Istana Jelaskan Mengapa Presiden Menghindari Media Sosial

Ilustrasi media sosial.
Ilustrasi media sosial.

Di era digital seperti sekarang, media sosial sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Bangun tidur, yang dicari pertama bukan lagi kopi, tapi notifikasi dari Instagram, Facebook, TikTok, YouTube atau WhatsApp.

Mulai dari ngobrol bareng teman, cari inspirasi, sampai cari cuan, semuanya bisa dilakukan lewat media sosial.

Tidak bisa dipungkiri, media sosial punya segudang manfaat. Informasi tersebar cepat, promosi usaha jadi lebih mudah, dan siapa pun bisa punya “panggung” sendiri.

Namun, ada presiden yang enggan menggunakan media sosial, bahkan, pihak istana sampai harus mengklarifikasi.

Presiden dan istana yang dimaksud adalah Vladimir Putin dan Kremlin - sebutan bagi Istana Kepresidenan Rusia di Moskow.

Mengutip situs Russia Today, Rabu, 1 Oktober 2025, Presiden Rusia Vladimir Putin tidak memiliki rencana untuk mengelola akun media sosial pribadi, menurut Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov.

Menurutnya, sang presiden 'hadir di media sosial' melalui saluran resmi Kremlin, tetapi tidak berniat terlibat secara langsung.

"Mengapa? Karena seperti yang sudah dikatakannya (Vladimir Putin) berkali-kali kalau itu (mengelola akun media sosial pribadi) bukan urusan dia," jelasnya.

Ia sebelumnya mencatat bahwa staf Kremlin terus memberi tahu Putin tentang topik-topik yang sedang tren di dunia maya, sementara keluarga dan kenalannya sesekali juga berbagi informasi dengannya.

Pada 2017, mantan agen KGB itu mengatakan bahwa jadwalnya tidak menyisakan waktu untuk menjelajahi internet.

Menurut Putin, waktu luang yang dimilikinya lebih baik dihabiskan untuk kebugaran dan kegiatan lain yang membantunya melepaskan stres.

"Saya mengatur jadwal sedemikian rupa sehingga mengalokasikan waktu untuk pengembangan kreativitas, seperti mendengarkan musik, berolahraga, atau mengobrol dengan teman. Dan, saya tidak ada waktu untuk itu (menjelajahi internet atau pun aktif di media sosial)," tegas Vladimir Putin.

Bukan itu saja. Presiden juga dikenal karena keengganannya terhadap ponsel pintar (smartphone) – sesuatu yang dianggap para pendukungnya sebagai aset keamanan yang sangat penting.

Dokumen yang dibocorkan pada 2015 oleh whistleblower NSA, Edward Snowden, mengungkapkan bahwa Amerika Serikat (AS) doyan menyadap telepon para pemimpin asing, termasuk sekutu dekatnya seperti Kanselir Jerman saat itu, Angela Merkel.