4 Tanda Kamu Terjebak dalam Trauma Bond Relationship, Salah Satunya Menjauh dari Keluarga

trauma bond, 4 Tanda Kamu Terjebak dalam Trauma Bond Relationship, Salah Satunya Menjauh dari Keluarga, 1. Hubungan dipenuhi siklus emosi yang naik turun ekstrem, 2. Kamu menyalahkan diri sendiri atas perilaku buruk pasangan, 3. Menjauh dari teman dan keluarga, 4. Kamu merasa kehilangan identitas tanpa pasangan

Hubungan yang tidak sehat sering kali sulit diakhiri, bahkan ketika seseorang menyadari bahwa hubungan tersebut menyakitkan. 

Banyak orang tetap kembali kepada pasangan yang sama meski hubungan dipenuhi konflik dan luka emosional.

Dalam psikologi, kondisi ini sering disebut trauma bond, menggambarkan ikatan emosional yang sangat kuat antara seseorang dengan pasangan yang sebenarnya menyakitinya.

Terapis berbasis New York, Sienna Chu, LMHC menjelaskan, trauma bond adalah hubungan emosional yang intens dengan seseorang yang menjadi sumber kenyamanan sekaligus sumber luka.

Trauma bond adalah istilah yang digunakan psikolog untuk menggambarkan keterikatan emosional yang sangat kuat dengan orang yang bersikap abusif, yang sekaligus menjadi sumber kenyamanan dan rasa sakit,” kata Chu, disadur SELF Magazine, Sabtu (14/3/2026).

Kondisi tersebut membuat seseorang merasa sulit untuk benar-benar pergi dari hubungan yang tidak sehat. Berikut 4 tanda seseorang mungkin berada dalam hubungan trauma bond.

4 Tanda kamu terjebak trauma bond relationship

1. Hubungan dipenuhi siklus emosi yang naik turun ekstrem

Salah satu ciri utama trauma bond adalah adanya siklus emosi yang sangat intens dalam hubungan.

Hubungan tidak selalu buruk sepanjang waktu. Justru sering kali ada fase romantis yang sangat hangat di antara konflik yang terjadi.

Profesor psikologi dari Miami University, Terri Messman, PhD menjelaskan, hubungan trauma bond biasanya diawali dengan fase yang sangat menyenangkan.

“Banyak trauma bond dimulai dengan fase honeymoon, yaitu periode kedekatan yang terasa sangat istimewa, langka, bahkan seperti takdir,” kata Messman.

Namun setelah fase tersebut, biasanya muncul konflik seperti pertengkaran, komentar pasif-agresif, atau perilaku yang menyakitkan.

Yang membuat hubungan ini rumit adalah otak cenderung mengingat momen-momen baik sebagai alasan untuk tetap bertahan.

Akibatnya, seseorang terus berharap bahwa pasangan akan kembali seperti saat hubungan terasa hangat, padahal siklus konflik dan rekonsiliasi terus berulang.

2. Kamu menyalahkan diri sendiri atas perilaku buruk pasangan

Dalam hubungan trauma bond, kasih sayang dari pasangan sering terasa bersyarat. Seseorang merasa harus melakukan hal yang benar agar pasangan tetap bersikap baik kepadanya.

Menurut Psikolog klinis Elena Welsh, PhD, kondisi ini sering membuat seseorang menyalahkan dirinya sendiri atas perilaku buruk pasangan.

“Dalam hubungan trauma bond, seseorang sering merasa bahwa ia harus menoleransi perlakuan buruk agar tetap mendapatkan kebaikan dari pasangannya,” ucap Welsh.

Akibatnya, seseorang mungkin berpikir bahwa pertengkaran terjadi karena kesalahan dirinya sendiri.

Misalnya, seseorang merasa bahwa konflik terjadi karena ia terlalu sensitif, terlalu cemburu, atau tidak cukup memahami pasangan.

Pola pikir ini membuat seseorang terus berusaha memperbaiki diri demi mempertahankan hubungan, meskipun sebenarnya masalah utamanya berasal dari perilaku pasangan.

3. Menjauh dari teman dan keluarga

Tanda lain dari trauma bond adalah kecenderungan untuk menarik diri dari lingkungan sosial.

Chu menilai, seseorang yang mengalami trauma bond sering mulai menjauh dari orang-orang terdekat.

“Salah satu tanda utama trauma bond adalah ketika seseorang mulai menarik diri dari lingkungan sosialnya,” ujar Chu.

Hal ini bisa terjadi karena seseorang takut teman atau keluarga akan mengkritik hubungan tersebut.

Dalam beberapa kasus, pasangan juga dapat secara tidak langsung mengisolasi seseorang dengan cara meremehkan teman-temannya atau membuatnya merasa bersalah ketika menghabiskan waktu dengan orang lain.

Ketika dukungan sosial semakin berkurang, seseorang akan semakin bergantung pada pasangan, meskipun hubungan tersebut tidak sehat.

Situasi ini membuat seseorang semakin sulit melihat bahwa hubungan yang dijalaninya sebenarnya bermasalah.

4. Kamu merasa kehilangan identitas tanpa pasangan

Dalam hubungan trauma bond, identitas seseorang sering kali menjadi sangat bergantung pada hubungan tersebut.

Messman menjelaskan, dalam hubungan yang sehat, kehidupan cinta hanyalah salah satu bagian dari identitas seseorang. Namun dalam trauma bond, hubungan tersebut bisa menjadi pusat kehidupan seseorang.

“Dalam kondisi ini, seseorang sering mulai mendefinisikan dirinya hanya sebagai pasangan dari seseorang,” ungkap Messman.

Akibatnya, jarak kecil dalam hubungan bisa memicu kecemasan besar. Misalnya, pesan yang tidak segera dibalas, perubahan nada bicara, atau panggilan yang terlewat bisa membuat seseorang merasa panik.

Perasaan tersebut muncul karena seseorang tidak hanya takut kehilangan pasangan, tetapi juga takut kehilangan identitas dirinya sendiri.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang