Rupiah Melemah Usai Menkeu Sebut Kebijakan Fiskal-Moneter Bikin Ekonomi RI Melambat
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup menguat pada perdagangan hari ini.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 16.391 per Jumat, 12 September 2025. Posisi rupiah itu tercatat menguat 77 poin, dari kurs sebelumnya di level Rp 16.468 pada perdagangan Kamis, 11 September 2025.
Sementara perdagangan di pasar spot pada Senin, 15 September 2025 hingga pukul 09.15 WIB, rupiah ditransaksikan di level Rp 16.398 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 22 poin atau 0,14 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 16.376 per dollar AS.
Ilustrasi Uang Rupiah
Pengamat Pasar Uang, Ibrahim mengatakan, Purbaya Yudhi Sadewa kembali mengkritik kebijakan fiskal dari Menkeu sebelumnya, hingga moneter dari Bank Indonesia (BI) yang berkontribusi terhadap melambatnya pertumbuhan ekonomi.
Perlambatan disebabkan oleh besarnya dana pemerintah yang berasal dari penerimaan negara, yang hanya diendapkan di bank sentral dimana nilainya pernah menyentuh Rp 800 triliun.
Minimnya uang yang beredar beberapa waktu belakangan membuat otoritas fiskal maupun moneter berdosa, karena memicu kecilnya pertumbuhan ekonomi khususnya saat pemerintahan Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi).
Sementara, BPS mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025 sebesar 5,12 persen secara year-on-year (yoy) dari kuartal II-2024. Pada kuartal sebelumnya yakni kuartal I-2025, pertumbuhan lebih kecil yakni 4,87 persen (yoy).
Selain itu, langkah BI menerbitkan instrumen utang seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) justru turut mendorong perbankan ramai-ramai menaruh dananya pada instrumen tersebut, dan bukan menyalurkan kredit untuk sektor riil sehingga ekonomi melambat yang berdampak terhadap daya beli menurun.
Dari sisi fiskal, minimnya uang beredar di sistem perekonomian disebabkan karena belanja pemerintah yang lambat. Dana yang dihimpun dari utang hingga pemungutan pajak, disebut hanya parkir di BI.
Karenanya, agar ekonomi kembali menggeliat, maka sebagian dana yang disimpan pemerintah di BI yak i sebesar Rp 200 triliun, akan disalurkan ke enam himbara yakni Mandiri, BNI, BRI, BTN, BSI dan BSN. Dana itu akan efektif berada di himbara dengan harapan disalurkan untuk kredit kepada sektor riil.
"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp 16.320 - Rp 16.380," ujarnya.