Turun Berat Badan 36 Jam Tanpa Minum? Ini Fakta Dry Fasting yang Mengejutkan
Apakah tujuannya untuk menjalani hidup lebih sehat dengan tubuh lebih ramping, atau sekadar mengikuti standar kecantikan yang ada. Penurunan berat badan tetap menjadi salah satu target penting dalam hidup kita.
Namun, tidak ada satu cara pasti untuk mencapai berat badan ideal. Ada yang rutin berolahraga, ada yang memilih minum air lemon hangat setiap pagi lalu menerapkan pola makan bersih, ada juga yang mencoba intermittent fasting sesuai gaya hidup dan kondisi tubuhnya.
Belakangan ini, muncul metode baru yang disebut dry fasting sebagai pilihan untuk menurunkan berat badan dengan cepat. Tapi, apakah cara ini sehat? Seorang ahli gizi asal Amerika mengungkap sisi gelap dari tren ini, yang kini semakin populer.
Apa itu Dry Fasting?
Melansir laman Times of India, dry fasting adalah metode diet dengan membatasi asupan makanan dan juga air dalam jangka waktu tertentu. Berbeda dengan intermittent fasting yang masih memperbolehkan minum air selama periode puasa, dry fasting melarang semua jenis cairan, termasuk air putih.
Metode ini mulai populer karena diyakini punya manfaat kesehatan, seperti menurunkan berat badan. Namun, risikonya cukup besar, terutama dehidrasi.
Meskipun ada klaim bahwa dry fasting bisa meningkatkan kekebalan tubuh, memperbaiki kondisi kulit, dan membantu penurunan berat badan, kenyataannya praktik ini bisa menyebabkan dehidrasi dan komplikasi serius bagi kesehatan.
Diet ini juga mendapat sorotan dari ahli gizi dari Cleveland Clinic, Julia Zumpano. Dia menyebut dry fasting sebaiknya dilakukan dengan sangat hati-hati, apalagi jika dilakukan dalam jangka panjang. Ia menegaskan bahwa bukti ilmiah mengenai dry fasting masih sangat terbatas. Sebagian besar penelitian hanya berfokus pada orang yang berpuasa Ramadan, bukan populasi umum.
Zumpano memperingatkan bahwa dry fasting bisa memicu dehidrasi, masalah ginjal, dan risiko kesehatan lain yang jauh lebih besar dibanding potensi manfaatnya.
“Dengan bentuk puasa lain, kamu masih bisa mendapatkan manfaat puasa tanpa harus menghadapi risiko dehidrasi,” kata dia.
Selain itu, dry fasting juga berisiko menyebabkan gangguan saluran kemih, masalah paru-paru, kekurangan nutrisi, bahkan bisa memicu pola makan yang tidak sehat. Gejala yang biasanya muncul meliputi kelelahan, mudah marah, sakit kepala, sulit fokus, jarang buang air kecil, hingga sembelit.
Apa yang Terjadi pada Tubuh Saat Dry Fasting?
Menurut video dari Wellness Wise, inilah tahapan perubahan tubuh selama puasa kering hingga 36 jam:
- 8 jam: Kadar gula darah mulai turun. Tubuh menggunakan cadangan glikogen untuk energi.
- 12 jam: Saat glukosa habis, hati mulai memecah lemak menjadi asam lemak (keton). Proses ini disebut metabolic switching, yang berhubungan dengan penurunan berat badan. Pada tahap ini, autophagy (proses perbaikan sel) juga mulai terjadi.
- 24 jam: Tubuh masuk sepenuhnya ke mode pembakaran lemak. Terjadi perbaikan sel yang signifikan, peradangan berkurang, dan sensitivitas insulin meningkat. Hormon pertumbuhan naik, sehingga otot lebih terjaga dan lemak terbakar lebih banyak.
- 36 jam: Autophagy mencapai puncaknya, mendorong regenerasi jaringan dan meningkatkan metabolisme.