Warga Bandung Berhasil Amankan Macan Tutul, BBKSDA Bawa ke Konservasi Cikembulan Garut

BBKSDA Jawa Barat, BBKSDA Jabar, Warga Bandung Berhasil Amankan Macan Tutul, BBKSDA Bawa ke Konservasi Cikembulan Garut, Mengapa macan tutul dievakuasi ke lembaga konservasi?, Bagaimana peran masyarakat dalam proses pengamanan?, Bagaimana kronologi penemuan macan tutul di permukiman?, Apakah ada warga yang menjadi korban?

 Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat mengevakuasi seekor macan tutul yang masuk ke permukiman warga di Desa Maruyung, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung.

Satwa dilindungi tersebut berhasil diamankan pada Kamis siang dan langsung dibawa ke Lembaga Konservasi Cikembulan, Garut, untuk menjalani pemeriksaan kesehatan serta penanganan awal.

Langkah evakuasi ini dilakukan sebagai upaya memastikan keselamatan warga sekaligus menjaga kelestarian satwa liar yang dilindungi undang-undang.

Keberadaan macan tutul di kawasan permukiman sempat menimbulkan kekhawatiran, namun proses pengamanan berjalan kondusif berkat koordinasi lintas pihak.

Mengapa macan tutul dievakuasi ke lembaga konservasi?

Kepala Seksi Konservasi Wilayah V BBKSDA Jawa Barat Vitriana Yulalita mengatakan, setelah macan tutul berhasil diamankan, pihaknya segera melakukan serah terima bersama masyarakat dan aparat setempat.

Selanjutnya, satwa tersebut dibawa ke Lembaga Konservasi Cikembulan untuk memastikan kondisinya secara menyeluruh.

“Saat ini macan tutul akan kita tangani dan dibawa ke Lembaga Konservasi Cikembulan di Garut untuk dilakukan pemeriksaan kesehatan dan penanganan awal,” kata Vitriana di Bandung, Kamis (5/2/2026) dikutip dari Antara.

Ia menjelaskan, fokus utama BBKSDA Jabar adalah memastikan macan tutul tidak mengalami gangguan fisik maupun stres berat akibat berada di lingkungan manusia.

Pemeriksaan ini penting untuk menentukan langkah konservasi selanjutnya, termasuk kemungkinan rehabilitasi.

BBKSDA Jawa Barat, BBKSDA Jabar, Warga Bandung Berhasil Amankan Macan Tutul, BBKSDA Bawa ke Konservasi Cikembulan Garut, Mengapa macan tutul dievakuasi ke lembaga konservasi?, Bagaimana peran masyarakat dalam proses pengamanan?, Bagaimana kronologi penemuan macan tutul di permukiman?, Apakah ada warga yang menjadi korban?

Seekor macan tutul (Panthera pardus melas) masuk ke kawasan permukiman warga di Desa Maruyung, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (5/2/2026) pagi. Peristiwa ini mengakibatkan dua warga mengalami luka-luka akibat serangan satwa karnivora tersebut.

Bagaimana peran masyarakat dalam proses pengamanan?

Vitriana mengapresiasi sikap warga Desa Maruyung yang dinilai bijak dan memiliki kesadaran tinggi terhadap perlindungan satwa. Menurutnya, masyarakat tidak melakukan tindakan yang membahayakan macan tutul tersebut.

“Alhamdulillah, masyarakat sudah paham bahwa macan tutul adalah satwa dilindungi, sehingga penanganan dilakukan dengan baik dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya.

Kesadaran masyarakat ini menjadi faktor penting keberhasilan evakuasi, mengingat konflik antara manusia dan satwa liar kerap berujung pada kematian hewan akibat tindakan anarkistis.

Bagaimana kronologi penemuan macan tutul di permukiman?

Kapolsek Pacet AKP Asep Mulia menjelaskan bahwa operasi pengamanan bermula dari laporan warga yang melihat macan tutul berkeliaran di lingkungan permukiman.

Menindaklanjuti laporan tersebut, kepolisian segera melakukan koordinasi dengan berbagai pihak.

“Kami bersama-sama dengan stakeholder, mulai dari Satpol PP, pemadam kebakaran, hingga berkoordinasi dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam menuju lokasi kejadian,” ujar Asep di Mapolsek Pacet, Kamis (5/2/2026).

Setelah berhasil diamankan di lokasi, macan tutul tersebut dibawa ke Markas Polsek Pacet sebagai langkah pengamanan awal sebelum diserahterimakan kepada BBKSDA Jawa Barat.

Apakah ada warga yang menjadi korban?

Terkait isu adanya warga yang terluka akibat kemunculan macan tutul, AKP Asep Mulia menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada laporan resmi mengenai korban luka.

“Sampai saat ini belum ada laporan (warga luka). Namun demikian, kami akan tetap mencari informasi lebih lanjut di lapangan,” katanya.

Ia juga memberikan apresiasi kepada warga Desa Maruyung yang dinilai tidak panik berlebihan dan tetap mematuhi hukum dengan tidak melukai atau membunuh satwa yang dilindungi tersebut.

Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "".

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang