Para Legenda Rock Indonesia Bersatu dalam Manifesto Kebangsaan
Musik tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga kerap digunakan sebagai medium untuk menyampaikan gagasan, merefleksikan identitas, serta mengangkat isu-isu sosial dan budaya.
Dalam perkembangannya, sejumlah musisi memilih menjadikan tema sejarah, kebangsaan, dan warisan budaya sebagai bagian dari karya yang mereka hadirkan kepada publik.
Pendekatan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam sebuah kegiatan yang mempertemukan akademisi, pemikir, dan musisi rock di kawasan Kota Baru Parahyangan, Bandung. Acara itu menjadi ruang pertemuan antara dunia akademik dan musik dalam membahas serta menampilkan gagasan yang berkaitan dengan budaya dan identitas Indonesia.
Salah satu kelompok yang terlibat dalam kegiatan tersebut adalah MAHARYA. Grup ini beranggotakan individu dengan latar belakang akademik yang beragam, mulai dari teknologi informasi, penelitian budaya, sastra, hingga filsafat. Dalam kesempatan tersebut, mereka memperkenalkan album debut bertajuk CITRAYUDA.
Album tersebut mengangkat tema budaya, kebangsaan, dan identitas Indonesia melalui musik rock. Materi yang disajikan memadukan unsur-unsur sejarah, budaya, dan nasionalisme yang diolah menjadi sejumlah komposisi dalam album perdana mereka.
Sejak dirintis pada tahun 2018, grup ini berkembang menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan seniman, akademisi, dan musisi dalam upaya menghadirkan karya yang mengangkat tema patriotisme dan identitas nasional.
Di bawah koordinasi Satrio Angga, berbagai individu dengan latar belakang yang beragam terlibat dalam pengembangan konsep dan produksi karya grup itu.
Formasi band juga diperkuat oleh Iram U’Camp, sebagai gitaris, posisi bass, diisi oleh Trisnoize / Trisnojoyo. Sementara itu, Obot, drummer dari grup musik Zivilia.
Kolaborasi para musisi dari latar belakang dan generasi yang berbeda tersebut menjadi salah satu elemen utama dalam pembentukan karakter musikal Album tersebut.
"Peluncuran album ini tidak hanya menampilkan pertunjukan musik, tetapi juga memperkenalkan konsep dan pesan yang menjadi dasar album tersebut. Penampilan para musisi menghadirkan aransemen rock yang dipadukan dengan lirik bertema sejarah, perjuangan, dan kebangsaan," kata dia.
Lagu-lagu seperti “Sang Proklamator”, “Kartini”, “Sultan Konoha”, dan “Bima Ibu Pertiwi” mencerminkan pendekatan grup tersebut dalam mengangkat tema nasionalisme melalui format musik kontemporer.
Melalui karya-karya tersebut, grup ini berupaya menghadirkan interpretasi baru terhadap nilai-nilai kebangsaan bagi pendengar masa kini.