaimana cara menghadapinya.

Dengan kombinasi regulasi yang tegas dan pendidikan yang membekali, solusi sistemik terhadap kecanduan internet menjadi lebih kokoh: melindungi masyarakat sekaligus memperkuat daya tahan individu.

Tanggung jawab besar juga berada di pundak perusahaan teknologi. Tristan Harris bersama Center for Humane Technology menekankan bahwa akar masalah kecanduan digital terletak pada model bisnis digital itu sendiri, khususnya surveillance capitalism, di mana data dan perhatian pengguna dijadikan komoditas utama.

Pendekatan ini berangkat dari kesadaran bahwa perusahaan memiliki daya besar untuk membentuk perilaku miliaran orang. Karena itu, tanggung jawab etis mereka sama pentingnya dengan regulasi pemerintah maupun reformasi pendidikan.

Menuju kemanusiaan digital yang otentik

Internet addiction bukan sekadar masalah individual tentang willpower atau self-control. Ini adalah isu sistemik yang membutuhkan solusi di multiple levels, yaitu personal practices, community support, educational reform, dan corporate responsibility.

Narcissus dalam mitologi Yunani kuno akhirnya mati karena tidak bisa lepas dari bayangannya sendiri. Namun kita, sebagai digital natives dan digital immigrants, masih punya kesempatan menulis akhir kisah berbeda.

Kita bisa memilih untuk menggunakan teknologi sebagai alat untuk human flourishing, bukan sebagai master yang mengendalikan hidup kita.

Seperti yang dikatakan Jenny Odell: "Nothing is harder to do these days than nothing." Tapi dalam "nothing" itulah (dalam solitude, dalam boredom, dalam kehadiran penuh terhadap momen sekarang) kita menemukan kembali kemanusiaan otentik.

Digital wellness bukan tentang menghindari teknologi, melainkan tentang menggunakan teknologi dengan intentionality, awareness, dan alignment dengan nilai terdalam.

Ini tentang menjadi fully human di era digital. Terhubung, tapi tidak terikat; informed, tapi tidak overwhelmed; efficient, tapi tidak soulless.

Perjalanan dari Narcissus digital menuju digital wellness dimulai dengan satu langkah sederhana: pause.

Sebelum membuka aplikasi berikutnya, tanyakan pada diri sendiri: "What am I hoping to get from this?" Dan lebih penting lagi: "Is there a better way to get what I need?"

Dalam pause itu --dalam space antara trigger dan response-- terletak kebebasan memilih siapa kita ingin menjadi pada era digital ini. Mari kita pastikan perubahan itu menuju arah yang lebih manusiawi.

Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.