Kenali Penyebab Osteoporosis, Salah Satunya karena "Mager"
Osteoporosis adalah penyakit tulang yang sering disebut sebagai “the silent disease” karena secara perlahan melemahkan tulang dan akhirnya patah. Penyakit tidak menunjukkan gejala yang jelas di awal.
Adapun, osteoporosis terdiri dari kata “osteo” yang artinya tulang, dan “porosis” yang artinya keropos. Jadi, osteoporosis adalah pengeroposan tulang.
“Kalau tulangnya baik, dia akan padat. Tapi, kalau dia memang ada keropos tulang, kepadatannya berkurang, sehingga strukturnya itu berkurang,” tutur dr. Daniel Petrus Marpaung, SpOT (K) dari Siloam Hospitals Kebon Jeruk, kepada Kompas.com di Jakarta Selatan pada Kamis (1/12/2025).
Akibatnya, ketika seseorang yang mengalami osteoporosis mengalami cedera, ia lebih mudah untuk mengalami patah tulang. Mari mengenal lebih jauh soal osteoporosis.
Penyebab osteoporosis
Osteoporosis dianggap terjadi karena seseorang jarang minum susu. Namun, dr. Daniel menuturkan bahwa penyebab osteoporosis bermacam-macam.
Menopause
Tulang akan terus bertumbuh mencapai puncaknya ketika seseorang menginjak usia sekitar 40 tahun. Setelah mencapai usia sekitar 48-50 tahun, penurunan tulang akan terjadi.
“Wanita mulai mengalami yang namanya menopause. Karena hormon estrogennya yang rendah, maka wanita akan mengalami penurunan kepadatan tulang,” ungkap dr. Daniel.
Pada usia tersebut, bukan hanya perempuan dengan menopause yang mengalami penurunan tulang. Pria pun bakal mengalaminya, meski terjadi lebih lambat.
Ilustras lansia latihan angkat beban.
Malas gerak
Ada juga penyebab osteoporosis karena malas gerak (mager).
“Itu namanya disuse osteoporosis. Osteoporosis karena mager,” kata dr. Daniel.
Dengan kata lain, disuse osteoporosis adalah pengeroposan tulang karena seseorang tidak bergerak dengan leluasa, dan ketika tulang kurang mendapatkan beban.
Tubuh yang tidak bergerak secara aktif atau tidak digunakan, bisa menyebabkan kepadatan mineral tulang berkurang, dan berujung pada munculnya risiko pengeroposan.
Terlalu lama berbaring karena kondisi kesehatan
dr. Daniel Petrus Marpaung, SpOT (K) dari Siloam Hospitals Kebon Jeruk, kepada Kompas.com di Jakarta Selatan pada Kamis (1/12/2025).
Disuse osteoporosis tidak hanya terjadi pada orang-orang yang malas gerak, tetapi juga mereka yang terlalu lama berbaring untuk bed rest karena kondisi kesehatan.
“Mungkin dia pernah cedera di kaki atau mengalami kelumpuhan sehingga tidak bisa melakukan aktivitas. Itu juga termasuk di dalam disuse osteoporosis karena tidak bisa dipakai tulang-tulangnya dan sendi-sendinya,” jelas dr. Daniel.
Siapa saja yang rentan terkena osteoporosis?
Seperti yang disebutkan sebelumnya, wanita yang memasuki usia menopause berisiko mengalami osteoporosis, begitu pula pria dalam rentang usia tersebut.
“Apakah orang-orang mudah bisa terjadi osteoporosis juga? Generasi muda, generasi Z, yang mana dia kurang aktivitas, kurang bergerak, bisa terjadi osteoporosis,” ucap dr. Daniel.
Kekurangan vitamin D dan kalsium
Orang yang kekurangan vitamin D dan kalsium juga bisa mengalami osteoporosis. Sebab, vitamin D membantu penyerapan kalsium dalam tubuh, yang mendukung pertumbuhan tulang, serta mencegah kerapuhan pada tulang.
Kalsium pun memiliki manfaat yang serupa dengan vitamin D, yaitu membantu memelihara kesehatan tulang. Kalsium juga bermanfaat untuk kinerja otot, mengoptimalkan fungsi saraf, dan bahkan menjaga kesehatan jantung.
Selanjutnya adalah orang-orang dengan gaya hidup yang kurang sehat, seperti merokok, mengonsumsi alkohol, dan kurang olahraga.
Osteoporosis bisa menyebabkan kematian?
Osteoporosis tidak bisa menyebabkan kematian secara langsung. Kendati demikian, efek akibat disabilitas yang disebabkan oleh osteoporosis bisa menyebabkan kematian.
“Misalnya terjadi patah tulang panggul, terjadi bed rest. Akibatnya pada orangtua itu kurang baik, sehingga terjadi infeksi paru, terjadi dekubitus (luka di kulit akibat tekanan). Itu efek-efek daripada terjadinya disabilitas (karena osteoporosis),” terang dr. Daniel.
Umumnya, ulkus dekubitus dialami oleh seseorang yang harus berbaring di tempat tidur untuk waktu yang lama, misalnya karena lumpuh. Ketika tidak ditangani, ulkus dekubitus bisa menyebabkan kematian.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang