Akselerasi Ekspor dan Hilirisasi Dorong Ekonomi RI, Inflasi Tinggi Jadi Sorotan
Prasasti Center for Policy Studies membaca potret ekonomi Indonesia saat ini ini sebagai perkembangan yang cukup positif di sisi produksi dan ekspor, namun menyisakan sejumlah titik kerawanan yang menuntut kewaspadaan. Khususnya pada periode yang sama, inflasi Mei 2026 kembali menanjak ke 3,08% secara tahunan (dari 2,42% pada April), menembus batas 3% menjadi perhatian.
Board of Experts Prasasti, Halim Alamsyah yang pernah menjabat sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (2010–2015) dan Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) (2012–2015) melihat kenaikan ekspor ini selain tidak lepas dari pengaruh depresiasi rupiah juga menunjukkan terdapatnya respons positif dari produksi olahan manufaktur dan barang yang terkait dengan program hilirisasi. Kecenderungan naiknya tekanan inflasi serta menipisnya surplus dagang adalah sinyal yang perlu dicermati dan ditangani secara cepat dan tepat.
“Akselerasi ekspor pada April yang melonjak hampir 22%, dan kenaikan ekspor nikel olahan ke Tiongkok hingga 73%, adalah kabar yang layak disyukuri. Ini bukti hilirisasi mampu meningkatkan nilai tambah di dalam negeri dan kita harapkan juga menambah pasokan devisa justru ketika surplus dagang kita sedang menipis," ujar Halim dikutip dari keterangannya, Sabtu, 6 Juni 2026.
Prasasti juga melihat bahwa Pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia merupakan langkah strategis yang baik untuk terus mendorong ekspor dan memupuk devisa negara. "Namun hal itu tentu memerlukan langkah lanjutan yang cepat dan tepat agar kita tidak kehilangan arah dan momentum perbaikan kondisi ekonomi kita dewasa ini,” urai Halim.
Diketahui bahwa, Di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja ekspor Indonesia yang cukup menggembirakan. Walaupun tekanan inflasi juga cenderung meningkat dan nilai tukar rupiah melemah, Prasasti melihat adanya kesempatan bagi ekspor untuk terus tumbuh meskipun diiringi pula oleh tantangan yang memerlukan penanganan dengan cepat dan tepat.
Halim Alamsyah.
Rilis Indikator Ekonomi yang diterbitkan BPS mencatat ekspor sepanjang Januari–April 2026 mencapai US$92,15 miliar, tumbuh 5,48% secara tahunan (year-on-year), dengan lonjakan tajam pada April hingga 21,98%. Banyak kenaikan tajam tersebut ditopang oleh produk ekspor industri pengolahan (+29,07%) serta produk hilirisasi seperti nikel olahan ke Tiongkok (+73,6%) dan CPO (+20,4%).
Halim juga menilai kenaikan tekanan inflasi selain bersumber dari kelangkaan beberapa pasokan akibat perang Iran vs USA dan komponen volatile foods, juga tidak dapat dilepaskan dari depresiasi rupiah akhir-akhir ini. Oleh karena itu pengendalian nilai tukar dan inflasi menuntut perhatian yang lebih cermat mengingat ruang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi akan menjadi lebih sempit dan memerlukan koordinasi yang lebih ketat antara otoritas kebijakan moneter dan keuangan serta fiskal.
Dia menjelaskan, strategi pemerintah untuk terus mendorong kegiatan ekonomi akan diuji oleh pasar dengan kemampuan pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah dan inflasi. Langkah-langkah untuk meningkatkan pasokan valas di dalam negeri dan koordinasi kebijakan makroekonomi untuk menjaga fundamental ekonomi Indonesia dilihat oleh pelaku ekonomi sebagai suatu hal yang amat kritikal di tengah ketidakpastian ekonomi (economic uncertainty) yang tinggi dewasa ini. Jangan sampai langkah-langkah yang diambil justru menambah ketidakpastian itu sendiri.
"Bagi pelaku ekonomi, kredibilitas kebijakan menuntut adanya kejelasan sasaran, insentif yang terarah, serta pelaksanaan yang konsisten” papar Halim.
Sementara itu, Policy and Program Director Prasasti, Piter Abdullah melengkapi pandangan itu dari sisi mekanisme harga dan denyut aktivitas ekonomi. Menurutnya, meski inflasi naik dan perlu diperhatikan, karakternya tidak mencerminkan ekonomi yang kepanasan.
“Kalau kita bedah, pendorong inflasi kita itu volatile food seperti cabai merah, tomat, dan bawang merah. Karakternya musiman, terkait pasokan dan cuaca, bukan karena permintaan domestik yang membludak. Inflasi inti kita sendiri tetap rendah. Jadi tekanan harga yang sekarang muncul sifatnya sementara, bukan struktural,” jelas Piter.
Data BPS menempatkan cabai merah (naik 25,64%), tomat (9,82%), dan bawang merah (6,65%) sebagai pendorong utama. Piter juga menilai langkah pemerintah menahan harga bahan bakar bersubsidi turut meredam tekanan harga.Dari sisi perdagangan, tercatat impor bahan baku/penolong naik 24,56% secara tahunan pada April. Piter membaca lonjakan impor bahan baku dan barang modal bukan sebagai beban, melainkan sinyal yang menggembirakan.
“Kalau yang naik itu impor bahan baku dan barang modal, itu sebenarnya kabar baik. Bahan baku dan mesin diimpor karena pengusaha sedang bersiap berproduksi, dan mereka berproduksi karena membaca ada permintaan di depan. Jadi mengecilnya surplus ini memang bukan kondisi ideal, tapi penyebabnya bukan hal yang menakutkan. Ini bukan ekonomi yang melemah melainkan ekonomi yang sedang bergerak,” ujar Piter.
Soal nilai tukar, Piter menegaskan tekanan terhadap rupiah tidak bisa dilekatkan pada satu sebab tunggal, namun ada satu faktor yang paling menonjol. “Faktornya sudah campur aduk, tidak bisa kita tunjuk satu saja. Tapi yang menurut saya paling besar pengaruhnya sekarang adalah mulai tergerusnya kepercayaan terhadap rupiah. Begitu sentimen terbentuk, permintaan terhadap dolar membesar. Bahkan orang yang sebenarnya tidak butuh dolar pun ikut membeli. Unsur spekulasi dan psikologis inilah yang justru memperdalam pelemahan rupiah melebihi yang bisa dijelaskan oleh fundamentalnya sendiri,” jelas Piter.
Pada akhirnya, Piter memandang rilis BPS kali ini sebagai potret ekonomi yang secara keseluruhan masih relatif baik, namun belum sepenuhnya seimbang. Akselerasi ekspor dan hilirisasi yang membuahkan hasil adalah modal yang layak diapresiasi, tetapi inflasi yang kembali menanjak, surplus dagang yang menyusut, dan defisit migas yang melebar mengingatkan bahwa sejumlah fondasi masih perlu dijaga. Yang dibutuhkan ke depan adalah konsistensi kebijakan serta sinkronisasi antara fiskal dan moneter agar perbaikan di sisi ekspor benar-benar menular ke kepercayaan terhadap arah ekonomi nasional secara keseluruhan.