Memakai Topeng dalam Pergaulan Sosial, Wajarkah?
Apakah kamu pernah merasa seperti “memakai topeng” saat berada di kantor, atau ketika menghadiri acara keluarga bersama kerabat jauh?
Dalam psikologi, masking atau bertopeng merujuk pada usaha menyembunyikan atau menekan pikiran, perasaan, maupun perilaku tertentu agar sesuai dengan situasi sosial yang berbeda.
Menurut psikolog klinis Tiffany Hodges, perilaku ini kerap ditemukan pada individu dalam spektrum autisme atau yang neurodivergen, namun sebenarnya siapa pun bisa melakukannya.
“Sering kali bertopeng muncul karena keinginan untuk menyesuaikan diri, menghindari penilaian, atau akibat pengalaman masa lalu yang kurang menyenangkan,” jelas Hodges.
“Tujuan umumnya adalah untuk mendapatkan penerimaan, meski terkadang sulit dibedakan apakah seseorang menutupi diri hanya demi terlihat ‘normal’.”
Contohnya, seseorang mungkin berusaha menutupi kebiasaan tidak melakukan kontak mata, atau kecenderungan terlalu fokus pada satu topik dalam percakapan. Alih-alih menampilkan perilaku alaminya, ia memilih mengikuti norma sosial yang lebih umum agar bisa diterima lingkungan.
"Banyak orang memakai topeng tanpa menyadarinya, dan ini sering kali dimulai sejak masa kanak-kanak, ketika kita belajar mengikuti 'aturan sosial' seperti melakukan kontak mata atau duduk diam, meskipun terasa tidak nyaman," kata Alisha Simpson-Watt, seorang pekerja sosial klinis berlisensi dan pendiri Collaborative ABA Services, LLC.
Seiring waktu, memakai topeng sudah menjadi kebiasaan sehingga terasa seperti seharusnya.
Ketahui apa saja tanda kamu sering "bertopeng":
- Merasa selalu tampil memukau dalam situasi sosial
Orang yang "masking" sering kali merasa seperti sedang berpura-pura setiap kali berada di sekitar orang yang tidak mereka kenal dekat atau orang yang membuat mereka tidak nyaman.
“Mereka merasa bahwa berinteraksi itu seperti 'pertunjukan' karena mereka harus bertindak sebagai orang yang seharusnya mereka perankan, bukan sebagai orang yang sebenarnya,” kata Karim J. Torres Sanchez, seorang psikolog klinis berlisensi di LBee Health.
- Meniru bahasa tubuh orang lain
Jika kamu menyadari diri sering meniru bahasa tubuh orang lain, misalnya tone suara atau ekspresi wajah, selama interaksi sosial, maka mungkin sebenarnya kamu sedang menutupi jati diri.
- Menahan perilaku stimming
Stimming merujuk pada serangkaian tindakan yang dilakukan seseorang sebagai mekanisme koping ketika merasa cemas, sedih, bersemangat, atau emosi lainnya. Beberapa jenis stim umum termasuk menggerak-gerakkan tangan, mengetuk-ngetuk, atau mengayun.
"Jika kamu menahan diri agar tidak melakukan perilaku stimming (seperti mengayun, mengetuk, atau gelisah) bahkan ketika itu tidak nyaman, kamu mungkin tanpa sadar melakukan masking," kata Simpson-Watt.
- Latihan percakapan sebelum terjadi
Bagi banyak orang, percakapan dan basa-basi cenderung terasa alami. Namun, bagi mereka yang menggunakan topeng, hal ini mungkin membutuhkan persiapan dan upaya lebih.
"Orang dewasa yang menggunakan topeng sering kali mempersiapkan dan melatih percakapan yang akan dilakukan dalam interaksi sosial, alih-alih mengatakan apa yang terasa alami bagi mereka," kata Julie Landry, psikolog klinis bersertifikat.
- Sulit untuk rileks, bahkan saat sendirian
Menggunakan topeng sepanjang waktu dapat benar-benar menguras energi, bahkan setelah interaksi selesai.
“Coba pikirkan: seseorang dengan perbedaan dalam bersosialisasi mungkin memantau gerakan tubuh, kontak mata, volume suara, ekspresi wajah, respons orang lain, serta menentukan reaksi yang tepat terhadap orang lain,” kata Rae Lacanlale, seorang terapis asosiasi pernikahan dan keluarga.
Pengaruh negatif dalam jangka panjang
Memakai topeng terkadang dapat membuat situasi sosial terasa lebih mudah, memberikan rasa memiliki sementara, dan bahkan membantu seseorang mempelajari keterampilan sosial dalam jangka pendek. Namun, hal itu dapat menyebabkan masalah jangka panjang.
"Memakai topeng dapat menyebabkan kecemasan, depresi, dan kelelahan akibat upaya terus-menerus untuk terlihat 'normal'," kata Simpson-Watt.
Dalam jangka panjang, ini akan menurunkan harga diri dan menciptakan rasa kelelahan yang mendalam atau tantangan kesehatan mental lainnya.
Pada akhirnya, diri kita yang autentik adalah versi terbaik yang bisa kita berikan untuk sekitar.
Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.