Ekspedisi TNI AD Ungkap Populasi 19 Macan Tutul Jawa dan Kumbang di Pegunungan Sanggabuana
Keberadaan satwa langka kembali terungkap melalui kerja sama konservasi antara TNI Angkatan Darat (AD) dan Sanggabuana Conservation Foundation (SCF).
Melalui pemasangan kamera jebak, tim ekspedisi berhasil mendokumentasikan 19 individu Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas) dan macan kumbang, termasuk dua anakan.
Hasil ini menjadi kabar baik sekaligus tantangan baru dalam upaya menjaga kelestarian keanekaragaman hayati di Jawa Barat.
Ekspedisi Macan Tutul Jawa dimulai pada Februari 2025 oleh Menlatpur Kostrad bekerja sama dengan SCF, setelah dilepas langsung oleh Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak.
Sebanyak 40 kamera jebak dipasang di berbagai titik strategis di Pegunungan Sanggabuana. Hingga Agustus 2025, ribuan foto dan video terkumpul, memungkinkan tim untuk mengidentifikasi pola tutul unik yang dimiliki tiap individu macan tutul, layaknya sidik jari manusia.
Koordinator Tim Survei SCF, Bernard T. Wahyu Wiryanta, menjelaskan bahwa hasil survei mencatat 14 macan tutul biasa dan 5 macan kumbang.
Dari jumlah tersebut, terdapat 17 ekor dewasa dan 2 anak. Berdasarkan jenis kelamin, populasi terdiri dari 11 betina macan tutul, 3 jantan, serta 3 betina dan 2 jantan macan kumbang.
Bahkan, salah satu kamera jebak merekam momen langka: induk macan kumbang berjalan bersama dua anaknya, yang masing-masing memiliki pola warna berbeda—satu tutul dan satu kumbang.
Apa arti penting temuan ini?
Macan Tutul Jawa terekam kamera jebak yang dipasang Tim Ekspedisi Macan Tutul TNI AD di Pegunungan Sanggabuana, Karawang, Jawa Barat.
Menurut Bernard, data ini tidak hanya mencatat jumlah individu, tetapi juga memetakan preferensi pakan dan ancaman yang dihadapi satwa.
"Dengan adanya survei populasi ini, selain mendapat data individu Macan Tutul Jawa, juga dilakukan mitigasi ancaman dan pemetaan preferensi pakan," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa hasil survei bisa menjadi dasar untuk mendorong perubahan fungsi hutan Sanggabuana menjadi kawasan konservasi.
"Data ini akan menjadi dasar penting dalam usulan perubahan fungsi hutan Sanggabuana menjadi kawasan konservasi, sehingga ada kepastian hukum terhadap status hutan dan upaya perlindungan keanekaragaman hayati dapat lebih maksimal," kata Bernard.
Bagaimana peran TNI AD dalam konservasi?
Tim Ekspedisi Macan Tutul TNI AD di Pegunungan Sanggabuana, Karawang, Jawa Barat.
Keikutsertaan prajurit Menlatpur Kostrad dalam ekspedisi ini tidak sekadar simbolis. Mereka berperan aktif dalam penelitian, patroli anti-perburuan, serta menjaga agar latihan militer tidak mengganggu habitat satwa.
"Terbukti, hingga kini, kehadiran prajurit mampu menekan angka perburuan satwa dilindungi secara signifikan di kawasan Sanggabuana," ujar Bernard.
Kasad Jenderal TNI Maruli Simanjuntak menegaskan bahwa program konservasi ini merupakan bagian dari komitmen TNI AD melalui program “Bersatu Dengan Alam.” Menurutnya, pelestarian hutan lindung adalah tanggung jawab bersama untuk generasi mendatang.
"Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, kita memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga keanekaragaman hayati demi kelangsungan hidup generasi mendatang. TNI AD akan terus mendukung kegiatan pelestarian hutan lindung seperti ini," tegas Maruli.
Selain macan tutul, kamera jebak juga menangkap keberadaan satwa langka lain seperti elang jawa, kucing hutan, trenggiling, hingga surili.
Sebagian artikel ini telah tayang di dengan judul "19 Macan Tutul Jawa dan Macan Kumbang Terekam di Hutan Sanggabuana Karawang".
Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.