Kerusakan Sel akibat Rokok Terjadi Perlahan tapi Fatal

Kerusakan Sel akibat Rokok Terjadi Perlahan tapi Fatal

Banyak perokok merasa tubuhnya baik-baik saja meski sudah bertahun-tahun mengonsumsi rokok. Tidak sedikit pula yang menjadikan kondisi tersebut sebagai alasan untuk terus merokok karena merasa belum mengalami gangguan kesehatan yang berarti.

Dokter menjelaskan bahwa kerusakan tubuh akibat paparan rokok berlangsung lambat dan bertahun-tahun. Salah satunya adalah gangguan regenerasi sel karena kemampuan darah membawa oksigen ke seluruh tubuh rusak.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dr. Febtusia Puspitasari, Sp.JP, FIHA, FAsCC menjelaskan bahwa sel darah merah bertugas mengangkut oksigen. Namun, ketika seseorang merokok, proses tersebut dapat terganggu.

sel harus mengganti sel yang rusak menjadi sel-sel yang baru. Oksigen itu adalah bahan bakarnya. Nah, kalau dia merokok, maka sel darah merah itu tidak mengangkut oksigen, tapi dibajak sama karbon monoksida, karbon dioksida, nikotin," papar dr. Febtusia dalam sesi edukasi media yang digelar oleh Daewoong Pharmaceutical Indonesia dan PERKI di Noble House, Jakarta pada Selasa (09/06).

Dalam jangka panjang, kerusakan pada jaringan tubuh pun dapat terus menumpuk.

Kerusakan terjadi perlahan tanpa disadari

Kerusakan Sel akibat Rokok Terjadi Perlahan tapi Fatal

Ilustrasi rokok. BPOM menyebut akses terhadap terapi pengganti nikotin yang aman dapat mendukung masyarakat yang ingin berhenti merokok.

Yang menjadi masalah adalah dampak tersebut tidak selalu secara langsung dirasakan oleh perokok. Inilah kondisi yang disebut oleh dr. Febtusia sebagai efek masking atau efek yang menutupi gejala kerusakan yang sebenarnya sedang berlangsung di dalam tubuh.

Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti sedang berada dalam pengaruh obat bius ketika menjalani prosedur operasi. Meski tubuh sedang mengalami tindakan medis yang melibatkan proses bedah tubuh, seseorang tidak merasakan nyeri karena sensasinya tertutupi sementara.

"Efek dari nikotin dan segala macam itu ada masking, dia menutupi dan mengurangi rasa nyeri. Sehingga orang menormalisasi rasa nyeri itu," tutur dr. Febtusia.

Gejala yang tidak langsung terasa ini menyebabkan banyak orang kemudian menganggap tubuhnya baik-baik saja. Padahal, proses kerusakan pada pembuluh darah dan organ tubuh bisa tetap berlangsung.

Menurut dr. Febtusia, kondisi ini yang membuat sebagian perokok merasa tidak memiliki masalah kesehatan meski telah merokok selama bertahun-tahun.

Perasaan sehat ini tidak selalu mencerminkan kondisi tubuh yang sebenarnya. Sebagai contoh adalah penumpukan plak akibat berbagai zat kimia dalam rokok, di dinding arteri terjadi perlahan. Penumpukan plak ini dapat menyempitkan pembuluh darah tanpa gejala hingga suatu saat memicu serangan jantung atau stroke.

Berhenti merokok secara total adalah satu-satunya cara menghentikan proses ini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang